Bukan Masalah Menang atau Kalah

April 29, 2014 Hadafi 0 Comments


(Hadafi Farisa R, 26 April 2014)
Inspired by FLSSN GK 2014

Fajar mulai beranjak bangun
Mengiringi perjalanan kami untuk berperang
Menghadapi satu kompi pasukan berkuda
Dengan amunisi semangat dan harapan

Kami mengerahkan semua kekuatan
Menumpaskan sejuta teriakan
Mencengangkan tiga pasang mata
Satria musuh sebrang

Kami tak mengerti pikiran kalian
Yang tega melukai pemimpin kami
Dengan senjata sebelum perjanjian
Ini memang perang, namun ada aturan!

Oke, kami tak sesempurna kalian
Kami memang masih bajingan
Namun kami juga ingin keadilan
Salahkah jika itu kami tegakkan?

Kami memang sudah biasa menerima kekalahan
Namun tidak bagi semua pemimpin kami
Yang melatih dan membimbing kami
Harus mati sebelum berperang

Di mana hati nurani kalian?
Haruskah kami membunuh kalian?
Untuk menunjukkan di depan mata kalian
Bagian dari hati kecil yang tersimpan?

Tuhan...
Kenapa mereka menganggap remeh kami?
Menyudutkan kami seakan harus mati
Mati sebelum berperang

Ini bukan sebuah ancaman
Ini adalah lembar yang tak perlu kalian pahami
Sejujurnya, kami ingin mempertahankan kampung kami
Menunjukkan inilah negeri kita

0 komentar:

Skenario yang Gagal

April 21, 2014 Hadafi 0 Comments


Minggu, waktu yang tepat untuk rehat dari kegiatan sekolah. Namun terkadang hari mingguku terganggung oleh suatu hal.

Sore itu aku pulang bersama temenku. Dia adalah cewek yang baik, aku mengenalnya sejak SMP. Karena satu arah jalan pulang, aku mengantarnya di boncengan motorku. 

Saat di jalan, aku bertemu dengan teman sekelasku. Agaknya teman sekelasku “syok”, melihat aku mengantar seorang cewek (mungkin). Aku berfikir jika keesokan harinya, teman yang satu kelas dengan aku akan bertanya tentang kejadian sore itu (PD banget aku). Bukan apa-apa, aku cuma ingin mengetahui bagaimana reaksi dia jika mendengar pembicaraan kami tentang kejadian itu.

0 komentar:

Come Back

April 20, 2014 Hadafi 0 Comments


Aku mengira, hal semacam ini tak terulang lagi dalam hidupku. Aku telah lama “menskip” obrolanku dengan dia setelah kejadian itu. Aku tak mau mengungkitnya. Apa? Mengapa?

Tak tahu habis terbangun dari mimpi apa, aku mulai diberi harapan, ya, semacam sinar terang. Namun aku masih sanksi akan hal itu, aku terlalu berfikir buruknya saja. Apa ada maksud lain darinya?

Aku kini tak peduli dengan orang di sekitarnya karena aku sadar, jika aku mungkin tak pantas menggandeng tangannya. Terserah dia mau melakukan apa, dengan siapa. Tapi aku  berharap mendapatkan sesuatu darinya. Minimal pembelajaran, atau mungkin lebih dari itu.

0 komentar:

Esok Tak Terduga

April 13, 2014 Hadafi 0 Comments


Gruukk, aku terbangun dari mimpi, memimpikan dia, ah lupakan. Minggu ini masih pagi, subuh belum berkumandang. Air hangat yang biasa masih di dalam termos sudah habis untuk mengguyur tubuhku. Huh, di luar titik air terus menetes. Kuhiraukan. Bergegaslah aku ke Tugu Jogja. 

Haa, jalan mangkubumi sudah ditutup. Nekad aku membuka blokade. Di parkiran KR, mb Desti sudah menyapa. “ Dek Hadafi kamu sudah datang?”, sahutnya. Kupikir itu pertanyaan tanpa jawaban karena aku memang sudah datang (piss).

Di sekre sesak anak padakacarma (ya iyalah, orang itu sekre padakacarma). Suasana garing, ngantuk, lapar, pokoknya aduk-adukan.

Baru masuk sekre, mb Dinju sudah komentar. “Fi, kamu dari SMA 1 Wonosari? Kamu itu anggota tonti? Oh”, teriaknya. Aku bilang apa? Aku tak punya baju pengejar deadline atau baju hitam, jadi aku pakai seadanya.

Mas Agung, seperti biasa, paling sibuk. “Esuk-esuk wes ngalor-ngidul”. “Ayo-ayo semua segera siap, kita sudah ditunggu”. Kita (padakacarma) “brifing” dulu di depan panggung untuk menerima tugas masing-masing. 

Sebelum ke tugas kita “keta-kete” dulu. 

(SKIP)

Semakin panas banyak orang berdatangan. Anak padakacarma juga ada yang telat (biasa). Aku melihat senyum mas Praend dan gelagak mas (lupa aku namanya, pokoknya yang hobi fotografi) membawa kamera (sepertinya lagi hunting foto, maaf mas aku tidak menyapa, aku takut nek salah orang, hehe).

“Ayo-ayo angkati meja, pasang taplake, angkati tumpenge?”, perintahnya begitu.

(SKIP)

“Eh kita seperti dalam iklan evercoss “Just Enjoy the Tipe (nek gak salah)” ”, kataku pada Okky ketika anak Padmanaba (nek gak salah) nyanyi lagunya Lenka.

(SKIP)

Ketemu mas Agung. “Kita bisa makan sekarang?”. “Ya, sambil bantuin bagi sudi ke masyarakat kalian boleh “nyemili” tumpenge”.

Aku, Dafi (nek gak salah namanya), dan Okky mulai “mengobrak-abrik” tumpeng yang kelihatannya enak.

(SKIP)

Aku bingung ketika menjaga tumpeng, ketika sudinya sudah habis. Banyak ibu-ibu “nakal”. “Bu, maaf tampah dan enthongnya tidak boleh diambil, yang boleh diambil hanya isinya”, kataku.

Malahan Jamal ribut, menjaga tumpeng sambil wawancara. “ Mbak (yang mewawancarai) tau baru kerja malah wawancara, kurang pas”. (piss mal, tenang, salam nggo Rifka tak sampaikan kok (mungkin)).

Aku tertawa (dalam hati) ketika ibu-ibu di depan mas Anas “ngemek-mek” satu persatu tumpeng (cerita di akhir yang ku pindah).

(SKIP)

Mas itu (Aku lupa, pokoknya yang suka memerintah, bukan padakacarma) bilang jika setelah lima menit segera tinggalkan tumpeng.

Kami bingung, termasuk mb Kenia juga bingung mau nurutin hati atau perintah mas Itu.
Pas angkat gawang bola, nyaris. “Nek angkat-angkat ndelok situasi, untung ra kenek sirahku (mungkin maksudnya begini, maaf pak, kami tidak sengaja)”.

Lelah ( bergegas ke sekre), ternyata di sekre ada Tyas dan Arif yang “ngutil” dua tumpeng. Mereka terlihat lesu (mesti enek masalah).

Makan snack dan “geguyon” di sekre. Tak terduga, Arif punya cerita lain (cerita ini privasi, kalian gak boleh tau). Hal itu juga membuat mb Niken kepo.

Sebelum pulang ada cerita dari mas Agung (cerita ini membuat aku trenyuh). 

“ Mas aku boleh meminta satu tumpeng utuh? Anakku sekarang sedang ulang tahun”, kata ibu dengan “melas” dan mata berkaca-kaca. “ Maaf bu, tidak boleh, ini untuk dimakan banyak orang, ibu boleh mengambil asal tidak semuanya”, jawab panitia dengan tegas.

Ceritaku berakhir, aku tidak ikut berselfie. Tyas menyapaku ketika aku mulai menyalakan mesin motor.

0 komentar:

Beda

April 12, 2014 Hadafi 0 Comments


Its serious, many people laugh to me, because what? Karena aku berbeda.

Aku merasa hidup ini hanya sebuah cerita, dimana kita sudah diatur oleh penguasanya. Jujur, aku tidak puas dengan peranku ini. Jika bisa memilih, aku akan pilih peran lain. Bagaimana dengan hidup kalian? Puaskah dengan peran kalian?

Aku kadang berfikir, mengapa yang ganteng harus pintar? Mengapa yang jelek harus bodoh? Aku tak habis pikir dengan hidup ini.

Mereka yang terlahir dalam kasta sempurna tak akan mengenal orang-orang dalam kasta hina. Ini manusia? Aku mengira jika manusia adalah sosok sosial yang saling menghargai. Aku telah salah?

Tuhan adil, itu pasti, itu menjadi kodrat-Nya. Aku beda, namun masih ada sisi manusia lain yang memberikanku senyum, tapi masih banyak manusia bajing*n. Hidup ini b*llshit?

Jangan menyerah untuk mencari siapa dirimu yang sebenarnya. Bukan hanya aku, kalian yang menderita karena beda. Masih banyak manusia lain yang jauh menderita. Be your self. Buktikan itu!

0 komentar: