Setelah UAS hingga Liburan

Desember 29, 2014 Hadafi 0 Comments



Setiap kali gue buka videonya AgnezMo (bukan video porno loh) di Youtube, gue selalu termotivasi, karena apa? Karena sebelum dia tampil di depan fansnya, dia selalu memberi slogan yang mengantarkannya bisa go internasional, “DREAM, BELIEVE, And MAKE IT HAPPEN”. Slogan itu juga menjadi pengingatku untuk masa depan kelak.

Sumber gambar: Tribun Jogja

Selama ini, kalo kurang kerjaan di rumah, gue selalu membuka laptop untuk sekadar searching2 sesuatu yang gue suka. Beberapa waktu lalu gue iseng2 buat cari video ospek beberapa univ. Kalo di UGM, beberapa tahun ini menyemarakkan ospek dengan hadiah muri, maksudnya kegiatan ospeknya masuk muri. Loh kok bisa? Gue lupa tahunnya, pernah maba buat formasi kepulauan se-Indonesia, kalo kemaren kayaknya maba buat formasi lambang burung garuda. Widih keren banget, sampai dapet penghargaan muri loh?. Semoga tahun depan gue bisa jadi maba di sana, amin. Pas itu juga gue nemuin ospek univ lain yang gak kalah keren, yang bikin syahdu gue denger soundtrack video ospeknya. Lagunya itu sesuai banget dengan kontennya. Kalo gak salah judulnya itu “gone, gone, gone”. Entah apa artinya (karena gue terlalu tetot bahasa inggris), tetapi lagu itu membuat jiwa gue membara, semangat, dan mau berjuang untuk bangkit. 

Flashback ke beberapa minggu lalu, gue harus melewati hari2 memebosankan dengan kertas-kertas ujian, setelah UAS gue menghadapi TryOut dari kabupaten. Sumpah gue males banget belajar buat TryOut kedua ini. Ya karena habis UAS biasanyakan cuma leyeh2 gak jelas di sekolah, nah kalo ini!. Yaudah gue udah nentuin aja buat belajar mapel2 yang butuh banget hafalan, gue cuma belajar ekonomi tanpa akuntansi dan sosiologi aja, yang lain bodo amat. Hahaha. Semoga hasilnya tidak jauh dari harapan gue.

Kalo boleh jujur nih, sebenernya beberapa hari lalu, gue udah tulis update buat postingan gue. Tapi isinya tuh jelek2kin temen gue. Siapa hayo? Orangnya juga pernah gue sebutin di post2 sebelumnya loh? Tapi gue belum berani post, soalnya kendala izin yang belum gue ajuin ke dia. Kira2 bagusnya gimana nih, gue post aja apa gue simpen dulu? Lebih baik gue post aja kali ya? 

Ngomongin soal rapor nih, gue rada kecewa. Soalnya ada beberapa nilai gue yang salah dari perkiraan gue. Gue gak mau sombong ya, ini penjelasan aja, menurut gue kalo nilai matematika gue dihitung dengan ketentuan lulus kkm +2 ( dulu kata pak kepsek itu, kalo nilai ulangan apapun lulus kkm itu ditambah 2 point sebagai penghargaan, gitu) : 92+92+100+87+82, jadi rata2nya 91, tapi kok ini 89, memang bener sih kalo point plus 2 itu cuman hoax rata2 gue 89. Padahal menurut gue nilai matematika ini penting buat daftar SNMPTN kalo gue ambil jurusan Manajemen, tapi dibalik semua itu nilai gue udah lumayanlah. Gue tetap bersyukur kepada Allah karena telah memberikan yang terbaik buat gue. Sebenernya gue juga kasihan kepada temen2 gue yang remidial sejarah, kenapa nilai UAS sejarah itu jelek2, kalo menurut gue itu butuh ralat, tapi nyatanya gak diralat sampai sekarang. Nilai maksimal itu sekitar 5.7, aneh banget kan? 

Setelah bahas tentang rapor itu, gue mau bahas tentang liburan panjang ini (tapi tak sepanjang yang kalian bayangkan karena tanggal 29 ini gue udah masuk sekolah buat PM UAN). Hari itu sabtu ketika gue rapotan (istilah lain untuk hari dimana rapot dibagikan), nah minggunya gue dapet kabar dari Fery, sepupu gue yang baru aja sembuh dari gangguan santet, bahwa nenek gue, ibunya ibu gue sedang sakit. Capcus gue dan keluarga langsung terbang ke Kalasan buat jengukin nenek gue, doakan ya guys, semoga udah sehat. Di sana gue nginep sama ibu dan adek gue semalem. Lumayan lah dapet udara segar kawasan lain awal libur ini. 

Libur hari seninnya gue ngejalanin aktivitas yang paling berat banget. Gak semua orang bisa ngelakuin aktivitas seperti gue, yaitu tiduran di depan TV sepanjang hari. Yang terbersit pertama kali saat liburan adalah jauhkan buku dari kehidupanmu sementara. Bener aja, buku2 gue udah tertata rapi di lemari dan mungkin udah pada tidur semua. Liburan kali ini gue gak mau terganggu dengan buku2 itu.

Kalo cewek gila shopping itu wajar, tapi kalo cowok sekali-kali shopping itu gak papa kan?. Akhir tahun seperti ini banyak toko2 yang menawarkan sale2 mereka, mulai dari sale up to 70% hingga buy 1 get 1 free. Sebagai manusia yang gak pernah puas sesuai kodratnya, gue bener2 nyiapin duit buat acara beginian, walaupun cuma sekitar seratus ribuan tapi itu perjuangan banget buat gue untuk nahan jajan berminggu-minggu. Dari dulu, ibu bapak gue gak biasa ngasih gue uang buat kebutuhan kayak gini, paling2 kalo baju gue udah gak muat baru dibeliin, kalo sepatu udah jebol baru dibeliin, ya gitu2 pokoknya. Tapi itu justru baik bagi gue, soalnya gue gak berharap buat terima uang dari ortu gue. Gue juga lebih seneng dapetin barang branded (ya gak brended2 amat) dengan uang tabungan gue sendiri, lebih puas lah. Gue sangat bersyukur lah dilahirkan dari ibu gue mix bapak gue, beliau2 mendidik gue dengan baik pokoknya, gue janji bakal ngasih ini ke penerus gue kelak.

Jogja itu terkenal dengan industri clothingnya. Sepanjang Jalan Demangan, berjejer rapih distro2 anak muda yang kece2. Nah, pas akhir tahun ini banyak industri distro yang menawarkan sale up to 70%, kesempatan bagus buat yang ngincer barang2 distro. Kalo gue sih, dateng ke distro itu kalo pas ada sale aja ( setahun sekali pas akhir tahun, belinya pun satu item doang), soalnya barang2 distro itu mahal2. Tapi emang mahalnya bawa kualitas. Nah pas tahun ini gue beli kemeja yang ada motif pisangnya. Kenapa gue pilih motif pisang? Karena cuma ada sisa kemeja itu yang sizenya muat sama tubuh kurus gue ini. Hahaha.

0 komentar:

My Rusticity Friend

November 30, 2014 Hadafi 0 Comments



Jangan anggap mereka sebagai pem-bully, tapi anggap mereka sebagai orang yang peduli terhadapmu, memberi perhatian lebih kepadamu sehingga kamu bisa lebih baik.

Pagi itu, aku langsung memacu motor dengan kecepatan 60 km/jam. Tidak lain aku ingin melihat adik-adikku yang akan mengikuti LBB di Lapangan Mandalakrida, Yogyakarta. Aku khawatir tidak ada suporter Ekamas yang menonton. Sebelumnya, aku berberes kamar. Maklum sudah seminggu ini kamarku gak tersentuh oleh sapu. Bisa dibayangkan betapa bersihnya.

Seperti kebanyakan perjalanku ketika ke Jogja, tak ada orang yang menemaniku. Dengan PDnya aku datang ke sana. Yang menjadi kebiasaan, aku pasti bingung untuk memilih tempat parkir. Dengan pertimbangan, aku memutuskan untuk parkir di Gedung depan Mandala milik UGM (kalau tak salah) karena tempatnya rindang, cocok untuk motorku. “Gilakkkk!!!!, BBM naik, tarif parkir pun ikutan naik, naiknya 50% lagi, untung masih 3000. Hadeh.”

Kulangkahkan kaki menghentikan mobil untuk menyebrang. Di depan, aku langsung disambut oleh teman-teman yang sudah sampai dahulu di sana. Dengan muka datar aku membalas lambaian tangan mereka. Huh, serasa artis turun dari mobil mewah. Seperti biasa, fans-fansku langsung membully. (Biar keren, dialognya aku ubah ke bahasa Inggris, tapi maaf kalau tidak sesuai kaidah bahasa).
Ivan : “Why are you here? Today, I think that you will study with your books. Oh, I know. Because of you got the fisrt place in the first try out. Aren’t you need study?”
Aku : “You still a lier!. Before, you told me that you will fishing with your Pa. Its Jogja man? Mandalakrida. Its not a place which a lot of fish. Its not a river, Its a stadion. Rusticity !!!”
Putra : “Hush, back to your home! Still with your book! I predict that your bag contain a lot of books! Haha!”
Aku : @#$%@@$%^#^*()_)( Plak!!! )
Yah, walaupun begitu??. Masih ada orang yang peduli. Syukurlah, daripada aku di-jendelke.

            Aku cukup menikmati penampilan beberapa pleton. Agaknya aku sudah tahu hasilnya nanti. Bukannya aku pesimis, namun memang sudah terlihat jelas jika bukan Ekamas pemenangnya. Mungkin tahun berikutnya akan lebih baik dari tahun ini.

            Waktu semakin cepat saja berlalu. Tak terasa aku sudah mulai lapar. Aku langsung pamit kepada teman-teman dan pak Yeri untuk segera pulang. Namun sebelum itu, aku mampir ke sebuah warung makan untuk sekadar membeli makanan. “Hah, Gilakk, di mana-mana terjadi kenaikan harga, nasi yang biasanya seharga 7000, naik 25%. Semoga berat badanku juga gak ikut naik seperti harga-harga itu. Haha”  Langsung deh kantongku kempes.

0 komentar:

Apa yang Terjadi pada Menit Berikutnya?

November 17, 2014 Hadafi 0 Comments



Aku tidak bangga jika dapat mengalahkan satu orang musuh dengan seribu butir peluru. Aku akan jauh lebih bangga jika berhasil mengalahkan seribu orang musuh hanya dengan satu butir peluru.

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa Hadafi nge-post terlalu sering? Bukan, hari ini aku sangat senang. Aku bersyukur kepada Alllah sekaligus berterimakasih kepada orang-orang yang selalu mendukungku, men-support usahaku, dan mendoakanku. Berkat kalian, aku bisa sedikit bernapas lega melihat hasil try out pertama. Semoga kalian selalu seperti itu.

Setiap kali aku mendapati surat yang berisi nilai, aku selalu berdebar untuk membukanya. Tak ada yang istimewa kok dengan surat itu. Bahasanya saja juga standar. Aku mungkin pernah bermimpi untuk menggeser posisi Anggit, salah satu siswa berpretasi di SMAku tapi kepandaiannya sebelasduabelas sama aku, amin, namun untuk detik ini belum ada usaha keras untuk mewujudkan mimpi itu. Rasanya masih sulit untuk mewujudkannya. Dan baru pertama kalinya juga, aku berhasil menggeser posisi Anggit dengan hasil try out ini. Aku serasa bermimpi mendapati nilaiku ini. Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi. Wow, rasanya itu tak bisa diceritakan dalam kata-kata, hanya bisa dipahami lewat hati. Hadeh.

Tak dipungkiri ini hanya try out biasa yang aku sendiri tidak membanggakannya. Ini hanya awal bagi langkahku selanjutnya. Pada menit pertama aku bisa tersenyum, tapi pada menit berikutnya aku tak mungkin bisa tersenyum lagi. Masih banyak materi-materi UN yang belum aku kuasai.  Aku tidak akan pernah terlena dengan hasil ini dan aku akan bisa lebih dari pencapaianku sekarang ini. It’s the beginning, not the end (bener gak ya tulisannya).

“Bagaimana sulitnya mempertahankan prestasi daripada mencapainya?” Itu menjadi masalahku saat ini. Aku harus mempertahankan ini mati-matian. Harus. “Ini artinya aku harus lebih giat belajar? Oh, God?”.

Dari hal yang aku alami ini, aku ingin men-share kepada kalian. Bahwasannya setiap orang itu boleh bermimpi, sekali pun mimpi  itu gila dan hanya mendapatkan tawa dari orang lain. Aku sendiri tidak peduli dengan orang-orang yang mentertawakan mimpi-mimpiku, karena aku percaya pasti mimpiku akan terwujud. Aku juga tidak akan pernah takut mimpi itu tak terwujud karena aku akan terus bangkit untuk mewujudkan mimpi itu. Aku telah membuktikan hal itu melalui apa yang aku dapat hari ini. So, untuk orang-orang yang berani bermimpi, teruslah giat untuk mewujudkan mimpi itu.

0 komentar:

Apa? Lilin Kecil?

November 15, 2014 Hadafi 0 Comments



Selama benang merah masih mengikat paragraf pembuka hingga ke kesimpulan, itulah teman, tapi ketika ada sisipan paragraf sumbang dalam isinya, masihkah kita menyebutnya sebagai teman?

Hari terakhir try out pertamaku ini diakhiri oleh hujan deras sepanjang jalan. Tak heran jika celana putihku penuh dengan bercak kecoklatan. Bicara tentang postingan sebelumnya, aku memakai kata “gue”, tapi sekarang karena ada masukan dari fans, aku ubah. Semoga perubahan ini membawa efek baik bagi blogku.

Malam minggu yang seperti biasa, tak mungkin ada deringan pesan yang berisi pertanyaan “kamu lagi apa?” dari seorang pun. Tapi aku merasa sangat butuh malam ini untuk menuangkan ide-ide yang membludak di kepala agar jadi tulisan. Atau hanya sekedar memainkan remote TV untuk mencari saluran yang menarik untuk di tonton. Yang jelas bukan belajar seperti temanku kebanyakan. 

Flashback dari apa yang sudah aku pelajari mengenai makna gurindam, salah satu jenis puisi lama, aku menjadi mengetahui betapa cerdasnya orang dahulu dalam memberi nasihat bagi generasi muda. Aku lupa bunyi baitnya, namun aku ingat mengenai apa makna yang terkandung di dalamnya. Pada bait gurindam itu dijelaskan bahwa jika kita ingin mengeluarkan kata untuk bicara, sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri. Belum lama aku mendengar lewat telingaku sendiri, api tentang diriku dari orang lain. Mungkin ini hanya sebuah candaan belaka, namun jika aku menelaahnya lebih jauh aku sadar jika dia tak lebih dari orang-orang yang pernah meremehkanku. Awalnya aku anggap ini sebagai candaan, kemudian aku tidak bisa melupakannya, hingga akhirnya aku mengaggap itu sebuah motivasi yang baik. Dari situ aku bisa belajar, betapa tidak enaknya menjadi korban dari sebuah perkataan. So, untuk teman-teman, aku berpesan agar selalu hati-hati dalam berkata.

Atmosfer belajarku kian hari kian meningkat. Semoga ini menjadi angin segar agar aku secepatnya dapat berlayar ke pulau sebrang. Beberapa hari ini aku berpikir masalah perguruan tinggi yang nantinya akan aku jadikan pijakan. Aku semakin galau untuk menentukan arah perjalanan hidup ini. Aku berharap ada lilin-lilin kecil yang mau membantuku menerangi jalanku nanti. Ah, betapa puitisnya.


0 komentar:

Tisu,Mana Tisu?

November 06, 2014 Hadafi 0 Comments



Bukan “Sedia Payung Sebelum Hujan”, tapi sedia tisu sebelum kebablasan. 

Pagi ini gue harus mempersiapkan mental gue berlebih agar mampu menghadapi acara motivasi dari sekolah. Sejujurnya gue gak suka dengan acara beginian, namun karena sifatnya wajib apa boleh buat. Menurut gue motivasi terbesar hanya datang pada diri gue sendiri, bukan lewat orang lain. Bukannya sombong,  gue udah punya seabrek motivator yang sangat memotivasi gue yang gak perlu gue ungkapin satu-satu.

Acara ini dimulai dari sambutan pak kepsek, kemudian dilanjutin oleh motivator terkenal yang gue pasti lupa namanya. Yang gue duga dan sudah gue kira bakalan ada acara nangis-nangis gitu. Mungkin banyak yang mengatakan itu suatu hal yang lebay, namun menurut gue itu masih dalam porsi kewajaran. Karena kalo emang beneran nagis berarti datangnya dari hati, tulus, tapi kalo pura-pura ya cuma cari sensasi aja biar ada yang merhatiin.

Sekitar duapuluh menit terakhir, sang motivator men-set lagu melow. Kita semua memejamkan mata dan menundukkan kepala. Di samping gue ada Ivan, gue pikir dia adalah cowok strong. Tapi ternyata dia juga ikutan nangis-nangis.  Karena duduknya berdempetan sama gue, gue merasakan dia nangis tersedu-sedu. Sebenarnya gue juga ngakak dalam hati, tapi gak lucu kan kalo gue ketawa ditengah-tengah acara. 

Lanjut ke Imron temen gue. Gue pikir dialah winnernya diantara kami. Terdengar tangisan tersedu-sedu disertai erangan agak keras. Saat itu gue mikir, dia akting lebay atau emang beneran nangis. Kalo itu akting, gue saranin deh sama dia buat ikutan casting film, siapa tau direkomendasi jadi aktor protagonisnya yang akting cuma nangis mlulu. Tapi kalo itu sebaliknya, perlu dipertanyakan sih. Maksud gue emang masih ada cowok melankolis? 

Kalo gue sendiri biasa aja. Gue pernah berpikir, apa untungnya sih nangis-nangis gituan? Lebih baik gue senyumin aja kan lebih berpahala. Memang dengan menangis kita akan menyadari realitas yang ada, tapi karena itulah kita kan jadi teringat terus dengan hal tersebut. Jika motivator mengurai masalah kesalahan gue, gue seharusnya bukan menangis, tapi justru gue harus bangkit buat nyelesain masalah itu, ya langkah pertama gue adalah mengakui kesalahan itu dengan senyuman gue.

Namun tetep pada akhir acara itu gue harus tatap  muka sama ibu gue. Sontak gue langsung meneteskan air mata gue. Gue paling gak tahan kalo liat ibu gue. Mbayangin kerjaan dia, wah pokoknya super women banget.

Setelah acara ini, bisa dibayangkan, tisu pada berserakan di lantai, ditambah lagi dengan basah-basah dari air mata siswa. Ada juga lho basah dari iler siswa yang tertidur. Haha. Semoga aja acara ini menjadikan gue lebih termotivasi.

0 komentar: