My Rusticity Friend
Jangan anggap mereka sebagai
pem-bully, tapi anggap mereka sebagai orang yang peduli terhadapmu, memberi
perhatian lebih kepadamu sehingga kamu bisa lebih baik.
Pagi
itu, aku langsung memacu motor dengan kecepatan 60 km/jam. Tidak lain aku ingin
melihat adik-adikku yang akan mengikuti LBB di Lapangan Mandalakrida,
Yogyakarta. Aku khawatir tidak ada suporter
Ekamas yang menonton. Sebelumnya, aku berberes kamar. Maklum sudah seminggu ini
kamarku gak tersentuh oleh sapu. Bisa dibayangkan betapa bersihnya.
Seperti kebanyakan perjalanku ketika
ke Jogja, tak ada orang yang menemaniku. Dengan PDnya aku datang ke sana. Yang
menjadi kebiasaan, aku pasti bingung untuk memilih tempat parkir. Dengan
pertimbangan, aku memutuskan untuk parkir di Gedung depan Mandala milik UGM
(kalau tak salah) karena tempatnya rindang, cocok untuk motorku. “Gilakkkk!!!!,
BBM naik, tarif parkir pun ikutan naik, naiknya 50% lagi, untung masih 3000.
Hadeh.”
Kulangkahkan kaki menghentikan mobil
untuk menyebrang. Di depan, aku langsung disambut oleh teman-teman yang sudah
sampai dahulu di sana. Dengan muka datar aku membalas lambaian tangan mereka.
Huh, serasa artis turun dari mobil mewah. Seperti biasa, fans-fansku langsung
membully. (Biar keren, dialognya aku ubah ke bahasa Inggris, tapi maaf kalau
tidak sesuai kaidah bahasa).
Ivan
: “Why are you here? Today, I think that you will study with your books. Oh, I
know. Because of you got the fisrt place in the first try out. Aren’t you need
study?”
Aku
: “You still a lier!. Before, you told me that you will fishing with your Pa.
Its Jogja man? Mandalakrida. Its not a place which a lot of fish. Its not a
river, Its a stadion. Rusticity !!!”
Putra
: “Hush, back to your home! Still with your book! I predict that your bag
contain a lot of books! Haha!”
Aku
: @#$%@@$%^#^*()_)( Plak!!! )
Yah,
walaupun begitu??. Masih ada orang yang peduli. Syukurlah, daripada aku di-jendelke.
Aku
cukup menikmati penampilan beberapa pleton. Agaknya aku sudah tahu hasilnya
nanti. Bukannya aku pesimis, namun memang sudah terlihat jelas jika bukan
Ekamas pemenangnya. Mungkin tahun berikutnya akan lebih baik dari tahun ini.
Waktu semakin cepat saja berlalu.
Tak terasa aku sudah mulai lapar. Aku langsung pamit kepada teman-teman dan pak
Yeri untuk segera pulang. Namun sebelum itu, aku mampir ke sebuah warung makan
untuk sekadar membeli makanan. “Hah, Gilakk, di mana-mana terjadi kenaikan
harga, nasi yang biasanya seharga 7000, naik 25%. Semoga berat badanku juga
gak ikut naik seperti harga-harga itu. Haha” Langsung deh kantongku kempes.





0 komentar: