Review Kopilimo, Sebuah Kafe di Kecamatan Patuk

Desember 29, 2017 Hadafi 1 Comments





Singkong goreng dan Kopi Limo di Kopilimo


Kebanyakan millenial terlalu over exposed dengan gawai. Bahkan, istilah gawai mungkin malah tidak dikenalnya. Mereka lebih popular menggunakan kata gadget dalam kamus perbincangan sehari-hari. Bak rukun utama, gawai menemani lebih dari setengah aktivitas harian. Sambungannya, instagram, siapa sih yang tidak mengenalnya?

Sekarang, mencari spot foto untuk posting di Instagram menjadi kepentingan mendesak. Terkadang lebih penting daripada pemenuhan kebutuhan fisiologis menurut Maslow, makan. Jeprat-jepret beberapa kali hingga mendapat sudut yang pas, baru makan. Untuk itulah tempat makan atau kafe perlu me-make-over desain mereka menyesuaikan permintaan pasar. Tapi tergantung segmentasi juga sih.

Kali ini, aku mau ngereview salah satu kafe yang ada di Patuk. Tulisan ini murni pendapatku sendiri, jika kamu ingin memastikannya bisa datang langsung ke tempatnya. Namanya Kopilimo, setahuku diambil dari nama salah satu jenis kopi, Kopi Limo. Kopilimo terletak di Sumber Tetes, Patuk, Patuk, Gunungkidul, DIY. Kamu bisa ambil kiri (kalau dari Jogja) di Perempatan Polsek Patuk, lurus ikuti jalan sejauh 2 km-an.
Salah satu sudut di Kopilimo
Pertama kali menginjakkan kaki di kafe ini, suasana desa tak asing lagi. Tempatnya lumayan sepi. Memang, jalan penghubung Patuk-Ngoro-oro tak seramai siang hari, maklum sepanjang jalan itu minim pencahayaan. Apa hubungannya? Kalau ke Kopilimo lewat situ. Di Kopilimo, pengunjung bisa mendengar suara jangkrik atau hewan malam semacamnya. Kondisi sini dingin, pengunjung kusarankan memakai jaket atau sweater. Btw, di sini tak hanya menawarkan tempat nongkrong, melaikan homestay juga. Jadi bisa menginap juga,

Menyusuri tiap sudut Kopilimo, kita disuguhi berderet hunian. Desainnya sih semacam perumahan gitu, itu homestaynya. Ada juga beberapa lampu warna-warni di sudut-sudut, menambah romantis suasananya. Untuk kumpul, ada omah bambu yang terkesan sangat artistik dan nyaman. Pengunjung juga dimanjakan dengan internet gratis, kebutuhan primer manusia masa kini. Tapi jangan lupa tanyakan password dan username ke penjaganya ya.
Cuplikan dinding omah bambu
Aku berkesempatan memakai omah bambu, sekalian untuk rapat FMKP. Sayangnya, ketika kami sampai, sudut itu agak kotor. Temanku sempat mengambil sapu untuk membersihkannya. Sebenarnya, konsep omah bambu bagus dengan ornamen bambu yang apik. Sumpah apik. Ditambah lagi posisinya yang di atas membuat angin semakin sepoi menerpa tubuh. To be honest, aku kurang suka dengan lantai yang terkesan rapuh (kalo diinjak bunyi). Mungkin memang kuat sebenarnya, tapi untuk orang yang takut ketinggian, pasti lantai omah bambu membuat tak nyaman. Selebihnya asyik sih dengan sudut ini, luas, dan ada LCDnya. Gak tahu kalau proyektor. Cocok untuk meeting.
Rapat FMKP di Kopilimo
Untuk urusan makanan dan minuman, Kopilimo menyajikan menu khas desa. Bagi mereka yang kangen dengan singkong goreng, tempe mendoan, atau pisang goreng wajib mencoba berkunjung di kafe ini. Pengunjung bisa mencoba Kopi Limo sebagai minuman andalan kafe ini, harganya 7k. Namun, aku tak mencicipi Kopi Limo karena memang tidak suka kopi. Maaf ya. Aku hanya mencicipi singkong goreng seharga 10k. Enak sih, bumbu pas, tapi kurang krispi menurutku, lebih enak singkong di tempat lain. Hehe. Selebihnya silakan coba sendiri. Urusan menu, pokoknya bervariasi, mulai dari aneka jus, indomie, nasi goreng, dll. Sayangnya, aku harus menunggu sedikit lama dari memesan hingga pesanan diantarkan. Beberapa menu pun juga tidak selalu ready. Ingat, harganya belum termasuk PPN ya. 
Menu di Kopilimo
Di tengah rapat, seorang pria dengan tinggi kurang dari tinggiku, sepertinya, datang menghampiri. Dia memakai kaos hitam dan celana coklat. Katanya sih pemilik kafe, Mas Tegar namanya. Kalau gak salah ya. Dia menyapa kami. Sempat juga menceritakan overview Kopilimo. Dia juga menyampaikan harapan pembangunan Kopilimo, semoga Patuk bisa dikenal di kancah lebih luas. “Semoga masyarakat bisa kenal keunikan Patuk,” jelasnya.

Kesimpulannya, Kopilimo cocok bagi kamu yang rindu akan suasana sepi dan nyaman di desa. Cocok juga untuk kumpul atau rapat karena kondisinya tak banyak distraksi. Bagi yang ingin wisata kuliner, agaknya harus berpikir ulang, kecuali, kamu pecinta kopi yang memang pengen mencicipi kenikmatan Kopi Limo saja, itu cocok juga. Sekian ulasanku, semoga bermanfaat.

1 komentar:

Berburu Basic Clothes for Men

Desember 28, 2017 Hadafi 0 Comments


Kemeja Nimco

Beberapa waktu lalu aku menyempatkan menonton beberapa video dari youtuber tentang fashion and lifestyle. Sungguh, ternyata tontonan tersebut bermanfaat bagiku, menurutku sih. Aku belajar bagaimana berpenampilan professional, sporty, hingga streetwear banget ala2 anak hits sekarang. Aku juga jadi paham tentang brand-brand yang sedang in. Mungkin, gaya pria metroseksual sudah menjamur, bahkan akupun terpapar olehnya.

Aku memantapkan hati mengambil uang tabungan untuk berburu baju sesuai arahan dan pengetahuan yang aku dapat dari Youtube. Isi lemari yang masih acak-acakan juga menjadi penyemangatku untuk berburu koleksi baru. Sebenarnya hal mudah, ketika cowok mau mengisi lemari mereka, isilah dengan pakaian basic dulu, kaos warna basic (hitam, putih), kemeja basic (hitam, putih, navy), jeans, celana bahan, dan tentunya batik. Itu item-item itu yang bisa membuat pria tampil kece sepanjang masa. 

Oke, aku mulai ceritanya. Aku bangun pagi seperti biasa. Ku sempatnya jogging ke tempat biasa juga bersama bapak. Setelah berkeringat aku bersiap hingga pukul 09.30. Biasanya sih distro-distro di Demangan buka jam 10.00 pagi. Benar, seperti dugaanku.

Sebenarnya aku tak sering ke distro. Hanya ketika mereka mengadakan sale, aku baru berburu baju2 di sana. Alasanku lebih memilih distro adalah produk lokal, kualitasnya juga bagus. Malah, aku jarang membeli produk di mall, hampir tidak ada. Kata orang sih kualitas distro dan mall hampir mirip. Namun, karena aku kemarin juga mampir Ambarukmo, aku tertarik deh ke Pull & Bear, keknya bagus, tapi mahal sih.

Lanjut, seperti biasa, aku jalan sendiri. Aku lebih nyaman belanja barang sendiri karena aku tipikal orang yang lama pilih barangnya, lama banget, beda kayak pria lainnya. Selain itu, mau ngajak teman tapi paling dia males-malesan. Haha. Yaudah sih gak masalah. Toh aku fine-fine aja.

Distro Jln Cendrawasih

Di Demangan, tepatnya Jalan Cendrawasih, banyak berjejer distro anak muda. Mulai dari 308, Nimco, Disable, hingga Starcross. Sebenarnya antara satu sama lain produknya sama, cuma beda brand. Namun, tiap produk sebenarnya punya karakter masing-masing. Mereka juga punya segmen dan konsumen loyalnya. Kalau aku lebih memilih produk Nimco dan 308, Nimco karena desainnya simple dan bisa look profesional, 308 karena salenya menarik aja. Kalau kualitas, kayaknya sama kok. Haha.

Kunjungan pertamaku ke Nimco. Masih sepi karena barusan buka. Aku memilih dan memilah aneka kemeja. Rencananya sih mau beli kemeja warna hitam dan sabuk. Aku melihat tulisan buy 1 get 1 di mana-mana. Hampir di semua sudut distro. Ada juga sale 20%, 30%, 35%, bahkan hingga 45%. Lumayan banget buat kalian yang mau berburu pakaian di akhir tahun. Tapi sayangnya, pilihanku jatuh pada kemeja hitam dan kemeja putih dengan aksen motif di saku. Keduanya aku ambil dengan harga 215k, Terimakasih atas promo buy 1 get 1nya.

Sempat menyesal karena aku tidak mampir ke distro sebelah. Setelah aku beli di Nimco, aku mampir ke 308. Eh, ternyata sale mereka lebih menarik. Aku juga menemukan kemeja hitam yang sama dengan harga 210k diskon 50%. Lebih murah dikit. Ditambah lagi aku lebih suka karena kancingnya putih, terlihat ada aksennya gitu. Duh sedikit kecewa.

Setelah puas memilah satu per satu pakaian di Nimco dan 308, aku pergi ke Starcross. Kata temanku, kuliatas mereka unggul dibanding distro lain. Harganya pun sedikit lebih mahal. Ditambah lagi, mereka jarang mengadakan sale untuk item yang baru. Tapi, ketika aku mau masuk, tokonya sepi. Sepi bangt bahkan. Hanya ada shopkeepernya. Aku memutuskan untuk tidak jadi masuk, padahal udah di depan pintu. Aku malu diliatin shopkeepernya padahal enggak mau beli.
Plaza Ambarukmo

Di perjalanan pulang aku mampir ke Plaza Ambarukmo. Sekadar untuk jalan-jalan dan window shopping aja. Aku naik hingga lantai atas, melihat-lihat dan masuk beberapa toko. Banyak sekali diskon yang digelar oleh brand-brand di sana. Aku sebenarnya pengen beli sepatu, tapi uangnya belum cukup. Mungkin pertengahan tahun depan baru bisa kebeli. Gak papalah. Aku juga mau beli kemeja batik untuk kodangan. Di usiaku sekarang, sudah mulai ada undangan pernikahan untukku. Sempat nemu batik di Outlet Centro, tapi harganya mahal banget, 400-500 ribu. Heh, mbok pikir aku duwe duwit semono?

0 komentar:

Lari Menembus Kabut

Desember 27, 2017 Hadafi 0 Comments


Akhirnya jogging


Tak terasa tidurku sudah tak nyenyak lagi. Kokokan ayam yang tak senyaring biasanya memekakkan telinga. Perang panci di dapur dan aroma bawang goreng memenuhi isi rumah. Ini pertanda sudah pagi. Seperti biasanya, ponsel yang kutaruh di samping kiri tempat tidur aku hidupkan dari keadaan off. Aku tunggu beberapa saat hingga nyawa terkumpul seratus persen. Cek notif yang ternyata tidak ada pesan masuk. Aku buru-buru bangun.

Aku lari menuju kamar mandi, duh leganya. Ambil air untuk wudhu lalu bergegas sholat subuh mengingat matahari sudah semakin tinggi. Biasanya aku terbangun pukul 05.00 pagi, atau sekitaran 10 menit kurang lebih. Sempat mencicipi tahu goreng ibu yang masih anget. Enak juga ternyata.

Kemarin sore, aku sudah berencana bangun pagi untuk jogging. Kurang lebih sudah satu minggu ini aku sering jogging pagi. Aku mau mengubah pola hidup biar agak sehat lah. Tak salah juga kalau aku menikmati indahnya pagi di desaku. Sepinya jalanan karena tiap keluarga masih sibuk di dapur atau masih terlelap di lautan mimpi yang indah.

Lantas, kuambil sepatu biru di antara box sepatu lainnya. Aku mix and match kan dengan atasan hijau apalah (ada tulisan merah) dan celana biru tua. Tak lupa, aku mengajak bapakku untuk melakukan healthy life ini. Kami berlari perlahan menuju Jembatan Pangkah. Rute yang ditempuh lebih dari 1 km, 2 km kurang. Beberapa kali, aku juga sempat menyapa ibu-ibu yang lagi menyapu halaman depan atau bapak-bapak yang sedang memikul cangkul di pundaknya.

Pagi itu jalanan sungguh masih sepi. Hanya ada 2 atau 3 motor yang lewat. Kabut tebal juga menyapa kami di jogging kala itu. Dinginnya hembusan angin pagi tak menyurutkanku agar bisa sehat selalu. Meski hanya lari sekitar 100 meter awal, aku cukup berkeringat. Sisanya ya hanya jalan kaki biasa.

Lari merupakan aktivitas sederhana yang bisa selalu menjaga kesehatan kita. Mungkin awalnya mager untuk melakukan aktivitas itu. Aku juga gitu kok, pertama kali lari kudu dipaksa. Ya, meskipun baru satu minggu, at least sudah berjalan kok. Aku berharap bisa continu sampai nanti, tak hanya sampai liburan ini usai. Aku juga mengajak kalian buat healthy life yak. Kalau sekarang masih sehat, belum tentu besok.

0 komentar:

Menemani Senja

Desember 26, 2017 Hadafi 0 Comments


Pemandangan Senja di Bukit Bintang, Yogyakarta


Kemarin Hari Natal. Beberapa orang merayakan natal bersama keluarga mereka. Ada yang makan di rumah. Ada juga mereka yang jalan-jalan ke tempat wisata. Dominasi warna merah dengan sedikit aksen putih menghiasi dekorasi rumah saudara Nasrani. Nampaknya seru. Aku sendiri kemana?

Pada 25 Desember siang, aku memiliki ide untuk nyunset di Bukit Bintang, sekitar 4-5 km dari rumahku. Lumayan dekat sih. Kemudian aku mengajak adikku untuk ikut serta. Maklum, selama liburan ini, dia belum pernah keluar rumah. Haha.

Waktu mulai menjelang senja. Aku bersiap mandi. Adikku yang sudah siap sejak 10 menit yang lalu sudah duduk di depan TV sembari menungguku selesai. Sekitar 5 menit berkutak di kamar mandi, aku keluar dengan wangi Grape dari sabun mandiku. Kutarik jaket dari gantungan baju, hawanya agak dingin sih.

Aku dan adikku telah berangkat. Berbekal niat dan ketulusan hati untuk bertemu si Senja meski Jalan Jogja-Wonosari macet lancar. Sempat pesimis dengan keramaian yang ada di Bukit Bintang, sumpah, lumayan ramai. To be honest, ini pertama kalinya aku duduk di salah satu deretan warung di sini.

“Mas pesan dong?” Ujarku kepada seorang anak yang kira-kira seumuran dan memakai kaos hitam kedodoran. Ia merupakan penjaga warung, kayaknya sih. Ku ambil pulpen dan daftar menu dari meja kasir. Kami memesan teh panas dan Goodday panas. Lumayan, bisa menjadi teman untuk melihat Senja yang segera pulang.
Aku dan adikku menikmati teh dan kopi


Kami memilih warung yang sepi. Hanya ada satu bangku yang digunakan orang pacaran, sisanya kosong. Aku memilih pojok kanan dekat jurang, siapa tahu bisa langsung lompat, eh bercanda, siapa tahu bisa mendapat view yang optimal. Di warung sebelah, orang-orang ramai berbincang sembari sesekali memainkan ponsel pintar mereka. Sayangnya, senja tak seindah yang lalu, awan Cumulus Nimbus (Kayaknya sih, apa ini nama awan hujan? Duh aku lupa.) menutupi indahnya Senja. Apalah daya aku tak bisa usir awan itu.

Aroma pop mie juga menyerbak seluruh ruang di warung itu. Setelah terdengar adzan magraib, kami segera menghabiskan minum yang dipesan. Tak mahal, hanya merogoh kocek 8k untuk kedua minuman tersebut. Ditambah lagi bayar parkir kalau tukang parkirnya ada.  Pas aku di sana, tukang parkirnya sedang sibuk sendiri, jadi gak bayar parkir. Maaf bang. Lumayan terjangkau lah dengan bonus view yang indah. Selamat berlibur kawanku.
Kota Jogja dari Bukit Bintang di senja hari

0 komentar:

Kondangan, Siapa Tahu Ketemu Mantan

Desember 25, 2017 Hadafi 0 Comments


YOT di Pernikahan Fida
Minggu kemarin, tepatnya tanggal 24 Desember 2017 aku menghadiri kondangan keduaku. Ya, sudah dua kali ini aku menerima undangan nikah dari orang yang ku kenal. Yang pertama, nikahan temen SDku. Dan yang ini nikahan Fida, anggota Green di YOT Yogyakarta. Sebelum bercerita panjang lebar, btw congrats ya Fid dan Mas Akbar. Semoga dilancarkan urusan selanjutnya.

Anyway, to be honest, platform Instagram tuh menurutku bukanlah sosmed yang kegunaan utamanya menjadi album foto. Tapi, buat panjat sosial dengan ngepost foto hits dan kece biar orang lain kagum. Coba deh kalian tanyain ke teman-teman kalian. Pasti gatel rasanya kalo ada kegiatan yang bisa buat panjat sosial tapi gak dipost atau diinstastoryin. Hayooo ngaku!! Sama kok. Aku ngerasain hal itu, dan aku pun terjebak padanya. Haduh.

Nah, hubungan antara Instagram dan kondangan tak jauh beda. Netizen berlomba-lomba untuk posting “Lagi kondangan nih. Kondangan mlulu, kapan dikondangin. Lumayan makan enak di kondangan temen. Congratss ya. Dll.” Bener atau bener? Sumpah, aku kesel banget liat instastory atau semacamnya yang unggah ini. Gak hanya soal kondangan sih, apapun yang nirfaedah lah. To be honest lagi, emang sih kadang aku sendiri ngiri dengan instastory temen, but, I think again, oke ngiri dikit tapi apa sih manfaat kalian ngeinstastory kayak gitu? One aswer, by me, panjat sosial. But its fine sih, di era digital gini efeknya emang kayak gitu. Mungkin aku aja yg perlu berbenah diri. Oke, move to the story behind the title.

Pagi-pagi aku bersiap. Dengan sigap segera mengambil kemeja putih yang nampaknya masih di jemuran. Belum well done kalo istilah untuk steak. Setelah siap dengan alat tempur, a.k.a. parfum dan pomade yang tinggal seucrit, aku memacu kuda mesinku. Melaju ke lebih dari 25 km dari keset depan pintu rumah. Lalu, sampailah ke UGM sekitar jam 10.00 buat nungguin temen2 yang lain kumpul. Biasalah ngaretnya minta ampun.

Setelah siap, cus ke The Alana. Gile. The Alana cuy, Palagan. Kesan pertama, ramai banget. Ya, parkirpun harus menempuh ribuan cm dari gerbang masuk. Itupun kayak udah mau overload gitu. Naik ke atas, ke venue, terlihat antrian panjang menuju kondangn Fida. Yawla, ramai sekali. Semoga di pernikahanku kelak juga ramai. Eh.

Satu persatu anggota keluarga mempelai menerima jabat tangan dariku. Kami, yang hendak berjabat tangan dengan mempelai harus menunggu antrian yang melangkah dengan kecepatan kurang dari 2 meter per menit. Dekorasi bunga yang apik ditambah lighting putih kepink2an, tak luput nyanyian merdu dari pemusik menambah elegant pesta pernikahan mereka. Btw, aku gagal fokus sama OOTD mbak-mbak penyanyinya yang pakai baju pink. Akhirnya setelah 1 jam mengantre, aku bisa bersalaman dengan mempelai. Yeay udah sah kalau mau makan.

Puluhan menu disediakan di Ballroom ini, nampak enak dan wangi. Aku tak sepat menikmati Zuppa Sup dan Es Krim lantaran sudah habis. Aku hanya mencoba mie pakai kikil (lupa namanya), nasi rames, dan es buah 2x. Enak sekali makanannya. Kalau aku ngajakin anak kos pasti senang. Sayangnya, saking ramai pesta, tempat duduknya habis. Duh duh. Maafkan aku Yawla makan sambil berdiri.

Kondangan kali ini, aku datang bersama teman-teman YOT. Sempat bertemu anak Psikologi juga. Ternyata dunia sempit. Aku bertemu Prima, dia datang bersama keluarganya. Ayah Prima merupakan teman dekat ayah mempelai pria. Aku juga menyapa Ahda yang teman seangkatan mempelai di Teladan. Duh, Jangan-jangan kalau aku nanti ke kondangan lagi bakal ketemu mantan. Pasti malu kalau datangnya tanpa pasangan. Dikiranya nanti belum bisa move on. Musti siap-siap dengan jurus seribu alasan. Biar tak malu menjawab pertanyaan mantan di kondangan teman.
Konco Edan ning YOT





0 komentar:

Couple Travelling with Minimum Cost

Desember 23, 2017 Hadafi 0 Comments




Hujan lebat di pagi hari membuat semua orang mager. Mager kerja, mager ngampus, bahkan mager buat beranjak dari tempat tidur. Tapi, gegara paper UAS yang harus dikumpulkan ke lebih dari 25 km dari tempat tidurku, ah apa boleh buat. Kuambil handuk lalu mulai menggosok gigi sambil memegang gayung di tangan kiri. Bersiap buat ngampus di Jumat pagi.

Bau khas tanah sehabis diguyur hujan masih terasa sesampainya di kampus. Matahari mulai muncul dari balik awan tapi gerimis tak mau pergi. Langsung aku menginjakkan kaki ke Bul. Membuka gembok alay yang menurutku nirfaedah. Hidupin PC untuk ngeprint 5 halaman yang belum sempat aku print. 

Selesai ritual di Bul, aku langsung ke kampus, aku jilid, lalu kumpulkan. Aku liat bapak2 pengajaran yang berbeda. Nampaknya beliau tak hadir. Aku disambut pria berseragam biru lalu menanyakan, “Mau ngumpulin tugas mas?” Ujarnya. “Iya brooooh,” jawabku bercanda. Ternyata yang baru mengumpulkan tak lebih dari 10 orang. Mahasiswa sekarang pada males ya? Apa karena hujan? Nampaknya Gen Y memang gitu sih, malesan.

Aku menunggu partner travellingku sekitar 15 menitan. Sendiri. Dia ngechat, “Aku udah sampai nih. Di print2an”. Ya, kali ini aku mempunyai partner yang mau diajak jalan. Cewek lagi. Ah asyiknya. Haha. Dia juga ngumpulin tugas yang sama denganku. Okay, balik ke agenda travelling. Kami mau ke Kotagede.


Kami melaju dengan sambutan gerimis syahdu di antara langit Jogja. Berbekal maps yang ternyata mengarahkan pada jalan yang salah, kami sempat kebingungan ketika hampir sampai di Kompleks Makam Raja2 Mataram. Tempat tersebut merupakan salah satu destinasi travelling di Kotagede. Di areal itu juga ada Masjid Agung Mataram Kotagede. Meski sempat muter-muter, tapi kami bisa sampai di tempat tujuan pertama. Lumayan sepi sih pagi itu. Mungkin karena di masjid juga sedang ada agenda Tabligh Akbar, jadi wisata Makam Raja Mataram sepi.


Wisatawan bisa melihat bangunan-bangun tua ala kerajaan-kerajaan. Bisa lihat mata air. Bisa lihat makam, tapi tidak dibuka pada saat itu. Dan eh, aku sama Fuja ketemu pasangan yang lagi foto PreWed. Haduh, Fuja jadi baper banget tuh. Jadi di Makam2 Raja MAtaram kita bisa liat orang foto PreWed juga. Btw, di sana juga ada penyewaan busana Jawa gitu. Katanya sih kalau mau masuk makam kudu berpakaian Jawa. Gatau deh.

Setelah puas melihat komplek Makam Raja2 Mataram, kami memutuskan untuk mencoba foto di pintu yang banyak tamanannya gitu. Dulu sih sempat terkenal di instagram, tapi sekarang sudah surut kehitsannya. Namun, kami dilarang foto karena mau diadakan Tabligh akbar. Sebenarnya ngekek, karena tak ada hubungannya sih. Tapi kami ngikut aja, toh gak penting2 amat foto di situ.


Selanjutnya aku mengajak Fuja ke Pasar di dekat komplek tersebut. Btw, Fuja itu teman cewek satu angkatan di Psikologi UGM, dia asal Padang. Di pasar, kami jalan dan menyusuri lorong-lorong pasar. Eh ketemu jajanan pasar. Kami membeli 5/6 potong jajanan pasar yang beranekaragam. Cuma 8 ribu cuy. Murah. Setelah beli, kami keluar pasar dan duduk di emperan toko. Bodo amat, kami makan jajanan pasar yang sudah dibeli. Waktu tengah hari, aku memutuskan mencari masjid biar bisa Jumatan. Di sekitar situ, ada Masjid Perak. Aku jumatan di situ.

Selanjutnya kami caw dari Kotagede menuju Malioboro. Oiya, di Kotagede, kami hanya bayar parkir 2 ribu. Meski panas2 dan macet, aku mengajak Fuja untuk menemani jalan-jalan di Kotagede. Kami memutuskan untuk aprkir di Mall Malioboro. Rame banget lah pokoknya.

Satu persatu penjual aksesoris, oleh-oleh dll kami sapa. Lorong Malioboro yang sempitnya minta ampun tambah pengunjung yang membludak tak lupa kami sambangi. Di Malioboro, wisatawan bisa belanja aneka batik dan oleh-oleh khas Jogja lainnya. Di beberapa toko bahkan menawarkan diskon gede2an. Tapi gak segede Gunung Merapi sih. Haha. Aku dan Fuja jalan sambil membicarakan tentang pengalam belanja kami. Lucu sih.

Setelah lapar berkeliling, kami mampir ke Mekdi untuk ngadem di AC dan pesen minuman. Kami berdua habis sekitar 30 ribu. Setelah tubuh adem, kami berjalan2 ke tiap toko di Mall Malioboro. Window shopping lah. Kami melihat aneka sepatu, baju, bahkan sempat pegang-pegang Galaxy Note 8 di Gerai Samsung. Lelah berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Bayar parkir 3 ribu lalu pulang ke UGM karena motorku di sana.

Setelah jalan-jalan berdua, kami lanjut ke urusan masing-masing. Aku ada rapat sama bebakaran di Bul sampai malam. Fuja mau dinner sama temennya. Travelling ala kami ini menghabiskan uang tak lebih dari 50 ribu. Pasnya 43 ribu, oke kita hitung ditambah uang bensin. Mungkin ya sekitar 50 ribu itu. Murah dan menyenangkan tentunya.

Big thanks to Fuja. I hope that we can explore around again. See ya yang mau ke Thailand. Jangan lupa oleh2.

0 komentar:

Punya Mimpi Keluar Negeri? Bikin Paspor Dulu Aja!

