Customer Service dan Puasa
Ini hari
terakhir bulan puasa, artinya besok saya kembali ke Fitri. Haha. Selama 28 hari
yang lalu, orang bilang jika saya sedang latihan bersabar. Yakin berlatih
bersabar? Aku rasa kesabaranku belum terlatih di sini. Sabar? Apa sih sabar?
Sabar bukanlah nama
ayah dari teman kamu, mungkin ada, cuma, kita di sini tak akan membahasnya.
Takut dosa, soalnya masih dalam range waktu berpuasa. Dilansir dari laman
wikipedia, sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan
dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Intinya, sabar merupakan kemampuan
pengendalian emosi dari dalam diri.
Sabar merupakan
kunci dari pengendalian diri. Dalam keadaan terdesak dan penuh kekhawatiran
sekalipun, sabar dibutuhkan. Puasa yang notabene dikenal melatih kesabaran
agaknya benar halnya. Situasi sulit (lapar dan haus) harus ditahan dari subuh
hingga magrib. Tak boleh satu kata pun berisi keluhan terhadap kondisi saat
itu. Ketika kita bisa manahan situasi sulit dan tidak mengeluh artinya kita
sudah bisa sabar. Yakin semudah itu?
Pernahkan kamu
berhadapan dengan seorang Customer
Service? Mungkin ketika kamu menanyakan kerusakan ponsel di gerai service
atau sedang order di online shop. Pastinya kamu akan menjumpai CS di
tempat-tempat tersebut. Bagaimana impresi pertamamu terhadap mereka? Cantik?
Ganteng? Judes? Ramah?
Berdasarkan ilmu
yang aku pelajari, seorang CS merupakan orang yang ramah dan supel. Perusahaan
seharusnya menempatkan karyawan pada posisi tersebut menyesuaikan kriteria-kriteria
itu. Hal ini dilakukan demi menjaga kepuasan konsumen. Teknik marketing di era
sekarang lebih menekankan pada kepuasan konsumen bukan melulu soal banyaknya
hasil penjualan. Lihat saja perusahaan Apple, konsumen Apple dikenal sebagai
konsumen yang loyal. Kepuasan pengguna Apple terletak pada produknya yang
sangat reliabel dan awet. Namun, masih ada perusahaan yang tidak mengikuti
perkembangan era. Mereka memakai teknik marketing jadul.
Berinteraksi
dengan CS dan menjadi seorang CS bukanlah perkara yang mudah. Dari sisi
customer, berinteraksi dengan CS bisa menjadi pengalaman yang buruk, apalagi
jika yang dihadapi merupakan CS judes, ditambah pengetahuan tentang produk/jasa
cetek. Menyebalkan sekali bukan? Di sisi lain, menjadi seorang CS juga bukan
perkara mudah. Mereka setiap hari harus menghadapi pelanggan yang komplain gak
jelas atau terlalu lama menerima penjelasan yang simple. Haduhhhh.. Ujian
kesabaran betulan. Selain tekanan dari customer yang multikarakter, tuntutan dari atasan juga
tinggi mengingat CS membawa nama baik perusahaan.
Puasa
dan menjadi/berinteraksi dengan CS sama-sama melatih kesabaran. Namun yang
kedua lebih menguji kesabaran seorang individu, apalagi ketika mereka (CS, -red) tipikal
baperan, mutungan, jengkelan, judesan sumpah.... sungguh udik kalo orang tersebut jadi CS. Masa
bodoh lah ketika bertemu orang-orang kayak gitu, cuekin aja.
Inti yang mau
saya sampaikan adalah cerita akhir ini, beberapa waktu lalu saya mengorder pesanan di situs Piero, saya beberapa kali menanyakan dan mempertanyakan orderan karena ketidakjelasan.
Beberapa kali saya nge-chat tapi gak dibalas. Apa yang saya lakukan? Tak
sedikitpun niatan untuk marah terhadap CS Piero itu. Aku tanya dengan kalimat
yang menurutku sangat sopan. Aku tahu bahwa dia harus membalas satu persatu
chat costumer (banyak komplain karena memang sistem website tersebut masih belum optimal, jadi
beberapa terjadi kesalahan proses order). Tak bisa aku bayangkan betapa dia
harus menghadapi berbagai karakteristik orang di media sosial ditengah tekanan
dari atasan untuk berlaku ramah terhadap customers. Bukan untuk sombong tapi
aku ingin share ke kalian.
......pesan komplainku......
“Baik min.
Terimakasih. Sabar min dgn komplain para customer. Semangat min jawab satu2. JJJJ”
“Makasih kakak
pengertiannya, kakak orang pertama yang ngertiin L”
Dua petilan itu
sungguh menyentuh hatiku. Sebagai pelanggan yang ingin komplain, seharusnya
kita bisa menata kalimat dalam pesan chat agar enak dibaca sehingga CS tulus menjawab. Sebagai anak Psikologi, aku sisipkan kata penyemangat sebagai wujud kepekaanku terhadap orang lain. Begitu pun, kita harusnya sabar menantikan balasan, lha yang ngechat
bukan cuma kamu to?







0 komentar: