Kebetulan passpor aku habis masa berlakunya di Desember 2023, sementara teman kantor - satu tim di HR berencana liburan bersama ke Malaysia. Tanpa pikir panjang, aku langsung bergegas memperpanjang passpor yang habis itu di Layanan Passpor Kemang Village. Butuh waktu tunggu sekitar 1 (satu) bulan untuk mendapatkan nomor antrean. Sementara agar passpor jadi, butuh waktu 3-5 hari dari kita foto. Untungnya, layanan perpanjang passpor cukup baik dan cepat. 

***

Aku bersama mas Aris, temenku berangkat menuju Bandara Soetta sekitar pukul setengah enam pagi, mengejar keberangkatan pesawat jam 9.30 WIB. Sangat excited sekali untuk menginjakkan kaki ke Malaysia. Sampai-sampai, kita semua sangat fokus untuk mempertimbangkan berat bagasi cabin pesawat. Mengingat kami pakai layanan penerbangan AirAsia yang memang tidak dapat bagasi. Hanya cabin 7 kg. Namun untungnya saat boarding, tidak ada pengecekan bagasi. Selamat deh kami. 

Sesampainya di Malaysia, ternyata masih ada pengecekan dari bagian Imigrasi. Kita cuma ditanya mau kemana di sini dan berapa lama. Cukup singkat lah. Tidak lupa untuk ambil foto di bandara sana dan tulisan "Welcome to Malaysia" ya. 

Hari pertama setelah sampai di Malaysia, sekitar pukul 11.30 waktu setempat, kita langsung naik elf menuju ke Genting Highland. Perjalanan menuju sana menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan. Di Genting Highland beberapa tempat yang kami kunjungi diantara yaitu Naik Kereta Gantung di Genting, singgah di Temple Genting, lanjut naik ke atas sebuah Mall di atas bukit dan Kasino, pulangnya kita mampir di Highbrand Outlet Genting. Aku tidak lupa beli sepasang sepatu di Outlet Puma, lumayan dapat disc 30%. Capek sekali hari pertama kami explore Malaysia, sampai apartemen sekitar pukul 9 malam. 


Foto di Genting

Mari kita mulai di hari kedua di Malaysia. Agenda hari ini yaitu kita jalan ke Malaka. Perjalanan dari apartemen kami di Bukit Bintang sekitar 2 jam, semacam Jakarta ke Bogor kalau ibarat di Indonesia. Jadi, area Malaka ini merupakan area bersejarah di Malaysia. Kurang paham juga soal sejarahnya di Malaka, karena kebetulan kami tidak mendapat tour guide untuk menjelaskan area Malaka ini. Yang jelas di sini semacam Kotagede (di Jogja, Indonesia). Kami berkunjung ke Bangunan Kuno, Gereja Merah, Sungai gitu, sama Pasar Tradisional. Tak lupa aku menemukan tempat beli coklat di sana, Beryls. Di hari kedua ini tidak cukup capek, kami sampai di apartemen sekitar jam 8 malam. 


Foto di Malaka

Hari ketiga aku mulai dengan jogging pagi berkeliling saja. Hari ini city tour ke beberapa lokasi di Bukit Bintang. Panas banget ya ternyata Malaysia di bulan pertengahan Mei ini, sama persis dengan panasnya ibukota Jakarta. Hari ini ada beberapa tempat yang kami kunjungi yaitu Menara Twin Tower, Temple iconic yang ada patung Budha (aku lupa namanya), lalu ada Masjid. Sisanya ke pusat oleh-oleh dan Market nya gitu. Aku beli beberapa oleh-oleh untuk di bawa pulang ke Jakarta. Begitulah kiranya ceritaku ke Malaysia. Next aku kemana?

Foto di Menara Twin Tower




Kompleks Makam Raja-Raja Mataram merupakan salah satu destinasi wisata Jogja yang terletak di Kotagede, Bantul. Jika kamu ingin melihat Jogja tempo dulu, bisa mampir ke destinasi ini. Harga tiket masuknya tidak tertera, kita hanya dipungut uang seiklasnya di pendopo untuk perawatan objek sejarah ini. Lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk yang masih bercorak kampung kota jaman dulu. 

Saat itu, aku mengunjungi objek tersebut berdua, menikmati asrinya Jogja tengah kota. Love banget sama suasananya pada waktu itu. 



Dinginnya malam ini aku merenungi semua hal yang pernah kulakukan. Aku sebagai manusia ingin semuanya berdasar apa yg aku mau dan inginkan. Namun kenyataannya Allah memberikan plus dan minus kepada tiap hambanya. Jangan dikira, semua hal yg dialami seseorang hanya kebahagian, kekayaan dan lain sebagainya. Ingat, wang sinawang.

Jika aku boleh meminta Allah untuk memutar waktu kembali. Aku ingin dulu tidak melakukan hal-hal yang membuatku seperti ini. Aku hanya ingin melakukan hal-hal yang menjadi mimpi dan impianku. Namun, semua telah terhadi. Allah telah menggariskan hidupku. 

Kini, aku hanya bisa bersyukur tentang semua yang telah Allah berikan kepadaku, baik atau buruk. Aku terima apa adanya. Tinggallah tanggungjawabku untuk mengubah hal buruk menjadi hal baik. Berat. Berat sekali. Aku hanya ingin melakukan itu, mengubah hal buruk menjadi hal baik. Agar kelak, aku bisa bahagia abadi. 

Setiap keputusan tidaklah mudah, namun harus tetap dilaksanakan.

***

Berbekal almamater kampus ternama bukan jaminan untuk memudahkan kita dalam mencari kerja. Aku, lulusan cumlaude Fakultas Psikologi UGM tahun 2019 nyatanya hampir putus asa dalam mencari pekerjaan. Padahal, aku sempat intern selama 5 bulan di salah satu company di Jogja. Lebih dari 100 lamaran telah kukirim ke berbagai company.

Aku bersyukur, masih ada company yang bisa menerimaku apa adanya. Sebetulnya, di Jogja pun aku sudah mendapat offer dari company tempatku intern. Gajinya lumayan bahkan, menyamai gaji ibuku yang PNS golongan 3a. Tapi aku terlalu idealis, harus menolak demi ambisi bekerja di Jakarta.

PT Asjaya Mukti Graha, sebuah family business property di Tangerang, menjadi tempat pertamaku mencari pengalaman bekerja. Aku cukup gembira bisa mengerjakan all things about HR di sini. Tapi Saku merasa berbeda visi misi degna bosku, Harry Khoe Suryo. Sehingga, aku memutuskan untuk pindah ke pekerjaan baru.

Aku cukup mudah untuk berpindah ke company selanjutnya, its my luck. Aku dihubungi seseorang lewat Linkedin. Aku ditawari beliau pekerjaan di PT Porter Primalayan Utama, startup logistik. Aku mengiyakan tawaran orang tersebut, penawaran dari mbak Aurora.

Di Porter aku merasa berkembang pesat. Aku, Safira, dan Mbak Aurora sama-sama belajar membangun HR di company itu. Aku bertanggungjawab dalam mengurus end-to-end rekrutmen di Porter. Mulai dari operation hingga Tech. Ada lagi adhoc task yang aku kerjakan. Sungguh, banyak sekali kejadian-kejadian di Porter yang membuatku jadi tumbuh. Meski Porter belum sebesar startup lain, aku senang bekerja di sini. Apalagi tim HRnya solid banget.

***

Aku tidak sedang mengigau. Aku pernah bermimpi suatu saat nanti bisa bekerja di salah satu gedung tinggi di Jakarta. Aku selalu yakin hal itu suatu saat nanti bisa menjadi kenyataan. Di dua perusahaan sebelumnya, lokasi kantor di area perumahan dan ruko. Aku belum pernah merasakan kantor di area gedung tinggi. Entah mengapa, aku ingin sekali. Ketika aku pulang naik busway melihat indahnya gedung-gedung tinggi itu, aku iri. Tapi, aku selalu yakin, suatu saat mimpiku akan menjadi nyata.

***

Masa-masa sulit dalam pekerjaan sering menjumpaiku. Ada kalanya, aku berpikir untuk menyerah. Di bulan Desemnber 2019 merupakan awal kegundahanku. Companyku tidak cukup stabil secara funding. Kami terbayang-bayang untuk tidak bersama lagi. Sedih, rasanya sedih sekali jika harus berpisah bersama timku.

Pada akhirnya, kenyataan buruk itu tidaklah benar-benar pahit. Aku bisa merasakan berkantor di gedung tinggi setelah Porter bergabung ke Shipper. Ada hikmah yang harus aku petik dari drama-drama pahit itu. Hal yang masih bisa aku banggakan sekarang ini. Satu lagi, mimpiku terwujud.

Cohive Lt 12 Plaza 89

Ruang tengah Cohive Lt 12 Plaza 89

Aku harus terus bersyukur, setiap kejadian yang terjadi padaku akan mendekatkan kepada impian-impianku selanjutnya. Tetaplah bermimpi segila apapun itu, Kawan.



Sudut Lobby Pako Group
"Aku menyesal menolak pilihan aman di depan mata. Aku terlalu idealis. Andai waktu bisa diputar. Ah sudahlah, semua berlalu begitu saja. Aku memang bodoh,” batinku menggerutu sebelum tidur.
***
Sudah tiga kali aku mengemasi barang bawaan menuju Jakarta. Pertama di awal Januari, kedua di pertengahan bulan, dan terakhir di Februari ini. Aku harap itu terakhir aku ke Jakarta untuk mencari kerja. Memang sebagai seorang lulusan baru yang tanpa pengalaman professional sangat susah mencari pekerjaan. Dan aku baru saja menyadari hal itu.
***
Tasku sudah siap. Jam pada arloji menunjukkan pukul 14.00. Bergegaslah aku menuju Stasiun Lempuyangan untuk menghadiri interview esok hari di Sunter, Jakarta. Dua atau tiga hari yang lalu, aku mendapat email dari Pako Group, sebuah company yang memproduksi vleg, perusahaan besar milik Triputra dan Astra ini menjadi perusahaan pertama yang terpikat oleh profilku di portal Jobstreet.
Tengah malam aku sampai di Stasiun Pasar Senen untuk pertama kalinya. Tak tahu harus kemana dan untuk apa. Aku hanya ingat jadwal interviewku besok, pukul 8.00 tepat di Head Office Pako Group. Aku berusaha memejamkan mataku di bangku-bangku besi stasiun. Dingin memang, namun kutetap berusaha keras sembari mendekap erat tas hitamku, berharap bisa tidur barang kali satu atau dua jam. Dugaanku salah, aku tak bisa sedikitpun tidur di kursi-kursi keras ini. Sesekali aku menyalakan ponsel untuk melihat notifikasi pesan. Tak ada yang kulakukan selain menunggu waktu hingga matahari terbit pagi hari. Semoga esokku cerah.
Setelah sholat subuh dan gosok gigi di toilet stasiun aku siap. Entah isyarat apa dari Tuhan, pagi itu Jakarta diguyur hujan deras, benar-benar deras. Hari ini, Kamis, 10 Januari 2019 menjadi hari penuh perjuangan bagiku. Di depan monument samping Pasar Senen aku berkutat dengan ponsel berharap ada Bapak Gojek yang mengambil orderku. Kuputuskan untuk tidak memesan Gocar karena harganya terlampau mahal, setengah harga tiket keretaku ke Jakarta. Seorang pria yang usianya kemungkinan seumuran denganku datang menawarkan helm dan mantel plastik sekali pakai. Apa boleh buat, meski masih gerimis kami harus bergegas.
“Pak kamar mandi di mana ya?,” ujarku kepada satpam Pako Group. Celanaku basah kuyup, seperti cucian yang baru saja dijemur tapi harus ku pakai. Aku tidak habis pikir lagi bagaimana penampilanku saat itu. Aku tidak peduli, aku cuma terus berdoa dalam hati, “Ya Allah lancarkanlah urusanku hari ini.”
Aku menunggu di pos satpam, bertemu Yoga, talent lain yang berharap bisa bergabung ke perusahaan ini. Kami mengobrol, kami sadar kami datang dari kota yang sama, tujuan pun kebetulan sama, tapi nasib kami belum tentu. Satu lagi talent lain datang, mengobrol dan curhat bagaimana susahnya dapat pekerjaan.
***
Seperti psikotes biasanya, ada tes potensi akademik, grafis, kepribadian, dan pauli. Sebetulnya aku tidak terlalu suka dengan tes macam ini. Hasil tesnya paling diagung-agungkan untuk memutuskan kelayakan seorang talent, menurutku. Sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan perusahaan yang menerapkan rekrutmen dengan psikotes seabreg dan wawancara sederet. Kini, zaman sudah berubah (pikirku). Memangnya tidak ada perusahaan yang menggunakan penilaian social media behavior kandidat untuk menilai kemampuan literasi, berpikir kritis, relasi, atau rekomendasi dari koneksi mereka? Atau kah HR company belum tahu teknik interview BEI untuk menilai problem solving dan pengalaman kandidat di masa lalu? Bukan menyindir, ini hanya penilaianku sekilas saja. Setiap perusahaan punya aturan dan cara mereka sendiri.
Proses rekrutmen di Pako Group telah selesai kujalani. “Seminggu lagi kamu akan dihubungi jika user tertarik dengan profilmu,” terang HR sesuai mewawancaraiku. Seperti tak tahu saja aku, itu kata-kata untuk menolak kandidat lebih halus. Talent yang bagus dan cocok di perusahaan, mana mungkin pergi begitu saja. Aku sadar, Pako Group bukan lah perusahaan yang cocok saat itu. Entah ke depan seperti apa, aku serahkan semua pada Tuhan. Aku telah melupakan prosesnya dan mengambil pelajaran berharga di tiap kejadian itu. Ini tak mudah memang. Aku kecewa tidak menerima penawaran kerja di tempat magangku. Ah sudahlah.

Pintu masuk Gogor Park

Aku lupa kapan harinya, kayaknya tiga hari yang lalu, selasa. Aku dan beberapa teman FMKP mencoba track Gogor Park untuk kebutuhan kegiatan upgrading, semacam outbond gitu. Aku, Rustam, Aziz, Faatika, Inka, Devin, Latifah, dan Yuni jalan-jalan di objek wisata baru Patuk tersebut. Tapi Latifah dan Yuni tak ikut explore lebih jauh. Di sini seru sih, tapi  menurutku Gogor Park masih perlu pengembangan ke arah safety-nya biar pengunjung selamat ketika ingin explore lebih jauh. Berikut ulasannya.

Gogor Park terletak di Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Sekitar satu kilometer arah timur dari Kantor Kecamatan Patuk. Wisata ini menyuguhkan pemandangan hutan, sungai, dan air terjun tersembunyi. Ketika masuk, pengunjung akan disambut dengan papan nama Gogor Park dengan logo kaki macan berwarna oranye. Katanya sih, dulu, daerah ini merupakan rumah macan alami, hutan gitu. Jadi, tahun 80an, ditemukan goa sebagai tempat tinggal macan di sini. Tapi sekarang, tak pernah ada lagi macan yang terlihat., gak tahu sih udah punah atau memang sembunyi. Bekas goa mereka sih masih ada. Ngeri gak gengs?

Tempat wisata ini tergolong baru di Patuk, aku saja baru dengar. Karena itu, tempatnya tak selalu ramai. Saat kami datang, loket tiket tutup, tak ada pengelola yang jaga atau menunggui. Yasudah, lucky me. Parkir pun tak ada yang mengarahkan. Kami meninggalkan motor di depan, dekat warung. 

Pertama datang, pengunjung akan disambut dengan pemandangan hutan dari ketinggian yang tidak terlalu tinggi. Pengunjung bisa melihat lebatnya hutan dan awan biru menyapa, kalau lucky sih. Ada semacam pendopo  juga yang bisa digunakan istirahat. Sebenarnya, ada juga taman bunga matahari, tapi sayangnya pas kami ke sana, bunga tersebut belum ditanam. Mungkin karena bukan musim yang tepat. Ada juga spot foto berupa meja-kursi dengan background hutan di belakangnya. Kece abis deh pokoknya, terlebih ketika cuaca cerah mendukung ditambah fotografer profesional. 

Spot foto di Gogor Park

Jackpot wisata Gogor Park menurutku adalah air terjun. Untuk sampai ke air terjun, dibutuhkan perjuangan ekstra melewati jalanan curam, hutan yang super duper lebat, dan sungai yang dingin. Aku menganjurkan kamu untuk explore tempat ini rame-rame. Gila aja kalo sendiri atau berdua sama pacar. Tempatnya sunyi sepi seperti di tengah hutan, bukan seperti, tapi beneran di tengah hutan. Hati-hati ya.
Susur sungai di Gogor Park

Kuulangi lagi, jalan menuju air terjun sangat curam. Kalian harus hati-hati melewatinya, jangan sampai jatuh dan nungjep. Hanya ada jalanan setapak bekas orang jalan, bukan jalanan semen apalagi karpet merah. Arahnya pun hamper vertikal karena letak air terjun jauh di bawah sana. Disekeliling perjalanan ke air terjun, pengunjung akan disambut suasana sunyi. Ada suara-suara khas di hutan juga, entah burung, jangkrik, atau suara mantan minta balikan. Tak lupa, ada gemericik air sungai mulai terdengar ketika mau sampai bawah. Selanjutnya, kami menyusuri aliran sungai karena tidak ada jalan setapak di pinggirnya. Benar-benar susur sungai. Pengunjung perlu berjalan di tengah sungai kuranglebih 1 km untuk sampai air terjun. Untungnya, sungainya kecil, jadi aman. Tapi gak tahu kalau ada binatang buas atau ular gitu. Haha. Untungnya, kami tak menjumpai satu diantaranya, cuma sarang laba2 yang banyak banget.

Beruntunglah kalian yang mampir di air terjun ini. Biasa lah, ciptaan Tuhan mampu menghipnotis mata kami. Indah sekali. Gemericik air yang jatuh memecah kesunyian tempat ini. Aku sempat mencoba menyentuh dinginnya air yang jatuh, berfoto-foto juga.  Rasanya, tak ingin pulang sebelum baju ini kering, aku tak bawa baju ganti. Haha.
Air terjun di Gogor Park


Setelah puas menikmati air terjun, kami pun kembali ke pendopo atas. Jauh sekali, perjalanan yang hampir sama seperti tadi. Bedanya, ini sungguh menanjak. Tapi lumayanlah, untuk free entry, tempat ini sangat cocok bagi orang yang suka nonton My Trip My Adventure. Tapi aku gak tahu kalau pas loket buka kudu bayar berapa. Cek sendiri yak kalau mau tahu detail lebihnya.

Source: http://sorongselatankab.go.id/index.php/news/read/2015/10/15/165/puskesmas-saifi-terima-mobil-pusling.html

Puasa: jam 9 sudah berbuka

                          Aku tidak ingat kapan tepatnya aku diajari ibu untuk berpuasa. Yang jelas sekitar awal – awal aku masuk SD. Dulu, bulan ramadan tidak ada kegiatan belajar mengajar. Jadi bulan puasa tuh sekolah off. Enak kan? Honestly enggak. Enggak enak. Gaada kegiatan, puasa lagi. Mana tahan?

                          Sahur adalah bangun malam untuk makan sebelum berpuasa. Saat itu aku dibangunkan ibuku untuk sahur. Aku bangun lalu cuci muka. Ibuku mengambil makan untukku. Seperti kebanyakan orang puasa, sahur tuh males banget. Kalau gak benar2 niat, susah bangun. Untuk ibu setia membangunkanku. Alhamdulillah.

                          Puasa pertamaku trejadi saat sekolah libur. Ini semacam ketentuan dari dinas gitu kalau bulan puasa libur. Dari pagi aku mencoba untuk tidak melihat makanan. Sampai aku jalan2 keluar rumah dan tidak sengaja aku mengambil bunga berwarna ungu. Aku menghisap madu didalamnya. Aku lupa saat itu sedang puasa. Aku bilang ke ibu bagaimana puasaku. “ Puasamu tidak batal karena kamu tidak sengaja. Jika kamu sengaja menghisap madunya, baru, puasanya dianggap batal,” ujar ibu menenangkanku. Syukur deh.

                          Tidak hanya lupa puasa, saat jam menunjukkan pukul 09.00 aku sudah merasa lapar. Aku bilang ke ibu jika aku sudah lapar. Ibu menjelaskanku dan menasehati untuk makan karena aku baru belajar berpuasa. Tapi aku masih ngotot untuk tidak makan. Pada akhirnya aku juga tidak bisa menyelesaikan puasa setengah hariku itu. Terpaksa jam 09.00 aku sudah makan. Haha.

Mobil putih mengerikan

                          Aku sedikit lupa tentang apa yang aku alami di tahun  pertama belajar di sekolah dasar. Yang sampai hari ini tak terlupakan adalah rasanya memiliki guru yang bernama Bu Darifah. Senang sekali, beliau mengajar dengan penuh kasih sayang sehingga tak jarang mendapat nilai 10 pada matematika. Itu terjadi saat kelas 1 SD kalau gak salah. Dulu, aku lumayan pinter sih. Bahkan pernah nilai rapor matematika 10. Kelas 1 gitu.

                          Beranjak ke tingkatan selanjutnya, aku sempat beberapa bulan bertemu guru killer. Namanya Bu X. Beliau sangat killer sampai –sampai pernah ada yang dilempar kapur karena bercana sendiri. Tapi aku tak sempat merasakan itu. Mungkin killer untuk beberapa anak saja, except me. Tapi sekarang kayaknya udah tidak seseram dulu. Akupun ketika bertemu beliau biasa2 aja. Hehe.

                          Melihat mobil putih di depan gerbang sekolah selalu menjadi momok bagi murid SD. Pastilah mereka dari Puskesmas yang secara rutin melakukan cacar pada kami. Jadi, beberapa kali aku mengalami suntik di tahun-tahun awal SD. Ada vaksin gitu, terus suntik cacar, dll. Ada juga pembagian susu gratis atau makanan. Kalau gak salah, setiap 2x seminggu ada pembagian susu kotak untuk peningkatan gizi. Ada juga pembagian PMTAS (lupa kepanjangannya, tapi itu program bagi makanan untuk peningkatan gizi).

Paling seru ketika ada mobil putih yang aku ceritakan sebelumnya datang. Anak-anak sembunyi, berteriak, diam gemetar, dll. Tapi, aku cukup berani, walaupun terkadang masih merasa ragu. Kami pasti beranggapan disuntik terasa menyakitkan. Tak heran jika ada beberapa temanku yang menangis ketika disuntik. Padahal aslinya juga tidak sakit. Eh, sakit sih.

Ilustrasi

                          Aku memiliki sahabat kecil bernama Andi. Umurnya memang satu tahun lebih tua dariku. Sejak aku pindah dari Kalasan ke Patuk, GK aku mengenalnya. Kami menjalani masa – masa bermain yang tak kuingat persis bagaimana. Yang jelas kami selalu berangkat bersama ketika mau sekolah. Tak hanya Andi, kayaknya aku juga sering bermain bersama Zafran.
                          Tak jarang dalam persahabatan memang sering terjadi konflik. Memang itu kami akui. Namun hal sepele sekalipun bisa menjadi luapan emosi saat itu. Pernah, suatu pagi di TK, guru memberi tugas untuk menggambar. Aku dan Andi memilih menggambar satu alat transportasi (lupa apa gambarnya), pemicu permasalahan adalah dia mencontek apa yang aku gambar sehingga gambar kami sama. Aku marah merasa tak mau dicontek. Kami pun berkelahi. Hingga saat itu kami enggan bertatap muka sementara, kayaknya sih gitu. Kami berdua juga menangis sih. Biasa lah anak kecil gitu.
                          Awal karir ibuku sebagai guru dimulai ketika mendaftar guru honorer di TK tempat aku bersekolah. Belum lama bekerja, ibu menghadapi masalah dengan TK tersebut. Aku memang masih anak umur 5 tahun, tapi kejadian itu selalu aku ingat. Mulanya hanya sebuah rapat biasa, tapi entah mengapa ibuku   menangis. Aku memang tak tahu apa permasalahannya, namun di situ aku menangis karena ibuku menangis. Kami, murid TK itu berada di ruang terpisah dengan rapat yang dilakukan ibu bersama guru lain. Namun aku masih ingat tetes air mata ibu yang mengalir. Keesokan harinya ibuku tidak pergi mengajar, aku juga demikian tak ingin untuk bersekolah. Namun ibuku tetap menasehati agar aku pergi bersekolah. That was the great moment. Setelah aku remaja, aku tahu kenapa ibuku menangis saat itu. Ada salah satu guru di sana yang tidak suka dengan kehadiran ibuku. Itulah kenapa paginya, ibuku berhenti mengajar di TK tersebut. (Penjelasan Psikologi, orang dewasa mungkin mengira anak kecil/balita lah masih tidak tahu masalah orang dewasa. Namun, kepekaan mereka terhadap informasi dari lingkungan sangat tinggi. Ini lah yang dinamakan masa golden age. Emosi yang dirasakan ibuku, suasana saat hari itu, masih teringat jelas dalam memoriku. Semakin jelas karena menyangkut pengalaman significant other/ orang terdekat.)
                          Masa TK adalah masa bermain yang melatih kemamupuan awal kehidupan di masyarakat. Salah satu permainan untuk menguji mentalku adalah titian. Aku memang takut sekali sama ketinggian. Ketika itu beberapa kali di taman kanak- kanak kami, murid disuruh untuk berjalan menaiki papan titian. Aku selalu takut dan merasa ingin menangis ketika mau mencoba untuk menaiki papan titian, ditambah harus membawa gelas berisi air dikedua tanganku. Namun aku pernah berhasil melewati tantangan tersebut walaupun tak selalu berani.

Zafran, Hadafi, Mbak Ayu, Andi

Overview singkat
Namaku Hadafi Farisa Romadlon. Orang – orang disekitar biasanya memanggilku dengan nama Hadafi atau Dafi. Aku lahir pada hari Minggu, 01 Desember 1996 di Sleman. Kedua orang tuaku adalah Romadlon Haryadi dan Sarmiyati. Bapak  bekerja sebagai pegawai wiraswasta atau pedagang. Ibu sebagai guru di salah satu taman kanak-kanak di Gunungkidul.  Aku tinggal bersama mereka ditambah adik, Hafid Cahya Romadlon, seorang laki- laki yang saat ini duduk di bangku SMP.
Aku kecil dan besar di Patuk, tepatnya tinggal di Panjatan, RT 08 RW 02, Pengkok, Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah sederhana yang kami tinggali dengan suasana desa yang asri.
Aku memiliki golongan darah B, mempunyai sedikit minat pada fashion, dan suka mendengarkan musik. Aku cukup aktif di media sosial untuk meng-update informasi, tapi sekarang mulai redup. Entah, mungkin karena aku mau lebih menghormati privasiku. Oiya, aku juga punya hobi di bidang jurnalistik juga hlo.
Selama hidup ini, aku pernah bersekolah di TK Masyitoh Kebokuning, SD N Pengkok, SMP 2 Playen, dan SMA N 1 Wonosari. Saat ini aku masih berusaha untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UGM. Sekian gambaran singkat kehidupan yang aku alami.
Hadafi Farisa


Ingatan masa kecil
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, aku lahir pada 01 Desember 1996. Menurut penuturan ibu, kelahiran anak pertamanya ini terbilang unik. Normalnya, bagian tubuh pertama yang keluar dari rahim dalah kepala, namun bagian bokongku lah yang pertama kali keluar dari rahim ibu. Entah mengapa itu terjadi, yang jelas alhamdulillah selamat. Sampai sekarang, aku tak bisa membayangkan bagaimana bisa bokong yang kelaur duluan.
Tidak hanya mengenai proses kelahiran, pada proses perkembanganku tidak melalui proses merangkak melainkan ngesot, hal aneh bagi orang awam memang. Kata ibuku, celana sampai kotor karena ngesot kesana kemari. Beliau tidak segan mengatakan kecepetan ngesotku melebihi kereta. Tapi itu normal kok, kata dosenku emang semisal dia gak merangkak, dia ngesot. Sans.
Aku gak ingat masa kecilku seperti apa. Ini wajar juga. Kalo istilah psikologinya infantil amnesia, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat kejadian masa kecil. Mungkin kalau aku ingat keluar rahim bokong dulu, ngeri kali ya? Nah lo. Dari penuturan Emak tersayang, aku sering dikira cewek saat digendong ibu di angkot. Kenapa? Kulitku putih kuning gitu, pokoknya mulus. Karena itulah aku dikira orang-orang diangkot cewek.
Momentum yang masih teringat sampai sekarang yaitu ketika aku digendong ibu tepat di belakang rumah nenek, Gatak, Selomartani. Suasanya sejuk dan angin sepoi- sepoi masih terasa sampai saat ini. Ditambah lagu “Gambang Suling” yang dinyanyikan ibu dengan merdu mempertegas kasih sayang beliau yang diberikan kepadaku. Aku selalu merindukan masa bayiku ini.
Tahun pertama aku lahir, aku dibesarkan di Kalasan, rumah nenek. Setelahnya aku baru pindah ke Patuk, Gunungkidul. Di sini, aku memiliki teman masa kecil. Mereka adalah Andi dan Zafran. Satu lagi, namanya Mbak Ayu, dulu sering main bersama kami. Tapi, aku sendiri lupa main apa.
Waktu kecil, aku sering diajak simbah dari bapakku. Paling suka diajak main ke rumah tetangga, lalu makan nasi anget plus kecap. Duh enaknya. Dulu hanya orang tertentu yang punya magic com, nah kebetulan dia punya. Enak banget pokoknya makan nasi sama kecap gitu.

Lembar tes Wartegg

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan pihak tertentu atau instansi tertentu. Tulisan ini murni argumen pribadi saya mengenai beredarnya buku-buku tips dan trik jitu lolos tes Psikologi dan semacamnya. Saya Hadafi, mahasiswa semester 5 Fakultas Psikologi UGM berusaha mengulasnya lewat pengetahuan yang saya dapatkan di bangku kuliah.

Sudah lebih dari sepuluh pertanyaan telah dilontarkan kepadaku. “Bagaimana sih cara lolos tes Psikologi?” “Kerjakan sesuai kondisi dan kemampuanmu, jangan lupa istirahat yang cukup agar kondisimu fit saat kamu ikut tes,” jawabku berulang kali kepada mereka. Ya, tak ada rahasia sukses tes Psikologi selain itu. Meski aku sempat lihat "kunci jawabannya", aku yang belajar pengadministrasian dan skoring pun tak mau melakukan kecurangan saat pelaksanaan tes. Gak mau. Penjelasannya nanti ya.

Sebelum bahas lebih lanjut, aku mulai dari hal yang mendasar. Atribut Psikologi sebagai objek Psikologi dikategorikan menjadi dua, pertama atribut kemampuan (inteligensi, bakat, prestasi) dan atribut nonkemampuan (kepribadian, sikap). Nah, penjabaranya demikian. Inteligensi diukur menggunakan tes IQ (CFIT, WAIS, SPM, Binet, dkk). Bakat diukur menggunakan tes bakat (DAT, FACT, GATB, dkk). Prestasi diukur dengan tes prestasi (semacam tes di SD, SMP, SMA) atau bisa juga dilihat dari portofolio. Sementara, kepribadian diukur dengan tes proyektif (DAP, DAM, Wartegg, Rorsarch) dan nonproyektif (MBTI, 16PF). Sikap diukur menggunakan skala.

Kebanyakan tes yang diberikan pada orang-orang dalam seleksi kerja yaitu tes IQ dan tes kepribadian. Beberapa instansi juga menggunakan tes bakat, apalagi bagian administrasi. Tes IQ bisa dikemas juga menggunakan tes potensi akademik. UGM sudah memiliki tes jenis tersebut, biasanya digunakan juga dalam seleksi perusahaan yang menghire jasa UGM (LPKM Fakultas Psikologi). Mari kita ulas dua jenis tes itu saja.

Tes inteligensi

Tes inteligensi berbeda dengan tes prestasi. Kita tidak perlu belajar tiap soal tes inteligensi karena hal itu mengukur kemampuan potensial individu. Berbeda dengan tes prestasi, doi mengukur kemampuan aktual individu. Penjelasan sederhananya, tes inteligensi mengukur batas optimal yang mungkin dicapai individu baik sekarang atau tahun depan. Sementara tes prestasi mengukur realisasi keberhasilan belajar mengenai materi tertentu. Duh ribet ya. Aku kasih contoh, tes inteligensi misalnya tes potensi akademik, tes prestasi misalnya, ujian Biologi SMA. Tahu bedanya gak? Aku kasih contoh nyatanya biar lebih paham.

1.      Tes Potensi Akademik

Soal: 1,6,3,6,11,8,….

Jawab: Gak ada rumusnya, orang yang punya kemampuan mengerjakan yasudah langsung tahu jawabannya yaitu 16. Kalau kamu misal tahu rumus  matematika, gabisa diaplikasikan di soal itu. Kalau aku tentormu, mungkin aku bisa kasih tahu penjelasannya pada jawaban itu saja, nah kalau soalnya beda?


2.      Ujian Biologi SMA

Soal: Apakah jagung termasuk monokotil?

Jawab: Ya. Kamu bisa cek di buku Biologimu. Pahami atau biasanya dihafalkan. Bisa jawab. Konsepnya jelas.

Nah, ini aku mau tunjukin kalau tips mengerjakan tes IQ yaitu kerjakan sesuai kemampuanmu dan jangan lupa istirahat yang cukup agar kamu fit. Kalau kamu pelajarin soal demi soal tes potensi akademik, yang ada pusing dan justru malah jadi beban. Ini justru mengganggu kondisi mentalmu. Pada dasarnya testee (orang yang dites) akan mencapai hasil optimal jika melakukan tes dalam keadaan yang sehat dan nyaman. Teori hlo ini. Jangan bergadang buat mempelajari buku tips dan trik mengerjakan tes Psikologi.

Tes Kepribadian

Tes kepribadian yang digunakan instansi atau perusahaan sangat variatif, banyak macamnya. Aku tak bisa tahu spesifik jenis tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian calon karyawan. Malah, tes kepribadian ini kadang disingkirkan oleh alat asesmen kepribadian yang lain yaitu observasi, wawancara, FGD, atau LGD. Kayaknya banyak perusahaan yang beralih ke situ karena memangkas cost tes Psikologi yang mahal. Kenapa mahal? Lain kali aku jelaskan pada tulisan lain.

Setahuku tes yang bisa digunakan dalam seleksi yaitu MBTI dan Wartegg. Kita ulas satu persatu. Tes MBTI merupakan alat ukur kepribadian. Hasilnya berupa kecenderungan kepribadian kamu. Peserta diminta untuk menjawab pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Setahuku tes MBTI mudah untuk faking good (menunjukkan jawaban yang baik, padahal tidak sesuai keadaan sebenarnya), tapi aku belum ambil mata kuliahnya, jadi tidak bisa mengulas lebih detail. Nah, sebenarnya faking good itu malah menyesatkan hlo. Kenapa? Nanti aku jawab.

Selanjutnya tes Wartegg. Peserta diminta meneruskan gambar pada kotak. Nah, jujur skoring tes ini sangat ribet. Ribet banget. Mungkin Psikolog yang sudah sering memakai tes ini tidak sampai skoring sebegitu komplek. Mungkin hanya dilihat pada aspek tertentu saja yang diungkap menggunakan tes Wartegg. Mungkin hlo ya. Ketika aku mempelajarinya, sebenarnya aku jadi paham dan bisa saja berbuat faking good pada tes ini. Misalnya, gambar garis bergelombang menandakan kecemasan, nah aku menghindari garis gelombang meski aku lebih suka menggambar garis bergelombang. Kita berpikir orang yang cemas tidak akan dipilih perusahaan/instansi. Tapi, aku tidak menyarankan kamu melakukan hal itu. Kenapa? Merugikan kita malah.

Setahuku, ada tes Psikologi, lupa namanya yang bisa mengetahui kebohongan testee (peserta tes). Ada skoring khusus untuk mengukur lie skor. Hayoo… bisa ketahuan kalau kamu bohong. Nanti perusahaan atau instansi malah gak jadi pilih kamu karena skor bohongmu tinggi. Nah, ini kerugian pertama kalau kamu tidak jawab secara jujur dalam tes.

Selanjutnya, orang awam tak menyadari adanya istilah person job fit. Yaitu penempatan seseorang dengan kualifikasi dan karakter yang tepat pada suatu posisi. Nah, ini aku menjawab masalah faking good tadi. Misal, perusahaan X mencari kasir, lalu menggunakan tes Psikologi untuk mengukur kemampuan komunikasi interpersonal calon kayawan mereka. Aitem atau soal dalam tes meliputi, “saya suka berbicara di depan umum”. “Saya selalu menyapa duluan ketika bertemu teman lama.” “Saya yang memulai pembicaraan dahulu dengan orang tak dikenal.” Apabila kamu seorang pendiam yang mencoba menjawab ya pada semua soal itu, dipastikan kamu tak diterima menjadi kasir. Perusahaan akan menghindari calon karyawan yang memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik pada posisi kasir. Nah, ini mungkin analogi yang sederhana untuk menjelaskan person job fit. Perusahaan tak mencari orang yang sempurna, tapi mereka mencari orang yang cocok. 

Setiap instansi atau perusahaan seharusnya sudah memiliki job description (tanggungjawab dan tugas suatu posisi) untuk suatu posisi dan job specification (kualifikasi seseorang yang menempati posisi tertentu) untuk calon karyawan yang akan menempati posisi itu. Nah, itu yang menjadi dasar perusahaan/instansi untuk memilih karyawan mereka. Seseorang yang pandai belum tentu diterima pada posisi tertentu jika job specification pada posisi itu tak mensyaratkan kepandaian.

Semoga ini menjawab rasa penarasan orang-orang terhadap tips dan trik dalam mengerjakan tes Psikologi. Aku ulangi lagi, tips dan triknya yaitu kerjakan sesuai kemampuan dan keadaan sebernarnya, jangan lupa istirahat yang cukup agar tetap fit saat mengerjakan tes sehingga hasilnya bisa optimal.




Makan bersama setelah outbond
Akhir tahun 2017 aku dan kawan Forum Mahasiswa Kecamatan Patuk (FMKP) disibukkan dengan agenda kolaborasi. Beberapa waktu sebelumnya, kami dikontak Aby untuk menjadi panitia outbond Pemuda Karang Taruna Plosokerep a.k.a Panca Karya. Plosokerep merupakan salah satu dusun di Desa Bunder, Patuk. Kami meng-iyakan tawaran tersebut lantaran mumpung selo libur dan ingin menambah teman baru. Lumayan lah ada kegiatan di libur natal dan tahun baru.

Pelaksanaan kegiatan outbond rencananya pada 31 Desember 2017. Hari sebelum2nya, kami mempersiapkan segala keperluan, panitia, rute, hingga peralatan yang harus tersedia. Aku baru pertama kali berkeliling Plosekerep, ternyata lumayan luas ya. Kurang lebih 3x aku main ke balai dusun mereka. Balai dusun baru rupanya. Lucu, kata Mas Kentung dkk kalau ganti kades, balai dusunnya pindah. Pindah ke lokasi dekat rumah dukuh. Sudah berapa kali pindah ya?

Kurang lebih ada 10 panitia dari FMKP yang ikut serta. Kami dibagi ke beberapa plotingan tugas. Ada yang berjaga di Pos 1, Pos 2, hingga Pos 4. Sementara aku dan Latifah berjaga pada pos keberangkatan. Peserta outbond lumayan ramai. Ada sekitar 50 anak dan pemuda yang ikut serta. Wah, kompak sekali, batinku.

Ini pertama kalinya aku menjadi panitia outbond. Pertama kali juga untuk FMKP. Rasanya seru, tak sabar melihat mereka yang basah2an. Haha. Jahat emang. Kami merancang outbond ini dengan penuh kebasahan, kekotoran, hingga kehitaman. Air, lumpur, dan arang, perpaduan sempurna untuk tema outbond kali ini. Haha. Tertawa jahat.

Di pos keberangkatan, peserta diharuskan berkelompok dan membuat yel-yel. Sebelumnya ada pemanasan yang dipimpin oleh mbak Rasti (kalau gak salah namanya), biar gak keseleo. Selanjutnya peserta diberangkatkan tiap kloter. Tak lupa, mereka mendapat tanda cinta dari kami, coretan arang di wajah mereka. Tanda cinta itu akan bertambah jika mereka kalah di setiap pos. 

Peserta harus melewati 4 pos. Di pos pertama, mereka ditantang untuk beryel-yel. Lalu, diminta melewati jaring laba2 tanpa menyentuhnya. Di pos kedua, peserta diminta membuat menara dari sesuatu yang didapat di perjalanan antara pos 1 dan 2. Ada yang mendapat kayu panjang, sehingga bisa membangun menara tinggi, tim tersebut yang menang. Di pos ketiga, peserta bermain air+lumpur. Mereka harus memindahkan air secara kelompok menggunakan bak dengan kaki mereka. Semua peserta basah dan berlumpur. Maklum lumayan becek. Sementara, di pos keempat, peserta diminta mengeluarkan bola di dalam peralon yang berlubang. Caranya, mereka harus menutup lubang dan memasukkan air menggunakan gayung hingga bola keluar. Seru lah pokoknya.

Keseruan pos 4

Keseruan pos 1

Keseruan Pos 2

Semua orang sudah kotor dan basah kuyup. Cacing-cacing di perut mulai menggeliat, menandakan lapar. Yang ditunggu-tunggu pun datang. Perempuan2 mengambil satu persatu nasi dan lauk, menyiapkan daun pisang sebagai alas makan. Kami makan bersama dengan daun pisang. Ramai pokoknya. Meski makanan sederhana, ini jauh lebih nikmat karena kita bisa saling bercengkrama, mengenal satu sama lain. Terakhir sesi foto bersama. Tapi belum ku dapat untuk dokumentasinya, masih di kamera mereka. 
Penutupan tahun 2017 ini menjadi pengalaman berharga bagi kami, khususnya bagiku. Selamat tahun baru 2018. Malam tahun baru aku bakar2 di rumah hlooooo.