Desember 21, 2017 Hadafi 5 Comments

Lobby depan Kantor Imigrasi Kelas 1 Yk

Beberapa bulan yang lalu, ibuku menawarkan diri untuk membelikanku sesuatu. “Fi, arep tuku opo? Klambi? Batik? Po opo?” Ujarnya. “Entuk ra buk nek aku gawe paspor wae?” Pintaku. “Yowes.” Im deal with it. I think that it was better. Someday, I must go flight around the world. Must do it.
Next step, aku tanya temenku yang pernah bikin paspor. Ternyata, sekarang harus login ke laman online imigrasi untuk mengambil nomor antrian. Semacam bikin account gitu pokoknya. Lalu, aku urus itu, memastikan waktu yang tepat buat membuat paspor.
Pagi, Kamis, 14 Desember aku mulai deg-degan. Bersamaan dengan ujian Reksel yang Alhamdulillah lanjay, aku mempersiapkan hari ini dengan rapi. Kupakai kemeja pink yang well banget menurutku untuk ngurus paspor. Aku mendapat jadwal antrian sehabis istirahat siang.
Pertama melangkahkan kaki ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, samping Bandara Adisucipto, aku sempat kaget. Ternyata ramai sekali. Orang-orang berburu nomor antrian terkecil. Apa boleh buat, aku santai-santai saja ngantri. Masih ingat, aku mendapat nomor antrian 171, menunggu sekitar 1,5 jam untuk wawancara dan foto. Masuk loket wawancara dan foto nomor 3. 
Aku berpikir prosedur bikin paspor ribet. Tapi ternyata sangat gampang, cuma ya kudu sabar buat antri. Pertama ambil antrian online. Datang pas hari yang disepakati. Ambil antrian. Nunggu. Dipanggil wawancara dan foto, btw ini formalitas banget (wawancara cuma ditanya mau kemana kok bikin paspor? Udah gitu aja). Habis itu bayar ke kantor pos atau bank. Lima hari kemudian ambil di tempat yang sama. Jadi deh. Simpel kan?
Sempat aku mengamati suasana di Kantor Imigrasi. Seperti biasa, semua sibuk dengan gadget. Ada anak-anak yang berlarian. Mungkin dia lagi dibikinin paspor sama ayahnya. Ada juga nenek-kakek, mungkin mereka ngurus buat naik haji. Ada makanan dan minum gratis. Wifi gratis dengan username Jogjakarta dan password yang kulupa. Ada akuarium gede. Ada juga tempat bermain balita. Petugas imigrasi pun tak lelah meski harus menjawab pertanyaan yang sama ke sekian ratus ribu orang. Tiap hari. “Mbak ini gimana ya antrinya? Mbak bedanya paspor 48 sama 24 apa? Apa yang perlu dibawa mbak? Dst.”
Oiya, biar infonya sedikit bermanfaat, syarat yang dibawa saat mau bikin paspor tuh ada 3. Pertama KTP. Lalu KK. Ketiga Akta Kelahiran. Ketiga berkas itu harus asli, dan kita juga perlu memfotokopi rangkap 1 untuk dikumpulkan. Udah cuma itu aja.
Map Berkas dari Imigrasi

Lanjut ke ceritaku. Nah, saat wawancara aku ditanya perihal keperluanku bikin paspor. Aku sebenarnya bingung mau jawab apa. Honestly, aku bikin paspor kali aja ntar perlu. Selain itu, semoga bisa memacu aku untuk belajar bahasa Inggris. Yaudah, saat ditanya demikian, aku jawab mau ke Ausie mbak, kuliah. Seketika aku tersadar mimpiku di awal semester kuliah. Ya, lanjut ke Monash University untuk S2. Wish that it comes true. Pertanyaan yang sama juga diajuin petugas pos saat aku bayar biaya paspor. Aku jawab dengan jawaban yang sama tapi lebih yakin daripada ketika menjawab pertama kali. Ya, aku jadi yakin.
Terimakasih ibu telah merelakan 355k nya untuk bikin pasporku. Semoga sebelum masa kadaluarsanya di tahun 2022, aku bisa menginjakkan kaki ke Negara lain. Dan aku yakin itu bakal terjadi. Bikin paspor bukan berarti kamu mau ke luar negeri, tapi kamu pasti keluar negeri.
Pasporku jadi



5 komentar: