Review Kopilimo, Sebuah Kafe di Kecamatan Patuk

Desember 29, 2017 Hadafi 1 Comments





Singkong goreng dan Kopi Limo di Kopilimo


Kebanyakan millenial terlalu over exposed dengan gawai. Bahkan, istilah gawai mungkin malah tidak dikenalnya. Mereka lebih popular menggunakan kata gadget dalam kamus perbincangan sehari-hari. Bak rukun utama, gawai menemani lebih dari setengah aktivitas harian. Sambungannya, instagram, siapa sih yang tidak mengenalnya?

Sekarang, mencari spot foto untuk posting di Instagram menjadi kepentingan mendesak. Terkadang lebih penting daripada pemenuhan kebutuhan fisiologis menurut Maslow, makan. Jeprat-jepret beberapa kali hingga mendapat sudut yang pas, baru makan. Untuk itulah tempat makan atau kafe perlu me-make-over desain mereka menyesuaikan permintaan pasar. Tapi tergantung segmentasi juga sih.

Kali ini, aku mau ngereview salah satu kafe yang ada di Patuk. Tulisan ini murni pendapatku sendiri, jika kamu ingin memastikannya bisa datang langsung ke tempatnya. Namanya Kopilimo, setahuku diambil dari nama salah satu jenis kopi, Kopi Limo. Kopilimo terletak di Sumber Tetes, Patuk, Patuk, Gunungkidul, DIY. Kamu bisa ambil kiri (kalau dari Jogja) di Perempatan Polsek Patuk, lurus ikuti jalan sejauh 2 km-an.
Salah satu sudut di Kopilimo
Pertama kali menginjakkan kaki di kafe ini, suasana desa tak asing lagi. Tempatnya lumayan sepi. Memang, jalan penghubung Patuk-Ngoro-oro tak seramai siang hari, maklum sepanjang jalan itu minim pencahayaan. Apa hubungannya? Kalau ke Kopilimo lewat situ. Di Kopilimo, pengunjung bisa mendengar suara jangkrik atau hewan malam semacamnya. Kondisi sini dingin, pengunjung kusarankan memakai jaket atau sweater. Btw, di sini tak hanya menawarkan tempat nongkrong, melaikan homestay juga. Jadi bisa menginap juga,

Menyusuri tiap sudut Kopilimo, kita disuguhi berderet hunian. Desainnya sih semacam perumahan gitu, itu homestaynya. Ada juga beberapa lampu warna-warni di sudut-sudut, menambah romantis suasananya. Untuk kumpul, ada omah bambu yang terkesan sangat artistik dan nyaman. Pengunjung juga dimanjakan dengan internet gratis, kebutuhan primer manusia masa kini. Tapi jangan lupa tanyakan password dan username ke penjaganya ya.
Cuplikan dinding omah bambu
Aku berkesempatan memakai omah bambu, sekalian untuk rapat FMKP. Sayangnya, ketika kami sampai, sudut itu agak kotor. Temanku sempat mengambil sapu untuk membersihkannya. Sebenarnya, konsep omah bambu bagus dengan ornamen bambu yang apik. Sumpah apik. Ditambah lagi posisinya yang di atas membuat angin semakin sepoi menerpa tubuh. To be honest, aku kurang suka dengan lantai yang terkesan rapuh (kalo diinjak bunyi). Mungkin memang kuat sebenarnya, tapi untuk orang yang takut ketinggian, pasti lantai omah bambu membuat tak nyaman. Selebihnya asyik sih dengan sudut ini, luas, dan ada LCDnya. Gak tahu kalau proyektor. Cocok untuk meeting.
Rapat FMKP di Kopilimo
Untuk urusan makanan dan minuman, Kopilimo menyajikan menu khas desa. Bagi mereka yang kangen dengan singkong goreng, tempe mendoan, atau pisang goreng wajib mencoba berkunjung di kafe ini. Pengunjung bisa mencoba Kopi Limo sebagai minuman andalan kafe ini, harganya 7k. Namun, aku tak mencicipi Kopi Limo karena memang tidak suka kopi. Maaf ya. Aku hanya mencicipi singkong goreng seharga 10k. Enak sih, bumbu pas, tapi kurang krispi menurutku, lebih enak singkong di tempat lain. Hehe. Selebihnya silakan coba sendiri. Urusan menu, pokoknya bervariasi, mulai dari aneka jus, indomie, nasi goreng, dll. Sayangnya, aku harus menunggu sedikit lama dari memesan hingga pesanan diantarkan. Beberapa menu pun juga tidak selalu ready. Ingat, harganya belum termasuk PPN ya. 
Menu di Kopilimo
Di tengah rapat, seorang pria dengan tinggi kurang dari tinggiku, sepertinya, datang menghampiri. Dia memakai kaos hitam dan celana coklat. Katanya sih pemilik kafe, Mas Tegar namanya. Kalau gak salah ya. Dia menyapa kami. Sempat juga menceritakan overview Kopilimo. Dia juga menyampaikan harapan pembangunan Kopilimo, semoga Patuk bisa dikenal di kancah lebih luas. “Semoga masyarakat bisa kenal keunikan Patuk,” jelasnya.

Kesimpulannya, Kopilimo cocok bagi kamu yang rindu akan suasana sepi dan nyaman di desa. Cocok juga untuk kumpul atau rapat karena kondisinya tak banyak distraksi. Bagi yang ingin wisata kuliner, agaknya harus berpikir ulang, kecuali, kamu pecinta kopi yang memang pengen mencicipi kenikmatan Kopi Limo saja, itu cocok juga. Sekian ulasanku, semoga bermanfaat.

1 komentar:

Berburu Basic Clothes for Men

Desember 28, 2017 Hadafi 0 Comments


Kemeja Nimco

Beberapa waktu lalu aku menyempatkan menonton beberapa video dari youtuber tentang fashion and lifestyle. Sungguh, ternyata tontonan tersebut bermanfaat bagiku, menurutku sih. Aku belajar bagaimana berpenampilan professional, sporty, hingga streetwear banget ala2 anak hits sekarang. Aku juga jadi paham tentang brand-brand yang sedang in. Mungkin, gaya pria metroseksual sudah menjamur, bahkan akupun terpapar olehnya.

Aku memantapkan hati mengambil uang tabungan untuk berburu baju sesuai arahan dan pengetahuan yang aku dapat dari Youtube. Isi lemari yang masih acak-acakan juga menjadi penyemangatku untuk berburu koleksi baru. Sebenarnya hal mudah, ketika cowok mau mengisi lemari mereka, isilah dengan pakaian basic dulu, kaos warna basic (hitam, putih), kemeja basic (hitam, putih, navy), jeans, celana bahan, dan tentunya batik. Itu item-item itu yang bisa membuat pria tampil kece sepanjang masa. 

Oke, aku mulai ceritanya. Aku bangun pagi seperti biasa. Ku sempatnya jogging ke tempat biasa juga bersama bapak. Setelah berkeringat aku bersiap hingga pukul 09.30. Biasanya sih distro-distro di Demangan buka jam 10.00 pagi. Benar, seperti dugaanku.

Sebenarnya aku tak sering ke distro. Hanya ketika mereka mengadakan sale, aku baru berburu baju2 di sana. Alasanku lebih memilih distro adalah produk lokal, kualitasnya juga bagus. Malah, aku jarang membeli produk di mall, hampir tidak ada. Kata orang sih kualitas distro dan mall hampir mirip. Namun, karena aku kemarin juga mampir Ambarukmo, aku tertarik deh ke Pull & Bear, keknya bagus, tapi mahal sih.

Lanjut, seperti biasa, aku jalan sendiri. Aku lebih nyaman belanja barang sendiri karena aku tipikal orang yang lama pilih barangnya, lama banget, beda kayak pria lainnya. Selain itu, mau ngajak teman tapi paling dia males-malesan. Haha. Yaudah sih gak masalah. Toh aku fine-fine aja.

Distro Jln Cendrawasih

Di Demangan, tepatnya Jalan Cendrawasih, banyak berjejer distro anak muda. Mulai dari 308, Nimco, Disable, hingga Starcross. Sebenarnya antara satu sama lain produknya sama, cuma beda brand. Namun, tiap produk sebenarnya punya karakter masing-masing. Mereka juga punya segmen dan konsumen loyalnya. Kalau aku lebih memilih produk Nimco dan 308, Nimco karena desainnya simple dan bisa look profesional, 308 karena salenya menarik aja. Kalau kualitas, kayaknya sama kok. Haha.

Kunjungan pertamaku ke Nimco. Masih sepi karena barusan buka. Aku memilih dan memilah aneka kemeja. Rencananya sih mau beli kemeja warna hitam dan sabuk. Aku melihat tulisan buy 1 get 1 di mana-mana. Hampir di semua sudut distro. Ada juga sale 20%, 30%, 35%, bahkan hingga 45%. Lumayan banget buat kalian yang mau berburu pakaian di akhir tahun. Tapi sayangnya, pilihanku jatuh pada kemeja hitam dan kemeja putih dengan aksen motif di saku. Keduanya aku ambil dengan harga 215k, Terimakasih atas promo buy 1 get 1nya.

Sempat menyesal karena aku tidak mampir ke distro sebelah. Setelah aku beli di Nimco, aku mampir ke 308. Eh, ternyata sale mereka lebih menarik. Aku juga menemukan kemeja hitam yang sama dengan harga 210k diskon 50%. Lebih murah dikit. Ditambah lagi aku lebih suka karena kancingnya putih, terlihat ada aksennya gitu. Duh sedikit kecewa.

Setelah puas memilah satu per satu pakaian di Nimco dan 308, aku pergi ke Starcross. Kata temanku, kuliatas mereka unggul dibanding distro lain. Harganya pun sedikit lebih mahal. Ditambah lagi, mereka jarang mengadakan sale untuk item yang baru. Tapi, ketika aku mau masuk, tokonya sepi. Sepi bangt bahkan. Hanya ada shopkeepernya. Aku memutuskan untuk tidak jadi masuk, padahal udah di depan pintu. Aku malu diliatin shopkeepernya padahal enggak mau beli.
Plaza Ambarukmo

Di perjalanan pulang aku mampir ke Plaza Ambarukmo. Sekadar untuk jalan-jalan dan window shopping aja. Aku naik hingga lantai atas, melihat-lihat dan masuk beberapa toko. Banyak sekali diskon yang digelar oleh brand-brand di sana. Aku sebenarnya pengen beli sepatu, tapi uangnya belum cukup. Mungkin pertengahan tahun depan baru bisa kebeli. Gak papalah. Aku juga mau beli kemeja batik untuk kodangan. Di usiaku sekarang, sudah mulai ada undangan pernikahan untukku. Sempat nemu batik di Outlet Centro, tapi harganya mahal banget, 400-500 ribu. Heh, mbok pikir aku duwe duwit semono?

0 komentar:

Lari Menembus Kabut

Desember 27, 2017 Hadafi 0 Comments


Akhirnya jogging


Tak terasa tidurku sudah tak nyenyak lagi. Kokokan ayam yang tak senyaring biasanya memekakkan telinga. Perang panci di dapur dan aroma bawang goreng memenuhi isi rumah. Ini pertanda sudah pagi. Seperti biasanya, ponsel yang kutaruh di samping kiri tempat tidur aku hidupkan dari keadaan off. Aku tunggu beberapa saat hingga nyawa terkumpul seratus persen. Cek notif yang ternyata tidak ada pesan masuk. Aku buru-buru bangun.

Aku lari menuju kamar mandi, duh leganya. Ambil air untuk wudhu lalu bergegas sholat subuh mengingat matahari sudah semakin tinggi. Biasanya aku terbangun pukul 05.00 pagi, atau sekitaran 10 menit kurang lebih. Sempat mencicipi tahu goreng ibu yang masih anget. Enak juga ternyata.

Kemarin sore, aku sudah berencana bangun pagi untuk jogging. Kurang lebih sudah satu minggu ini aku sering jogging pagi. Aku mau mengubah pola hidup biar agak sehat lah. Tak salah juga kalau aku menikmati indahnya pagi di desaku. Sepinya jalanan karena tiap keluarga masih sibuk di dapur atau masih terlelap di lautan mimpi yang indah.

Lantas, kuambil sepatu biru di antara box sepatu lainnya. Aku mix and match kan dengan atasan hijau apalah (ada tulisan merah) dan celana biru tua. Tak lupa, aku mengajak bapakku untuk melakukan healthy life ini. Kami berlari perlahan menuju Jembatan Pangkah. Rute yang ditempuh lebih dari 1 km, 2 km kurang. Beberapa kali, aku juga sempat menyapa ibu-ibu yang lagi menyapu halaman depan atau bapak-bapak yang sedang memikul cangkul di pundaknya.

Pagi itu jalanan sungguh masih sepi. Hanya ada 2 atau 3 motor yang lewat. Kabut tebal juga menyapa kami di jogging kala itu. Dinginnya hembusan angin pagi tak menyurutkanku agar bisa sehat selalu. Meski hanya lari sekitar 100 meter awal, aku cukup berkeringat. Sisanya ya hanya jalan kaki biasa.

Lari merupakan aktivitas sederhana yang bisa selalu menjaga kesehatan kita. Mungkin awalnya mager untuk melakukan aktivitas itu. Aku juga gitu kok, pertama kali lari kudu dipaksa. Ya, meskipun baru satu minggu, at least sudah berjalan kok. Aku berharap bisa continu sampai nanti, tak hanya sampai liburan ini usai. Aku juga mengajak kalian buat healthy life yak. Kalau sekarang masih sehat, belum tentu besok.

0 komentar:

Menemani Senja

Desember 26, 2017 Hadafi 0 Comments


Pemandangan Senja di Bukit Bintang, Yogyakarta


Kemarin Hari Natal. Beberapa orang merayakan natal bersama keluarga mereka. Ada yang makan di rumah. Ada juga mereka yang jalan-jalan ke tempat wisata. Dominasi warna merah dengan sedikit aksen putih menghiasi dekorasi rumah saudara Nasrani. Nampaknya seru. Aku sendiri kemana?

Pada 25 Desember siang, aku memiliki ide untuk nyunset di Bukit Bintang, sekitar 4-5 km dari rumahku. Lumayan dekat sih. Kemudian aku mengajak adikku untuk ikut serta. Maklum, selama liburan ini, dia belum pernah keluar rumah. Haha.

Waktu mulai menjelang senja. Aku bersiap mandi. Adikku yang sudah siap sejak 10 menit yang lalu sudah duduk di depan TV sembari menungguku selesai. Sekitar 5 menit berkutak di kamar mandi, aku keluar dengan wangi Grape dari sabun mandiku. Kutarik jaket dari gantungan baju, hawanya agak dingin sih.

Aku dan adikku telah berangkat. Berbekal niat dan ketulusan hati untuk bertemu si Senja meski Jalan Jogja-Wonosari macet lancar. Sempat pesimis dengan keramaian yang ada di Bukit Bintang, sumpah, lumayan ramai. To be honest, ini pertama kalinya aku duduk di salah satu deretan warung di sini.

“Mas pesan dong?” Ujarku kepada seorang anak yang kira-kira seumuran dan memakai kaos hitam kedodoran. Ia merupakan penjaga warung, kayaknya sih. Ku ambil pulpen dan daftar menu dari meja kasir. Kami memesan teh panas dan Goodday panas. Lumayan, bisa menjadi teman untuk melihat Senja yang segera pulang.
Aku dan adikku menikmati teh dan kopi


Kami memilih warung yang sepi. Hanya ada satu bangku yang digunakan orang pacaran, sisanya kosong. Aku memilih pojok kanan dekat jurang, siapa tahu bisa langsung lompat, eh bercanda, siapa tahu bisa mendapat view yang optimal. Di warung sebelah, orang-orang ramai berbincang sembari sesekali memainkan ponsel pintar mereka. Sayangnya, senja tak seindah yang lalu, awan Cumulus Nimbus (Kayaknya sih, apa ini nama awan hujan? Duh aku lupa.) menutupi indahnya Senja. Apalah daya aku tak bisa usir awan itu.

Aroma pop mie juga menyerbak seluruh ruang di warung itu. Setelah terdengar adzan magraib, kami segera menghabiskan minum yang dipesan. Tak mahal, hanya merogoh kocek 8k untuk kedua minuman tersebut. Ditambah lagi bayar parkir kalau tukang parkirnya ada.  Pas aku di sana, tukang parkirnya sedang sibuk sendiri, jadi gak bayar parkir. Maaf bang. Lumayan terjangkau lah dengan bonus view yang indah. Selamat berlibur kawanku.
Kota Jogja dari Bukit Bintang di senja hari

0 komentar:

Kondangan, Siapa Tahu Ketemu Mantan

Desember 25, 2017 Hadafi 0 Comments


YOT di Pernikahan Fida
Minggu kemarin, tepatnya tanggal 24 Desember 2017 aku menghadiri kondangan keduaku. Ya, sudah dua kali ini aku menerima undangan nikah dari orang yang ku kenal. Yang pertama, nikahan temen SDku. Dan yang ini nikahan Fida, anggota Green di YOT Yogyakarta. Sebelum bercerita panjang lebar, btw congrats ya Fid dan Mas Akbar. Semoga dilancarkan urusan selanjutnya.

Anyway, to be honest, platform Instagram tuh menurutku bukanlah sosmed yang kegunaan utamanya menjadi album foto. Tapi, buat panjat sosial dengan ngepost foto hits dan kece biar orang lain kagum. Coba deh kalian tanyain ke teman-teman kalian. Pasti gatel rasanya kalo ada kegiatan yang bisa buat panjat sosial tapi gak dipost atau diinstastoryin. Hayooo ngaku!! Sama kok. Aku ngerasain hal itu, dan aku pun terjebak padanya. Haduh.

Nah, hubungan antara Instagram dan kondangan tak jauh beda. Netizen berlomba-lomba untuk posting “Lagi kondangan nih. Kondangan mlulu, kapan dikondangin. Lumayan makan enak di kondangan temen. Congratss ya. Dll.” Bener atau bener? Sumpah, aku kesel banget liat instastory atau semacamnya yang unggah ini. Gak hanya soal kondangan sih, apapun yang nirfaedah lah. To be honest lagi, emang sih kadang aku sendiri ngiri dengan instastory temen, but, I think again, oke ngiri dikit tapi apa sih manfaat kalian ngeinstastory kayak gitu? One aswer, by me, panjat sosial. But its fine sih, di era digital gini efeknya emang kayak gitu. Mungkin aku aja yg perlu berbenah diri. Oke, move to the story behind the title.

Pagi-pagi aku bersiap. Dengan sigap segera mengambil kemeja putih yang nampaknya masih di jemuran. Belum well done kalo istilah untuk steak. Setelah siap dengan alat tempur, a.k.a. parfum dan pomade yang tinggal seucrit, aku memacu kuda mesinku. Melaju ke lebih dari 25 km dari keset depan pintu rumah. Lalu, sampailah ke UGM sekitar jam 10.00 buat nungguin temen2 yang lain kumpul. Biasalah ngaretnya minta ampun.

Setelah siap, cus ke The Alana. Gile. The Alana cuy, Palagan. Kesan pertama, ramai banget. Ya, parkirpun harus menempuh ribuan cm dari gerbang masuk. Itupun kayak udah mau overload gitu. Naik ke atas, ke venue, terlihat antrian panjang menuju kondangn Fida. Yawla, ramai sekali. Semoga di pernikahanku kelak juga ramai. Eh.

Satu persatu anggota keluarga mempelai menerima jabat tangan dariku. Kami, yang hendak berjabat tangan dengan mempelai harus menunggu antrian yang melangkah dengan kecepatan kurang dari 2 meter per menit. Dekorasi bunga yang apik ditambah lighting putih kepink2an, tak luput nyanyian merdu dari pemusik menambah elegant pesta pernikahan mereka. Btw, aku gagal fokus sama OOTD mbak-mbak penyanyinya yang pakai baju pink. Akhirnya setelah 1 jam mengantre, aku bisa bersalaman dengan mempelai. Yeay udah sah kalau mau makan.

Puluhan menu disediakan di Ballroom ini, nampak enak dan wangi. Aku tak sepat menikmati Zuppa Sup dan Es Krim lantaran sudah habis. Aku hanya mencoba mie pakai kikil (lupa namanya), nasi rames, dan es buah 2x. Enak sekali makanannya. Kalau aku ngajakin anak kos pasti senang. Sayangnya, saking ramai pesta, tempat duduknya habis. Duh duh. Maafkan aku Yawla makan sambil berdiri.

Kondangan kali ini, aku datang bersama teman-teman YOT. Sempat bertemu anak Psikologi juga. Ternyata dunia sempit. Aku bertemu Prima, dia datang bersama keluarganya. Ayah Prima merupakan teman dekat ayah mempelai pria. Aku juga menyapa Ahda yang teman seangkatan mempelai di Teladan. Duh, Jangan-jangan kalau aku nanti ke kondangan lagi bakal ketemu mantan. Pasti malu kalau datangnya tanpa pasangan. Dikiranya nanti belum bisa move on. Musti siap-siap dengan jurus seribu alasan. Biar tak malu menjawab pertanyaan mantan di kondangan teman.
Konco Edan ning YOT





0 komentar:

Couple Travelling with Minimum Cost

Desember 23, 2017 Hadafi 0 Comments




Hujan lebat di pagi hari membuat semua orang mager. Mager kerja, mager ngampus, bahkan mager buat beranjak dari tempat tidur. Tapi, gegara paper UAS yang harus dikumpulkan ke lebih dari 25 km dari tempat tidurku, ah apa boleh buat. Kuambil handuk lalu mulai menggosok gigi sambil memegang gayung di tangan kiri. Bersiap buat ngampus di Jumat pagi.

Bau khas tanah sehabis diguyur hujan masih terasa sesampainya di kampus. Matahari mulai muncul dari balik awan tapi gerimis tak mau pergi. Langsung aku menginjakkan kaki ke Bul. Membuka gembok alay yang menurutku nirfaedah. Hidupin PC untuk ngeprint 5 halaman yang belum sempat aku print. 

Selesai ritual di Bul, aku langsung ke kampus, aku jilid, lalu kumpulkan. Aku liat bapak2 pengajaran yang berbeda. Nampaknya beliau tak hadir. Aku disambut pria berseragam biru lalu menanyakan, “Mau ngumpulin tugas mas?” Ujarnya. “Iya brooooh,” jawabku bercanda. Ternyata yang baru mengumpulkan tak lebih dari 10 orang. Mahasiswa sekarang pada males ya? Apa karena hujan? Nampaknya Gen Y memang gitu sih, malesan.

Aku menunggu partner travellingku sekitar 15 menitan. Sendiri. Dia ngechat, “Aku udah sampai nih. Di print2an”. Ya, kali ini aku mempunyai partner yang mau diajak jalan. Cewek lagi. Ah asyiknya. Haha. Dia juga ngumpulin tugas yang sama denganku. Okay, balik ke agenda travelling. Kami mau ke Kotagede.


Kami melaju dengan sambutan gerimis syahdu di antara langit Jogja. Berbekal maps yang ternyata mengarahkan pada jalan yang salah, kami sempat kebingungan ketika hampir sampai di Kompleks Makam Raja2 Mataram. Tempat tersebut merupakan salah satu destinasi travelling di Kotagede. Di areal itu juga ada Masjid Agung Mataram Kotagede. Meski sempat muter-muter, tapi kami bisa sampai di tempat tujuan pertama. Lumayan sepi sih pagi itu. Mungkin karena di masjid juga sedang ada agenda Tabligh Akbar, jadi wisata Makam Raja Mataram sepi.


Wisatawan bisa melihat bangunan-bangun tua ala kerajaan-kerajaan. Bisa lihat mata air. Bisa lihat makam, tapi tidak dibuka pada saat itu. Dan eh, aku sama Fuja ketemu pasangan yang lagi foto PreWed. Haduh, Fuja jadi baper banget tuh. Jadi di Makam2 Raja MAtaram kita bisa liat orang foto PreWed juga. Btw, di sana juga ada penyewaan busana Jawa gitu. Katanya sih kalau mau masuk makam kudu berpakaian Jawa. Gatau deh.

Setelah puas melihat komplek Makam Raja2 Mataram, kami memutuskan untuk mencoba foto di pintu yang banyak tamanannya gitu. Dulu sih sempat terkenal di instagram, tapi sekarang sudah surut kehitsannya. Namun, kami dilarang foto karena mau diadakan Tabligh akbar. Sebenarnya ngekek, karena tak ada hubungannya sih. Tapi kami ngikut aja, toh gak penting2 amat foto di situ.


Selanjutnya aku mengajak Fuja ke Pasar di dekat komplek tersebut. Btw, Fuja itu teman cewek satu angkatan di Psikologi UGM, dia asal Padang. Di pasar, kami jalan dan menyusuri lorong-lorong pasar. Eh ketemu jajanan pasar. Kami membeli 5/6 potong jajanan pasar yang beranekaragam. Cuma 8 ribu cuy. Murah. Setelah beli, kami keluar pasar dan duduk di emperan toko. Bodo amat, kami makan jajanan pasar yang sudah dibeli. Waktu tengah hari, aku memutuskan mencari masjid biar bisa Jumatan. Di sekitar situ, ada Masjid Perak. Aku jumatan di situ.

Selanjutnya kami caw dari Kotagede menuju Malioboro. Oiya, di Kotagede, kami hanya bayar parkir 2 ribu. Meski panas2 dan macet, aku mengajak Fuja untuk menemani jalan-jalan di Kotagede. Kami memutuskan untuk aprkir di Mall Malioboro. Rame banget lah pokoknya.

Satu persatu penjual aksesoris, oleh-oleh dll kami sapa. Lorong Malioboro yang sempitnya minta ampun tambah pengunjung yang membludak tak lupa kami sambangi. Di Malioboro, wisatawan bisa belanja aneka batik dan oleh-oleh khas Jogja lainnya. Di beberapa toko bahkan menawarkan diskon gede2an. Tapi gak segede Gunung Merapi sih. Haha. Aku dan Fuja jalan sambil membicarakan tentang pengalam belanja kami. Lucu sih.

Setelah lapar berkeliling, kami mampir ke Mekdi untuk ngadem di AC dan pesen minuman. Kami berdua habis sekitar 30 ribu. Setelah tubuh adem, kami berjalan2 ke tiap toko di Mall Malioboro. Window shopping lah. Kami melihat aneka sepatu, baju, bahkan sempat pegang-pegang Galaxy Note 8 di Gerai Samsung. Lelah berkeliling, kami memutuskan untuk pulang. Bayar parkir 3 ribu lalu pulang ke UGM karena motorku di sana.

Setelah jalan-jalan berdua, kami lanjut ke urusan masing-masing. Aku ada rapat sama bebakaran di Bul sampai malam. Fuja mau dinner sama temennya. Travelling ala kami ini menghabiskan uang tak lebih dari 50 ribu. Pasnya 43 ribu, oke kita hitung ditambah uang bensin. Mungkin ya sekitar 50 ribu itu. Murah dan menyenangkan tentunya.

Big thanks to Fuja. I hope that we can explore around again. See ya yang mau ke Thailand. Jangan lupa oleh2.

0 komentar:

Punya Mimpi Keluar Negeri? Bikin Paspor Dulu Aja!

Desember 21, 2017 Hadafi 5 Comments

Lobby depan Kantor Imigrasi Kelas 1 Yk

Beberapa bulan yang lalu, ibuku menawarkan diri untuk membelikanku sesuatu. “Fi, arep tuku opo? Klambi? Batik? Po opo?” Ujarnya. “Entuk ra buk nek aku gawe paspor wae?” Pintaku. “Yowes.” Im deal with it. I think that it was better. Someday, I must go flight around the world. Must do it.
Next step, aku tanya temenku yang pernah bikin paspor. Ternyata, sekarang harus login ke laman online imigrasi untuk mengambil nomor antrian. Semacam bikin account gitu pokoknya. Lalu, aku urus itu, memastikan waktu yang tepat buat membuat paspor.
Pagi, Kamis, 14 Desember aku mulai deg-degan. Bersamaan dengan ujian Reksel yang Alhamdulillah lanjay, aku mempersiapkan hari ini dengan rapi. Kupakai kemeja pink yang well banget menurutku untuk ngurus paspor. Aku mendapat jadwal antrian sehabis istirahat siang.
Pertama melangkahkan kaki ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, samping Bandara Adisucipto, aku sempat kaget. Ternyata ramai sekali. Orang-orang berburu nomor antrian terkecil. Apa boleh buat, aku santai-santai saja ngantri. Masih ingat, aku mendapat nomor antrian 171, menunggu sekitar 1,5 jam untuk wawancara dan foto. Masuk loket wawancara dan foto nomor 3. 
Aku berpikir prosedur bikin paspor ribet. Tapi ternyata sangat gampang, cuma ya kudu sabar buat antri. Pertama ambil antrian online. Datang pas hari yang disepakati. Ambil antrian. Nunggu. Dipanggil wawancara dan foto, btw ini formalitas banget (wawancara cuma ditanya mau kemana kok bikin paspor? Udah gitu aja). Habis itu bayar ke kantor pos atau bank. Lima hari kemudian ambil di tempat yang sama. Jadi deh. Simpel kan?
Sempat aku mengamati suasana di Kantor Imigrasi. Seperti biasa, semua sibuk dengan gadget. Ada anak-anak yang berlarian. Mungkin dia lagi dibikinin paspor sama ayahnya. Ada juga nenek-kakek, mungkin mereka ngurus buat naik haji. Ada makanan dan minum gratis. Wifi gratis dengan username Jogjakarta dan password yang kulupa. Ada akuarium gede. Ada juga tempat bermain balita. Petugas imigrasi pun tak lelah meski harus menjawab pertanyaan yang sama ke sekian ratus ribu orang. Tiap hari. “Mbak ini gimana ya antrinya? Mbak bedanya paspor 48 sama 24 apa? Apa yang perlu dibawa mbak? Dst.”
Oiya, biar infonya sedikit bermanfaat, syarat yang dibawa saat mau bikin paspor tuh ada 3. Pertama KTP. Lalu KK. Ketiga Akta Kelahiran. Ketiga berkas itu harus asli, dan kita juga perlu memfotokopi rangkap 1 untuk dikumpulkan. Udah cuma itu aja.
Map Berkas dari Imigrasi

Lanjut ke ceritaku. Nah, saat wawancara aku ditanya perihal keperluanku bikin paspor. Aku sebenarnya bingung mau jawab apa. Honestly, aku bikin paspor kali aja ntar perlu. Selain itu, semoga bisa memacu aku untuk belajar bahasa Inggris. Yaudah, saat ditanya demikian, aku jawab mau ke Ausie mbak, kuliah. Seketika aku tersadar mimpiku di awal semester kuliah. Ya, lanjut ke Monash University untuk S2. Wish that it comes true. Pertanyaan yang sama juga diajuin petugas pos saat aku bayar biaya paspor. Aku jawab dengan jawaban yang sama tapi lebih yakin daripada ketika menjawab pertama kali. Ya, aku jadi yakin.
Terimakasih ibu telah merelakan 355k nya untuk bikin pasporku. Semoga sebelum masa kadaluarsanya di tahun 2022, aku bisa menginjakkan kaki ke Negara lain. Dan aku yakin itu bakal terjadi. Bikin paspor bukan berarti kamu mau ke luar negeri, tapi kamu pasti keluar negeri.
Pasporku jadi



5 komentar:

S.U.R.A.B.A.Y.A

Juli 31, 2017 Hadafi 0 Comments


Kereta Sancaka

Aku terbangun pukul 04.00 pagi. Meskipun hari ini dingin sekali, aku tetap menguatkan diri untuk beranjak dari bantal-bantal nakal. Ya, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersikan diri dan bersiap menuju Stasiun Yogyakarta. Menyentuh pukul 05.00, sarapan telah siap. Aku makan nasi dan telur ceplok sekenanya. Harap-harap cemas, aku yakin kereta Sancaka masih berada di Stasiun Tugu dan baru dibersihkan.

Dugaanku tepat. Pukul 06.00, aku sampai di stasiun. Bapak mengantarku sampai depan pintu keberangkatan. Ya, ini pertama kalinya aku masuk ke stasiun sungguhan. Nerveous memang, tapi sampai dalam juga biasa aja. Aku memperlihatkan boarding pass ke petugas tiket. Dia memberitahu jalur kereta yang harus aku tumpangi. Jalur 5 atau 6, aku lupa.

Kereta sudah menunggu di depan mata. Segera aku mencari gerbong Ekonomi 2 nomor kursi 4D. Aku masih ingat. Ketaruh koper di bagasi atas, lalu duduk menikmati suasana gerbong yang masih sangat sepi. Dinginnya Jogja membuatku ingin pipis. Kuputuskan untuk mencari toilet kecil di atas gerbong. Duh leganya.

Buku The Bad Boy in Suit

Menunggu kereta berangkat agaknya membosankan. Aku memutuskan untuk mengambil buku dengan sampul hitam di koperku. Perlahan aku buka, ya ini buku baru. Satu kalimat, dua kalimat, hingga satu paragraf aku baca. Tak terasa sudah satu lembar, aku tahu isi buku ini. Hmm.... tak terduga.

Semakin siang, satu persatu penumpang mulai berdatangan untuk ke tempat tujuan mereka. Gerbong semakin ramai. Aku berharap ada penumpang yang duduk di sebelah agar bisa berbincang-bincang selama perjalanan.

Kereta berangkat, pemandangan lepas terlihat hijau di antara rel kereta. Aku mulai meneruskan buku bacaan yang ku pegang. Buku ini menakjubkan. Bercerita seorang mahasiswa yang baru kuliah, dan baru pertama kali mengalami jatuh cinta yang sesungguhnya. Dia jatuh cinta pada orang yang dibenci. Ya begitulah. Novel ini tergolong novel dewasa karena beberapa plot yang mengundang erotisme seksual.

Sampai Surabaya

Buku tersebut aku bolak hingga hampir setengah halaman. Sekitar pukul 12.00, aku sampai di Surabaya. Ya, aku sampai di Surabaya. Meski terlambat hampir tiga puluh menit, aku senang. Di depan pintu keluar sudah banyak taksi, ojek, bahkan orang-orang yang menunggu kehadiran kami. Eits, aku gak ada yang nungguin hlo....

Aku berjalan keluar dan segera membuka ponsel untuk order Gojek. Setelah kira-kira 100 meter dari stasiun, Bapak Gojek hadir dan menjemputku sampai di Hotel tempat workshop berlangsung. Selama empat hari, aku akan berkegiatan di hotel tersebut. Ah, mengagumkan bukan?

Sampai di hotel, aku langsung check in. Resepsionist berkata, “Mas di kamar 819 ya, sama Khoirul,” sahutnya. Aku belum kenal siapapun. Karena perut sudah lapar, aku menuju tempat makan hotel, aku melihat teman-teman yang selesai makan (mereka juga ikut workshop). Mulailah, kami berkenalan satu sama lain, mengobrol dengan bahasan ringan hingga makan siang satu meja.
***

Berkunjung ke Tempat Tak Terduga

Hari pertama dan kedua diisi oleh pemateri yang menyampaikan bahasan mengenai jurnalistik keberagaman, HAM, kebebasan beragama dan berkeyakinan, dan cara meliput keberagaman. Asyik sih, tapi menurutku lebih asyik lagi bila sering bertukar pikiran dengan peserta lain. Ya, aku sangat merasakan aroma keberagaman di sini. Bertemu teman-teman dari Sumatra, Jawa, hingga Sulawesi. Potret mini Indonesia, kataku.

Hari ketiga, kami ada field trip mengunjungi salah satu komunitas penghayat kepercayaan Sapta Darma di Surabaya. Bayanganku, aku berkunjung ke komunitas yang masih konservatif dengan idealisme mereka sendiri. Tapi, dugaanku agak salah.

Kami disambut hangat oleh beberapa penganut kepercayaan lokal tersebut. Kami disambut di sanggar tempat ibadah mereka. Agenda trip ini adalah liputan, kami diminta untuk membuat tulisan features dan video singkat dengan bahasan ini.

Mbak Yeni, salah satu penganut kepercayaan lokal menyampaikan kisah-kisah hidupnya selama menjadi kaum yang katanya minoritas. Beliau bercerita kisah-kisah pilu di mana mereka susah untuk eksis di tengah perkembangan masyarakat. Susahnya memenuhi pendidikan agama selama bersekolah. Hingga harus gonta-ganti agama agar bisa memperoleh pendidikan di bangku sekolah. Sejumlah pengikut Sapta Darma yang hadir juga bercerita tentang kosongnya kolom agama di KTP yang membuatnya susah untuk bertransaksi, berobat, dll.

Ini merupakan untold story yang sangat membekas di hati.

Perjalanan Berakhir

Hari terakhir di Surabaya, kami melakukan presentasi hasil liputan di Sapta Darma. Sejumlah tulisan dan video berhasil kami sajikan ke presentasi tersebut. Semua itu merupakan modal awal agar kami sebagai jurnalis agar bisa menyajikan berita yang berimbang kepada pembaca, bukan dalam tema-tema mainstream, melainkan isu-isu sensitif juga.

Selama empat hari, aku mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa di workshop Sejuk. Bertemu dengan orang-orang hebat dengan idealisme yang luar biasa. Terimakasih untuk Mas Thowik, Mbak Nita, Rusyda, Endah, Mas Bagas, Choirul, Aisyah, Taufiq, Respati, Anis, Mas Junaedi dan teman lainnya yang tak bisa saya sebut satu-satu. Terimakasih untuk kenangan indah selama empat hari. Cieeealh, aku lebay.

Hari semakin larut, di Gubeng, aku bertemu dengan anak-anak asal Malang yang habis melakukan seleksi bulutangkis. Sekitar 30 menitan, kami mengobrol. Pesanku, semoga kamu lolos seleksi ke Malaysia ya dek. Terimakasih juga untuk ibu asal Ngawi yang telah menemaniku untuk ngobrol selama perjalanan kereta. Semoga bisa ketemu lagi.


Foto:



0 komentar:

Cerita yang Awut-Awutan

Juli 27, 2017 Hadafi 0 Comments

Cerita kali ini akan sangat berantakan. Mulai dari rapat yang akhirnya jadi ngobrol becandaan hingga ke stasiun hanya untuk melihat-lihat suasananya. Yaps, minggu-minggu libur habis lebaran bukan malah silaturahmi sana sini tapi ngejadwal semrawut gini. Yaudah lah, jika kalian ingin berlanjut baca silakan, siapa tahu jodoh, eh.

Siang itu hari nampak panas. Pake banget lagi. Habis dzuhur, rencananya aku dan teman-temna FMKP mau kumpul di tempatnya Mas Haedar (drummer Patuk yang kece, tapi kadang nggilani sih, -red). Tepat setelah dzuhur ( jam 1an, -red), aku meluncur. Ternyata aku masih jadi orang pertama yang datang, bersama dua orang lainnya. Haha.

Bungkusan makanan dan beberapa toples dikeluarkan dari meja tamu mas Haedar dan siap untuk kami santap. Maksudnya, kami habiskan. Setelah beberapa orang datang, kami siap memulai rapat. Mungkin kurang  berfaedah sih rapatnya, at least sudah kumpul dan syawalan lebih awal. Di akhir, sempet menyiapkan proposal yang mau dikirim ke berbagai tempat. Habis itu malah rencana mau ngambil mangga depan MBT untuk lotisan. Tapi gak jadi karena gak berani. Akhirnya iuran beli buah dan bahan untuk lotisan. Habis itu, malah dangdutan. Ealah anak jaman sekarang.

Seminggu yang lalu aku juga sempet ke SMP Gading aka SMP 2 Playen untuk sowan dan lihat doang. Adikku yang baru saja lulus mau mendaftar SMP. Nah dia aku kasih tahu buat daftar di almamaterku. Ini artinya aku harus nganterin dia ke SMP buat daftar. Sebelumnya, aku cari-cari informasi ke sana.

Bertemu dengan guru SMP membuat aku menganang cerita-cerita masa lalu yang kualamai. Selama 3 tahun aku berangkat dan pulang sendiri lantaran hanya satu-satunya siswa di desaku yang sekolah di sana. Jaraknya pun sangat jauh, mungkin aku merupakan deretan orang-orang yang rumahnya jauh dari sekolah. Aku juga pernah mengalami tindak bulliying meskipun tak sampai parah bahkan bunuh diri. Nyatanya, pengalam-pengalamanku itu menjadikan aku sampai saat ini. Ya, cukup membanggakan sih menurutku.

Beberapa hari ke depan, aku mau berkunjung ke kota Pahlawan. Ini pertama kalinya aku keluar kota sendiri. Pertama kalinya juga aku naik kereta. Tunggu ceritaku selanjutnya ya.



0 komentar:

Sudahkah UGM Ramah terhadap Difabel?

Juli 07, 2017 Hadafi 0 Comments

Source: Kompasiana

Tuhan menciptakan manusia dalam berbagai kondisi yang beragam. Keadaan mereka (kaum disablititas, -red) dengan keterbatasannya bukanlah kehendak mereka sendiri. Pun demikian, Tuhan tak akan menciptakan sesuatu melainkan dengan tujuan tertentu.  Tinggalah kita sebagai ciptaan yang lebih sempurna harusnya tidak menutup mata.


Mereka yang disebut difabel

World Health Organisation (WHO) mendefinisikan kata “difabel” merujuk pada istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan, yaitu permasalahan pada fungsi dan struktur tubuh. Keterbatasan aktivitas merupakan kesulitan individu dalam melakukan tugas. Sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah individu dalam keterlibatannya di lingkup sosial.

Dikutip dari Bulaksumur Pos, difabel merupakan istilah khusus yang ditujukan pada orang-orang dengan kemampuan berbeda (people with different ability). Sebelum istilah difabel populer, masyarakat menggunakan kata “cacat” untuk menyebut mereka yang berbeda (difabel, -red). Pada 1999, aktivis penyandang cacat mulai menyadari dampak negatif secara psikologis dari penggunaan istilah cacat. Sehingga, penyebutan difabel dipilih karena merupakan simbol kesetaraan antara manusia normal dengan manusia yang memiliki keterbatasan fisik.

Kata “difabel” berasal dari Bahasa Inggris differently abled (diffabled). Kata tersebut muncul pada era tahun 90-an di Amerika Utara. Kata difabel berbeda dengan disabilitas, difabel merujuk pada manusianya, sedangkan disabilitas merupakan istilah resmi dalam ratifikasi CPRD (Convention on the Right of People with Disablity) yang menjadi satu frasa dengan kata “penyandang”. Sehingga penyebutan bagi difabel adalah penyandang disabilitas.

UGM ramah difabel

Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu kampus di Jogja yang kehadirannya (bisa) mewakili keramahan Jogja terhadap penyandang disabilitas yang hendak menimba ilmu. Inklusivitas UGM dirasakan dengan hadirnya fasilitas-fasilitas yang menunjang kemudahan akses bagi penyandang disabilitas. Diantaranya, pembangunan fasilitas gedung dengan lift khusus, toliet terpisah bagi difabel, hingga pembangunan ramp bagi pengguna kursi roda di beberapa fakultas.

Beberapa program studi di UGM juga dapat diakses oleh difabel meskipun belum semuanya. Beberapa jurusan yang membutuhkan praktikum lapangan masih menjadi kendala bagi difabel. Namun, demikian, inklusivitas kampus biru ini ditunjukkan lewat keseriusannya dalam menerima mahasiswa baru dengan kondisi berbeda. Sangat disayangkan jika mereka (penyandang disabilitas, -red) tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Sepenggal kisah datang dari Galuh Sukmara, mahasiswa jurusan Psikologi UGM dilansir dari laman ugm.ac.id. Beliau adalah seorang penyandang tuna rungu yang orang lain tak akan menyangka jika lulusan dari UGM. Meski sempat frustasi, Galuh mengalami “proses” panjang dalam kehidupan perkuliahan. Titik baliknya saat Galuh mempunyai teman yang bisa bahasa isyarat dan memintanya untuk menerjemahkan perkuliahn dari dosen. Kala itu, dunia perkulihannya menjadi permata yang diidam-idamkan. Aneh mungkin, tapi kenyataannya bahwa kerja kerasnya membuahkan hasil.

Upaya lembaga pendidikan mewujudkan inklusivitasnya ditunjukkan juga dengan kehadiran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel yang ada di UGM. Kelompok mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap isu-isu disabilitas bergabung dalam satu wadah untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya. Dilansir dari laman solider.or.id, UKM ini memiliki misi utama mengontrol inklusifitas kampus. Meski masih ada kekurangan sana sini, langkah besar telah dimulai dari komunitas kampus ini.

Sejatinya, upaya demi upaya (mungkin) sudah diperhitungkan oleh petinggi-petinggi kampus. Tak bisa menutup mata jika penyandang disabilitas juga berhak atas impian-impiannya yang harus terwujud. Lebih lagi, jika mereka punya prestasi baik dan semangat berapi-api, tinggalah universitas menjadi batu loncatan mewujudkan harapan tersebut.

Selintas opini

UGM  (sudah) bertekad menerima mahasiswa difabel. Saat PPSMB Palapa, rektor sering kali memanggil beberapa mahasiswa baru yang “istimewa” ke atas podium sebagai simbolisasi keberagaman mahasiswa di UGM. Salah satunya dari mahasiswa penyandang disabilitas. Agaknya, momentum sorotan kamera itu menjadi  televisi raksasa untuk menunjukkan kepekaan kampus pada difabel.

Pandangan berbeda datang dari mahasiswa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bulaksumur Pos pada 2012, lebih dari separuh mahasiswa pernah menjumpai penyandang disabilitas di lingkup kampus. Hadirnya mereka (penyandang disabilitas, -red) adalah bukti nyata bahwa kampus menerima mereka. Untuk itulah, keramahan civitas kampus masih sangat diperlukan. Tak hanya bagi kampus beserta civitasnya, kesiapan fasilitas fisik pun menjadi faktor penunjang keramahan terhadap difabel. Sayangnya, meskipun upaya terus dilakukan kampus, sejumlah 77% responden mahasiswa menilai jika fasilitas kampus belum bisa menunjang keramahan terhadap difabel.

Data tersebut memang bisa dikatakan sudah tidak relevan terhadap kondisi kampus saat ini. Sudah lima tahun lalu survei dilakukan, sementara pembangunan dan tranformasi kampus telah berkembang jauh lebih pesat. Namun, data itu masih bisa menjadi refleksi kita sebagai mahasiswa dalam menilai atau memandang mereka yang berbeda.

Sekilas nampak, penyandang disabilitas saat ini telah diberi keleluasaan yang lebih dalam menempuh pendidikan tinggi. Tak cukup soal penerimaan saja, pendanaan hingga fasilitas pun sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Sebagai sesama individu, keramahan terhadap difabel juga harus ditunjukkan lewat senyum dan sapaan hangat kepada mereka. Mereka akan jauh lebih bahagia lagi ketika kita bisa menerimanya apa adanya.

Penulis:
Hadafi Farisa Romadlon
Fakultas Psikologi UGM
* Tulisan ini merupakan esai untuk mendaftar Workshop Sejuk

Sumber:
http://www.who.int/topics/disabilities/en/

https://www.solider.or.id/2017/05/09/peran-ukm-peduli-difabel-dalam-mewujudkan-kampus-inklusif-0

0 komentar:

Customer Service dan Puasa

Juni 24, 2017 Hadafi 0 Comments

Sumber Gambar: https://www.novec.com/Customer_Services/index.cfm


Ini hari terakhir bulan puasa, artinya besok saya kembali ke Fitri. Haha. Selama 28 hari yang lalu, orang bilang jika saya sedang latihan bersabar. Yakin berlatih bersabar? Aku rasa kesabaranku belum terlatih di sini. Sabar? Apa sih sabar?

Sabar bukanlah nama ayah dari teman kamu, mungkin ada, cuma, kita di sini tak akan membahasnya. Takut dosa, soalnya masih dalam range waktu berpuasa. Dilansir dari laman wikipedia, sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Intinya, sabar merupakan kemampuan pengendalian emosi dari dalam diri.

Sabar merupakan kunci dari pengendalian diri. Dalam keadaan terdesak dan penuh kekhawatiran sekalipun, sabar dibutuhkan. Puasa yang notabene dikenal melatih kesabaran agaknya benar halnya. Situasi sulit (lapar dan haus) harus ditahan dari subuh hingga magrib. Tak boleh satu kata pun berisi keluhan terhadap kondisi saat itu. Ketika kita bisa manahan situasi sulit dan tidak mengeluh artinya kita sudah bisa sabar. Yakin semudah itu?

Pernahkan kamu berhadapan dengan seorang Customer Service? Mungkin ketika kamu menanyakan kerusakan ponsel di gerai service atau sedang order di online shop. Pastinya kamu akan menjumpai CS di tempat-tempat tersebut. Bagaimana impresi pertamamu terhadap mereka? Cantik? Ganteng? Judes? Ramah?

Berdasarkan ilmu yang aku pelajari, seorang CS merupakan orang yang ramah dan supel. Perusahaan seharusnya menempatkan karyawan pada posisi tersebut menyesuaikan kriteria-kriteria itu. Hal ini dilakukan demi menjaga kepuasan konsumen. Teknik marketing di era sekarang lebih menekankan pada kepuasan konsumen bukan melulu soal banyaknya hasil penjualan. Lihat saja perusahaan Apple, konsumen Apple dikenal sebagai konsumen yang loyal. Kepuasan pengguna Apple terletak pada produknya yang sangat reliabel dan awet. Namun, masih ada perusahaan yang tidak mengikuti perkembangan era. Mereka memakai teknik marketing jadul.

Berinteraksi dengan CS dan menjadi seorang CS bukanlah perkara yang mudah. Dari sisi customer, berinteraksi dengan CS bisa menjadi pengalaman yang buruk, apalagi jika yang dihadapi merupakan CS judes, ditambah pengetahuan tentang produk/jasa cetek. Menyebalkan sekali bukan? Di sisi lain, menjadi seorang CS juga bukan perkara mudah. Mereka setiap hari harus menghadapi pelanggan yang komplain gak jelas atau terlalu lama menerima penjelasan yang simple. Haduhhhh.. Ujian kesabaran betulan. Selain tekanan dari customer yang multikarakter, tuntutan dari atasan juga tinggi mengingat CS membawa nama baik perusahaan.

Puasa dan menjadi/berinteraksi dengan CS sama-sama melatih kesabaran. Namun yang kedua lebih menguji kesabaran seorang individu, apalagi ketika mereka (CS, -red) tipikal baperan, mutungan, jengkelan, judesan sumpah.... sungguh udik kalo orang tersebut jadi CS. Masa bodoh lah ketika bertemu orang-orang kayak gitu, cuekin aja.

Inti yang mau saya sampaikan adalah cerita akhir ini, beberapa waktu lalu saya mengorder pesanan di situs Piero, saya beberapa kali menanyakan dan mempertanyakan orderan karena ketidakjelasan. Beberapa kali saya nge-chat tapi gak dibalas. Apa yang saya lakukan? Tak sedikitpun niatan untuk marah terhadap CS Piero itu. Aku tanya dengan kalimat yang menurutku sangat sopan. Aku tahu bahwa dia harus membalas satu persatu chat costumer (banyak komplain karena memang sistem website tersebut masih belum optimal, jadi beberapa terjadi kesalahan proses order). Tak bisa aku bayangkan betapa dia harus menghadapi berbagai karakteristik orang di media sosial ditengah tekanan dari atasan untuk berlaku ramah terhadap customers. Bukan untuk sombong tapi aku ingin share ke kalian.

......pesan komplainku......

“Baik min. Terimakasih. Sabar min dgn komplain para customer. Semangat min jawab satu2. JJJJ

“Makasih kakak pengertiannya, kakak orang pertama yang ngertiin L

Dua petilan itu sungguh menyentuh hatiku. Sebagai pelanggan yang ingin komplain, seharusnya kita bisa menata kalimat dalam pesan chat agar enak dibaca sehingga CS tulus menjawab. Sebagai anak Psikologi, aku sisipkan kata penyemangat sebagai wujud kepekaanku terhadap orang lain. Begitu pun, kita harusnya sabar menantikan balasan, lha yang ngechat bukan cuma kamu to?





0 komentar:

Buku Kuning: Its Up to You, You Do It

Juni 14, 2017 Hadafi 0 Comments


Buku Young On Top
Haloooo.... Lama tak update untuk blog ini. Maklum, lumayan sibuk dengan berbagai urusan. Ditambah lagi, saat ini aku harus mengelola @psyme_2017 sendiri. Huhu. Sedih tapi bahagia juga karena aku bisa explore diriku lebih jauh lagi. Yang jelas, aku ingin apa yang aku dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain.

Anyway, aku juga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim di dunia. Semoga puasa yang kita lakukan tak hanya mendapat lapar dan haus, melainkan segudang pahala dari Allah. Amin. Puasa bukannya malah berhemat, tapi banyak bukber yang antri satu per satu. Hmmm

Dua minggu lalu, aku sedang menjalani UAS. Ya.... UAS untuk semester 4 ini. And finally, my Semester 4 was done. I'm happy. But, di semester ini, aku belum ngerancang target atau goal agar liburanku tetap produktif. Meskipun begitu, aku sudah membuat list target yang musti terpenuhi pada liburan ini. Tak perlu aku beritahu ya, cukup aku aja yang tahu. Haha.

Langsung saja ke topik bahasan yang mau aku angkat kali ini. Sekitar 3 hari, aku menyelesaikan buku bacaanku. Buku berwarna kuning karya Billy Boen yang berjudul "Young On Top". Meski sudah 1 tahun lebih aku gabung di komunitasnya, baru kali ini aku selesai membaca. Why? Dulu, aku belum ngerasa butuh buat baca, ditambah aku bukan tipikal yang suka baca. Aku tipe peniru atau imitation. Hehe.

Ulasan pertama dari cover buku. Kata pepatah sih “Don't judge the book by its cover”. Menurutku itu salah besar, apalagi aku yang sudah belajar Perilaku Konsumen. Cover merupakan hal pertama yang dilihat oleh seorang pembaca buku. Ketika covernya bagus, ia akan tertarik untuk memandangi, memegang, bahkan tak ragu lagi untuk membaca. Bak busana seorang bidadari, gaunnya pun harus bagus dan memberikan kesan “wah” bagi pangerannya. Kembali ke buku yang aku baca, kriteria ini sudah terpenuhi dalam buku "Young On Top". Pemilihan warna kuning sangat mencolok dan memberikan kesan “nih buku bagus, cepetan baca”, gitu sih menurutku. Warnanya pun gak norak, cukup tiga warna, termasuk hitam dan putih, sangat cocok bagi anak muda.

Lanjut ke dalam isinya. Di beberapa lembarnya, terdapat kutipan-kutipan yang berasal dari perkataan tokoh ternama, terutama pelaku bisnis yang sukses. Mungkin karena memang Pak Billy memiliki relasi yang banyak dengan berbagai rekan bisnis, nasihat-nasihat dan petuah mereka disampaikan juga lewat buku ini. Sangat cocok bagi kamu yang suka membuat status berisi nasihat atau petuah di sosial media. Bisa jadi sumber kutipan soalnya. Wkwk.

Setelah satu demi satu lembar aku baca, buku ini tergolong mudah untuk dipahami. Penggunaan kalimat sederhana dan sangat khas dengan anak muda, lebih dekat dengan remaja. Ditambah lagi font dan ukurannya cukup nyaman untuk lama-lama dipandangi. Sayang, beberapa kata memang tak disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang tepat, seperti penggunaan kata sapaan slang yang tidak tercetak miring.

Untuk isinya sendiri, sudah tak diragukan lagi. Pak Billy menuliskan hal-hal yang pernah dia alami sendiri. Jadi, tulisan di sini bukan hoax. Tulisan di buku ini based on Billy’s experience and knowledge. Beberapa juga dijabarkan dari kisah rekan-rekan Pak Billy dan kisah sukses lain dari buku bacaannya Pak Billy. Pokoknya, semua tulisannya bukan mengada-ada.

Sayang seribu sayang, ada beberapa bahasan yang terkesan ngambang. Maksudnya tidak ada fact nyata yang diceritakan dalam topik itu atau bahasan topik itu sesungguhnya semua orang juga sudah tahu dan gak perlu diulang. Ini membuat aku berpikir, “Apaan sih? Kok gini, mendingan diilangin aja.” Contohnya bahasan tentang humor.

Aku tidak tahu apakah Pak Billy juga belajar ilmu Psikologi atau tidak, tapi beberapa bahasan emang sesuai dengan ilmu yang aku pelajari. Misalnya mengajak berpikir positif agar hasilnya juga positif. Kalo di Psikologi istilahnya Pygmalion Effect. Tapi, aku kurang setuju mengenai bahasan insting yaitu pada powerful instinct. Sejauh yang saya pelajari, lebih baik membuat keputusan menggunakan intuisi atau malah insight. Insting lebih menekankan pada naluri dan feeling, lebih tinggi lagi tingkatannya yaitu instuisi yang menggabungkan aspek insting dan knowledge. Terkadang malah pengambilan keputusan dengan insight justru lebih tepat karena itu merupakan pikiran pertama kali yg ada di benak seseorang.


Di akhir, aku berpikir buku ini hanya sebatas teori-teori yang hanya digunakan terbatas pada tataran knowledge saja. Jadi cuma sebatas ilmu yang ada di otak. Kabanyakan buku motivasi juga gitu kan ya? Namun, buku ini menyajikan hal berbeda. Ditutup dengan bahasan It's Up to You, You Do It, membuatku sebagai pembaca berpikir ulang. Ini adalah cambuk dari penulis untuk menyadarkan pembaca bahwa buku ini tidak akan berguna jika cuma dibaca, tapi harus mulai diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Great books that i had ever read. Thks Pak Billy :)

0 komentar: