My Rusticity Friend

November 30, 2014 Hadafi 0 Comments



Jangan anggap mereka sebagai pem-bully, tapi anggap mereka sebagai orang yang peduli terhadapmu, memberi perhatian lebih kepadamu sehingga kamu bisa lebih baik.

Pagi itu, aku langsung memacu motor dengan kecepatan 60 km/jam. Tidak lain aku ingin melihat adik-adikku yang akan mengikuti LBB di Lapangan Mandalakrida, Yogyakarta. Aku khawatir tidak ada suporter Ekamas yang menonton. Sebelumnya, aku berberes kamar. Maklum sudah seminggu ini kamarku gak tersentuh oleh sapu. Bisa dibayangkan betapa bersihnya.

Seperti kebanyakan perjalanku ketika ke Jogja, tak ada orang yang menemaniku. Dengan PDnya aku datang ke sana. Yang menjadi kebiasaan, aku pasti bingung untuk memilih tempat parkir. Dengan pertimbangan, aku memutuskan untuk parkir di Gedung depan Mandala milik UGM (kalau tak salah) karena tempatnya rindang, cocok untuk motorku. “Gilakkkk!!!!, BBM naik, tarif parkir pun ikutan naik, naiknya 50% lagi, untung masih 3000. Hadeh.”

Kulangkahkan kaki menghentikan mobil untuk menyebrang. Di depan, aku langsung disambut oleh teman-teman yang sudah sampai dahulu di sana. Dengan muka datar aku membalas lambaian tangan mereka. Huh, serasa artis turun dari mobil mewah. Seperti biasa, fans-fansku langsung membully. (Biar keren, dialognya aku ubah ke bahasa Inggris, tapi maaf kalau tidak sesuai kaidah bahasa).
Ivan : “Why are you here? Today, I think that you will study with your books. Oh, I know. Because of you got the fisrt place in the first try out. Aren’t you need study?”
Aku : “You still a lier!. Before, you told me that you will fishing with your Pa. Its Jogja man? Mandalakrida. Its not a place which a lot of fish. Its not a river, Its a stadion. Rusticity !!!”
Putra : “Hush, back to your home! Still with your book! I predict that your bag contain a lot of books! Haha!”
Aku : @#$%@@$%^#^*()_)( Plak!!! )
Yah, walaupun begitu??. Masih ada orang yang peduli. Syukurlah, daripada aku di-jendelke.

            Aku cukup menikmati penampilan beberapa pleton. Agaknya aku sudah tahu hasilnya nanti. Bukannya aku pesimis, namun memang sudah terlihat jelas jika bukan Ekamas pemenangnya. Mungkin tahun berikutnya akan lebih baik dari tahun ini.

            Waktu semakin cepat saja berlalu. Tak terasa aku sudah mulai lapar. Aku langsung pamit kepada teman-teman dan pak Yeri untuk segera pulang. Namun sebelum itu, aku mampir ke sebuah warung makan untuk sekadar membeli makanan. “Hah, Gilakk, di mana-mana terjadi kenaikan harga, nasi yang biasanya seharga 7000, naik 25%. Semoga berat badanku juga gak ikut naik seperti harga-harga itu. Haha”  Langsung deh kantongku kempes.

0 komentar:

Apa yang Terjadi pada Menit Berikutnya?

November 17, 2014 Hadafi 0 Comments



Aku tidak bangga jika dapat mengalahkan satu orang musuh dengan seribu butir peluru. Aku akan jauh lebih bangga jika berhasil mengalahkan seribu orang musuh hanya dengan satu butir peluru.

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa Hadafi nge-post terlalu sering? Bukan, hari ini aku sangat senang. Aku bersyukur kepada Alllah sekaligus berterimakasih kepada orang-orang yang selalu mendukungku, men-support usahaku, dan mendoakanku. Berkat kalian, aku bisa sedikit bernapas lega melihat hasil try out pertama. Semoga kalian selalu seperti itu.

Setiap kali aku mendapati surat yang berisi nilai, aku selalu berdebar untuk membukanya. Tak ada yang istimewa kok dengan surat itu. Bahasanya saja juga standar. Aku mungkin pernah bermimpi untuk menggeser posisi Anggit, salah satu siswa berpretasi di SMAku tapi kepandaiannya sebelasduabelas sama aku, amin, namun untuk detik ini belum ada usaha keras untuk mewujudkan mimpi itu. Rasanya masih sulit untuk mewujudkannya. Dan baru pertama kalinya juga, aku berhasil menggeser posisi Anggit dengan hasil try out ini. Aku serasa bermimpi mendapati nilaiku ini. Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi. Wow, rasanya itu tak bisa diceritakan dalam kata-kata, hanya bisa dipahami lewat hati. Hadeh.

Tak dipungkiri ini hanya try out biasa yang aku sendiri tidak membanggakannya. Ini hanya awal bagi langkahku selanjutnya. Pada menit pertama aku bisa tersenyum, tapi pada menit berikutnya aku tak mungkin bisa tersenyum lagi. Masih banyak materi-materi UN yang belum aku kuasai.  Aku tidak akan pernah terlena dengan hasil ini dan aku akan bisa lebih dari pencapaianku sekarang ini. It’s the beginning, not the end (bener gak ya tulisannya).

“Bagaimana sulitnya mempertahankan prestasi daripada mencapainya?” Itu menjadi masalahku saat ini. Aku harus mempertahankan ini mati-matian. Harus. “Ini artinya aku harus lebih giat belajar? Oh, God?”.

Dari hal yang aku alami ini, aku ingin men-share kepada kalian. Bahwasannya setiap orang itu boleh bermimpi, sekali pun mimpi  itu gila dan hanya mendapatkan tawa dari orang lain. Aku sendiri tidak peduli dengan orang-orang yang mentertawakan mimpi-mimpiku, karena aku percaya pasti mimpiku akan terwujud. Aku juga tidak akan pernah takut mimpi itu tak terwujud karena aku akan terus bangkit untuk mewujudkan mimpi itu. Aku telah membuktikan hal itu melalui apa yang aku dapat hari ini. So, untuk orang-orang yang berani bermimpi, teruslah giat untuk mewujudkan mimpi itu.

0 komentar:

Apa? Lilin Kecil?

November 15, 2014 Hadafi 0 Comments



Selama benang merah masih mengikat paragraf pembuka hingga ke kesimpulan, itulah teman, tapi ketika ada sisipan paragraf sumbang dalam isinya, masihkah kita menyebutnya sebagai teman?

Hari terakhir try out pertamaku ini diakhiri oleh hujan deras sepanjang jalan. Tak heran jika celana putihku penuh dengan bercak kecoklatan. Bicara tentang postingan sebelumnya, aku memakai kata “gue”, tapi sekarang karena ada masukan dari fans, aku ubah. Semoga perubahan ini membawa efek baik bagi blogku.

Malam minggu yang seperti biasa, tak mungkin ada deringan pesan yang berisi pertanyaan “kamu lagi apa?” dari seorang pun. Tapi aku merasa sangat butuh malam ini untuk menuangkan ide-ide yang membludak di kepala agar jadi tulisan. Atau hanya sekedar memainkan remote TV untuk mencari saluran yang menarik untuk di tonton. Yang jelas bukan belajar seperti temanku kebanyakan. 

Flashback dari apa yang sudah aku pelajari mengenai makna gurindam, salah satu jenis puisi lama, aku menjadi mengetahui betapa cerdasnya orang dahulu dalam memberi nasihat bagi generasi muda. Aku lupa bunyi baitnya, namun aku ingat mengenai apa makna yang terkandung di dalamnya. Pada bait gurindam itu dijelaskan bahwa jika kita ingin mengeluarkan kata untuk bicara, sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menjadi bumerang bagi kita sendiri. Belum lama aku mendengar lewat telingaku sendiri, api tentang diriku dari orang lain. Mungkin ini hanya sebuah candaan belaka, namun jika aku menelaahnya lebih jauh aku sadar jika dia tak lebih dari orang-orang yang pernah meremehkanku. Awalnya aku anggap ini sebagai candaan, kemudian aku tidak bisa melupakannya, hingga akhirnya aku mengaggap itu sebuah motivasi yang baik. Dari situ aku bisa belajar, betapa tidak enaknya menjadi korban dari sebuah perkataan. So, untuk teman-teman, aku berpesan agar selalu hati-hati dalam berkata.

Atmosfer belajarku kian hari kian meningkat. Semoga ini menjadi angin segar agar aku secepatnya dapat berlayar ke pulau sebrang. Beberapa hari ini aku berpikir masalah perguruan tinggi yang nantinya akan aku jadikan pijakan. Aku semakin galau untuk menentukan arah perjalanan hidup ini. Aku berharap ada lilin-lilin kecil yang mau membantuku menerangi jalanku nanti. Ah, betapa puitisnya.


0 komentar:

Tisu,Mana Tisu?

November 06, 2014 Hadafi 0 Comments



Bukan “Sedia Payung Sebelum Hujan”, tapi sedia tisu sebelum kebablasan. 

Pagi ini gue harus mempersiapkan mental gue berlebih agar mampu menghadapi acara motivasi dari sekolah. Sejujurnya gue gak suka dengan acara beginian, namun karena sifatnya wajib apa boleh buat. Menurut gue motivasi terbesar hanya datang pada diri gue sendiri, bukan lewat orang lain. Bukannya sombong,  gue udah punya seabrek motivator yang sangat memotivasi gue yang gak perlu gue ungkapin satu-satu.

Acara ini dimulai dari sambutan pak kepsek, kemudian dilanjutin oleh motivator terkenal yang gue pasti lupa namanya. Yang gue duga dan sudah gue kira bakalan ada acara nangis-nangis gitu. Mungkin banyak yang mengatakan itu suatu hal yang lebay, namun menurut gue itu masih dalam porsi kewajaran. Karena kalo emang beneran nagis berarti datangnya dari hati, tulus, tapi kalo pura-pura ya cuma cari sensasi aja biar ada yang merhatiin.

Sekitar duapuluh menit terakhir, sang motivator men-set lagu melow. Kita semua memejamkan mata dan menundukkan kepala. Di samping gue ada Ivan, gue pikir dia adalah cowok strong. Tapi ternyata dia juga ikutan nangis-nangis.  Karena duduknya berdempetan sama gue, gue merasakan dia nangis tersedu-sedu. Sebenarnya gue juga ngakak dalam hati, tapi gak lucu kan kalo gue ketawa ditengah-tengah acara. 

Lanjut ke Imron temen gue. Gue pikir dialah winnernya diantara kami. Terdengar tangisan tersedu-sedu disertai erangan agak keras. Saat itu gue mikir, dia akting lebay atau emang beneran nangis. Kalo itu akting, gue saranin deh sama dia buat ikutan casting film, siapa tau direkomendasi jadi aktor protagonisnya yang akting cuma nangis mlulu. Tapi kalo itu sebaliknya, perlu dipertanyakan sih. Maksud gue emang masih ada cowok melankolis? 

Kalo gue sendiri biasa aja. Gue pernah berpikir, apa untungnya sih nangis-nangis gituan? Lebih baik gue senyumin aja kan lebih berpahala. Memang dengan menangis kita akan menyadari realitas yang ada, tapi karena itulah kita kan jadi teringat terus dengan hal tersebut. Jika motivator mengurai masalah kesalahan gue, gue seharusnya bukan menangis, tapi justru gue harus bangkit buat nyelesain masalah itu, ya langkah pertama gue adalah mengakui kesalahan itu dengan senyuman gue.

Namun tetep pada akhir acara itu gue harus tatap  muka sama ibu gue. Sontak gue langsung meneteskan air mata gue. Gue paling gak tahan kalo liat ibu gue. Mbayangin kerjaan dia, wah pokoknya super women banget.

Setelah acara ini, bisa dibayangkan, tisu pada berserakan di lantai, ditambah lagi dengan basah-basah dari air mata siswa. Ada juga lho basah dari iler siswa yang tertidur. Haha. Semoga aja acara ini menjadikan gue lebih termotivasi.

0 komentar:

Minggu Kelabu Kedua

November 03, 2014 Hadafi 2 Comments


“Satu team adalah kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Jika ada satu anggota team yang baik namun anggota lain tidak baik, team itu tidak dapat disebut sebagai team baik. Team baik berarti setiap anggota team adalah anggota yang baik.”

Di awal November ini, gue baru saja melalui minggu “maraton”, maksud gue adalah hari minggu yang tidak ada istirahat untuk ngebo.Gue mau fokus untuk dapetin univ impian gue. Tepat pukul 08.00 gue sampai di rumah Irma. Rencananya gue mau belajar materi ekonomi sama Nur (master akuntansi ekamas, tapi pinternya sebelas duabelaslah sama gue). Gue musti nungguin Irma selesai mandi, gue tunggu sekitar 20 menitan baru Irma keluar, barengan sama Nur dan Kusna datang. Emang kalo orang Indo tulen itu adanya ngareeet. Ih, gak malu apa ama orang Jepang yang pinter banget manajemen waktu.

Dengan sisa-sisa keripik ubi pedas manis yang Irma sediakan, gue berusaha untuk masukin apa yang Nur ajarin ke otak gue. Lumayan lah bisa les gratisan. Walaupun rasanya udah pengen banget liat FF (Faculty Fair, acaranya padmanaba)

Gila aja, pukul 12.00 gue dan Nur berangkat dari Wonosari ke Jogja. Kebayang berapa kilo sunblock yang elu habisin. Sumpah sinar mataharinya jahat bener. Kulit-kulit gue rasanya mau ngelupas gitu. Mungkin di android gue suhunya tertera hingga 40oC. Kalo gue punya remotenya, gue pengen nurunin suhu panas matahari jadi 23oC.

Sampai di Mandala Bhakti Wanitatama gue beli tiket dan langsung masuk ke lokasi. Namun gue kehilangan Irma sama Khusna. Rupanya mereka ketilang pak Polisi karena nerobos lampu apil. Kusut banget mukanya Irma, dia gak berani bilang ortunya, 200 ribu loh... haha.

Pertama gue tertarik dengan lembaga yang bisa bantu buat kuliah ke Jerman, tapi gue shyoook banget lat rincian biayanya. Modal awal yang dibutuhkan sekitar 230 juta. Itu untuk biaya kursus hingga biaya hidup tahun pertama. Sudah-sudah, lanjut ke komunikasi UGM. Gue liat ada layar besar yang nayangin video singkat. Eh, gue pantengin, pemerannya itu mbak Desti, angkatan (lupa) di Kaca. Ngakak banget gue, elu musti liat videonya. Gue aja suruh sama mbak-mbak yang jaga stand buat muter ulang videonya. Video berdurasi beberapa menit itu bercerita tentang cewek yang berkhayal punya pacar tapi gak kesampaian, mungkin karena stress dia melakukan hal-hal gila. Dia pura-pura makan siang sama cowok padahal enggak. Dia curhat sampai nangis-nangis tragis gitu. Gue salut deh sama mbak Desti, ternyata pinter akting juga. Kalo gue boleh saran judul nih, gue pengen judul video itu Pacaran sama “Dhewe”.

Lanjut ke fakultas Psikologi UGM, gue tanya-tanya tentang fakultasnya sama mbak dan mas yang jagain. Katanya di Psikologi itu enak, ospeknya pettcahhh, dosennya pengetian, tugasnya asik-asik. Gue sebenernya tertarik banget kuliah di Psikologi. Gue pengen bisa baca karakter seseorang pokoknya hal tentang jiwa seseorang. Kira-kira cocok enggak ya fakultas ini kalo buat gue?

Di sana gue juga ketemu dengan alumni OSN Jogja yang nasibnya sama seperti gue, gak lolos ke nasional. Si (lupa) dari Kesba sama si (lupa) orang sleman. Gue ajak mereka ngobrol dikit. Ternyata alumni OSN Geografi gak tertarik sama fakultas Geografi. Kalo gue sih punya sedikit ketertarikan  sih.

Kalo gue perhatiin, hanya univ-univ negeri aja yang banyak pengunjung di standnya. Mungkin itu juga menjadi indikator bagi gue agar semangat belajar buat tes masuk. 

Hari minggu itu gue tutup dengan makan bareng di sebuah lesehan. Rp. 58.000,00 ber empat, mahal gak sih? Sumpret, hari ini gue capek banget, sampai dirumah aja mataharinya udah ngilang. Agenda terakhir ya cuma ngebo. Keep fighting!

2 komentar: