Life of Me Part 2: Mengenal Emosi
Aku memiliki sahabat kecil bernama Andi. Umurnya memang satu tahun
lebih tua dariku. Sejak aku pindah dari Kalasan ke Patuk, GK aku mengenalnya.
Kami menjalani masa – masa bermain yang tak kuingat persis bagaimana. Yang
jelas kami selalu berangkat bersama ketika mau sekolah. Tak hanya Andi, kayaknya aku juga sering
bermain bersama Zafran.
Tak jarang dalam persahabatan
memang sering terjadi konflik. Memang itu kami akui. Namun hal sepele sekalipun
bisa menjadi luapan emosi saat itu. Pernah, suatu pagi di TK, guru memberi
tugas untuk menggambar. Aku dan Andi memilih menggambar satu alat transportasi
(lupa apa gambarnya), pemicu permasalahan adalah dia mencontek apa yang aku
gambar sehingga gambar kami sama. Aku marah merasa tak mau dicontek. Kami pun
berkelahi. Hingga saat itu kami enggan bertatap muka sementara, kayaknya sih
gitu. Kami berdua juga menangis sih. Biasa lah anak kecil gitu.
Awal karir ibuku
sebagai guru dimulai ketika mendaftar guru honorer di TK tempat aku bersekolah.
Belum lama bekerja, ibu menghadapi masalah dengan TK tersebut. Aku memang masih
anak umur 5 tahun, tapi kejadian itu selalu aku ingat. Mulanya hanya sebuah
rapat biasa, tapi entah mengapa ibuku menangis. Aku memang tak
tahu apa permasalahannya, namun di situ aku menangis karena ibuku
menangis. Kami, murid TK itu berada di ruang terpisah dengan rapat yang
dilakukan ibu bersama guru lain. Namun aku masih ingat tetes air mata ibu yang
mengalir. Keesokan harinya ibuku tidak pergi mengajar, aku juga demikian tak
ingin untuk bersekolah. Namun ibuku tetap menasehati agar aku pergi bersekolah.
That was the great moment. Setelah aku remaja, aku tahu kenapa ibuku
menangis saat itu. Ada salah satu guru di sana yang tidak suka dengan kehadiran
ibuku. Itulah kenapa paginya, ibuku berhenti mengajar di TK tersebut.
(Penjelasan Psikologi, orang dewasa mungkin mengira anak kecil/balita lah masih
tidak tahu masalah orang dewasa. Namun, kepekaan mereka terhadap informasi dari
lingkungan sangat tinggi. Ini lah yang dinamakan masa golden age. Emosi yang dirasakan ibuku, suasana saat hari itu,
masih teringat jelas dalam memoriku. Semakin jelas karena menyangkut pengalaman
significant other/ orang terdekat.)
Masa TK adalah masa
bermain yang melatih kemamupuan awal kehidupan di masyarakat. Salah satu
permainan untuk menguji mentalku adalah titian. Aku memang takut sekali sama
ketinggian. Ketika itu beberapa kali di taman kanak- kanak kami, murid disuruh
untuk berjalan menaiki papan titian. Aku selalu takut dan merasa ingin menangis
ketika mau mencoba untuk menaiki papan titian, ditambah harus membawa gelas
berisi air dikedua tanganku. Namun aku pernah berhasil melewati tantangan
tersebut walaupun tak selalu berani.






0 komentar: