Life of Me Part 2: Mengenal Emosi

Januari 13, 2018 Hadafi 0 Comments

Ilustrasi

                          Aku memiliki sahabat kecil bernama Andi. Umurnya memang satu tahun lebih tua dariku. Sejak aku pindah dari Kalasan ke Patuk, GK aku mengenalnya. Kami menjalani masa – masa bermain yang tak kuingat persis bagaimana. Yang jelas kami selalu berangkat bersama ketika mau sekolah. Tak hanya Andi, kayaknya aku juga sering bermain bersama Zafran.
                          Tak jarang dalam persahabatan memang sering terjadi konflik. Memang itu kami akui. Namun hal sepele sekalipun bisa menjadi luapan emosi saat itu. Pernah, suatu pagi di TK, guru memberi tugas untuk menggambar. Aku dan Andi memilih menggambar satu alat transportasi (lupa apa gambarnya), pemicu permasalahan adalah dia mencontek apa yang aku gambar sehingga gambar kami sama. Aku marah merasa tak mau dicontek. Kami pun berkelahi. Hingga saat itu kami enggan bertatap muka sementara, kayaknya sih gitu. Kami berdua juga menangis sih. Biasa lah anak kecil gitu.
                          Awal karir ibuku sebagai guru dimulai ketika mendaftar guru honorer di TK tempat aku bersekolah. Belum lama bekerja, ibu menghadapi masalah dengan TK tersebut. Aku memang masih anak umur 5 tahun, tapi kejadian itu selalu aku ingat. Mulanya hanya sebuah rapat biasa, tapi entah mengapa ibuku   menangis. Aku memang tak tahu apa permasalahannya, namun di situ aku menangis karena ibuku menangis. Kami, murid TK itu berada di ruang terpisah dengan rapat yang dilakukan ibu bersama guru lain. Namun aku masih ingat tetes air mata ibu yang mengalir. Keesokan harinya ibuku tidak pergi mengajar, aku juga demikian tak ingin untuk bersekolah. Namun ibuku tetap menasehati agar aku pergi bersekolah. That was the great moment. Setelah aku remaja, aku tahu kenapa ibuku menangis saat itu. Ada salah satu guru di sana yang tidak suka dengan kehadiran ibuku. Itulah kenapa paginya, ibuku berhenti mengajar di TK tersebut. (Penjelasan Psikologi, orang dewasa mungkin mengira anak kecil/balita lah masih tidak tahu masalah orang dewasa. Namun, kepekaan mereka terhadap informasi dari lingkungan sangat tinggi. Ini lah yang dinamakan masa golden age. Emosi yang dirasakan ibuku, suasana saat hari itu, masih teringat jelas dalam memoriku. Semakin jelas karena menyangkut pengalaman significant other/ orang terdekat.)
                          Masa TK adalah masa bermain yang melatih kemamupuan awal kehidupan di masyarakat. Salah satu permainan untuk menguji mentalku adalah titian. Aku memang takut sekali sama ketinggian. Ketika itu beberapa kali di taman kanak- kanak kami, murid disuruh untuk berjalan menaiki papan titian. Aku selalu takut dan merasa ingin menangis ketika mau mencoba untuk menaiki papan titian, ditambah harus membawa gelas berisi air dikedua tanganku. Namun aku pernah berhasil melewati tantangan tersebut walaupun tak selalu berani.

0 komentar: