Menemani Senja

Desember 26, 2017 Hadafi 0 Comments


Pemandangan Senja di Bukit Bintang, Yogyakarta


Kemarin Hari Natal. Beberapa orang merayakan natal bersama keluarga mereka. Ada yang makan di rumah. Ada juga mereka yang jalan-jalan ke tempat wisata. Dominasi warna merah dengan sedikit aksen putih menghiasi dekorasi rumah saudara Nasrani. Nampaknya seru. Aku sendiri kemana?

Pada 25 Desember siang, aku memiliki ide untuk nyunset di Bukit Bintang, sekitar 4-5 km dari rumahku. Lumayan dekat sih. Kemudian aku mengajak adikku untuk ikut serta. Maklum, selama liburan ini, dia belum pernah keluar rumah. Haha.

Waktu mulai menjelang senja. Aku bersiap mandi. Adikku yang sudah siap sejak 10 menit yang lalu sudah duduk di depan TV sembari menungguku selesai. Sekitar 5 menit berkutak di kamar mandi, aku keluar dengan wangi Grape dari sabun mandiku. Kutarik jaket dari gantungan baju, hawanya agak dingin sih.

Aku dan adikku telah berangkat. Berbekal niat dan ketulusan hati untuk bertemu si Senja meski Jalan Jogja-Wonosari macet lancar. Sempat pesimis dengan keramaian yang ada di Bukit Bintang, sumpah, lumayan ramai. To be honest, ini pertama kalinya aku duduk di salah satu deretan warung di sini.

“Mas pesan dong?” Ujarku kepada seorang anak yang kira-kira seumuran dan memakai kaos hitam kedodoran. Ia merupakan penjaga warung, kayaknya sih. Ku ambil pulpen dan daftar menu dari meja kasir. Kami memesan teh panas dan Goodday panas. Lumayan, bisa menjadi teman untuk melihat Senja yang segera pulang.
Aku dan adikku menikmati teh dan kopi


Kami memilih warung yang sepi. Hanya ada satu bangku yang digunakan orang pacaran, sisanya kosong. Aku memilih pojok kanan dekat jurang, siapa tahu bisa langsung lompat, eh bercanda, siapa tahu bisa mendapat view yang optimal. Di warung sebelah, orang-orang ramai berbincang sembari sesekali memainkan ponsel pintar mereka. Sayangnya, senja tak seindah yang lalu, awan Cumulus Nimbus (Kayaknya sih, apa ini nama awan hujan? Duh aku lupa.) menutupi indahnya Senja. Apalah daya aku tak bisa usir awan itu.

Aroma pop mie juga menyerbak seluruh ruang di warung itu. Setelah terdengar adzan magraib, kami segera menghabiskan minum yang dipesan. Tak mahal, hanya merogoh kocek 8k untuk kedua minuman tersebut. Ditambah lagi bayar parkir kalau tukang parkirnya ada.  Pas aku di sana, tukang parkirnya sedang sibuk sendiri, jadi gak bayar parkir. Maaf bang. Lumayan terjangkau lah dengan bonus view yang indah. Selamat berlibur kawanku.
Kota Jogja dari Bukit Bintang di senja hari

0 komentar: