Apa? Lilin Kecil?
Selama benang merah masih mengikat paragraf
pembuka hingga ke kesimpulan, itulah teman, tapi ketika ada sisipan paragraf
sumbang dalam isinya, masihkah kita menyebutnya sebagai teman?
Hari terakhir
try out pertamaku ini diakhiri oleh hujan deras sepanjang jalan. Tak heran jika
celana putihku penuh dengan bercak kecoklatan. Bicara tentang postingan
sebelumnya, aku memakai kata “gue”, tapi sekarang karena ada masukan dari fans,
aku ubah. Semoga perubahan ini membawa efek baik bagi blogku.
Malam minggu
yang seperti biasa, tak mungkin ada deringan pesan yang berisi pertanyaan “kamu
lagi apa?” dari seorang pun. Tapi aku merasa sangat butuh malam ini untuk
menuangkan ide-ide yang membludak di kepala agar jadi tulisan. Atau hanya
sekedar memainkan remote TV untuk mencari saluran yang menarik untuk di tonton.
Yang jelas bukan belajar seperti temanku kebanyakan.
Flashback dari apa yang sudah aku pelajari
mengenai makna gurindam, salah satu jenis puisi lama, aku menjadi mengetahui
betapa cerdasnya orang dahulu dalam memberi nasihat bagi generasi muda. Aku
lupa bunyi baitnya, namun aku ingat mengenai apa makna yang terkandung di dalamnya.
Pada bait gurindam itu dijelaskan bahwa jika kita ingin mengeluarkan kata untuk
bicara, sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu agar tidak menjadi bumerang bagi
kita sendiri. Belum lama aku mendengar lewat telingaku sendiri, api tentang diriku dari orang lain.
Mungkin ini hanya sebuah candaan belaka, namun jika aku menelaahnya lebih jauh
aku sadar jika dia tak lebih dari orang-orang yang pernah meremehkanku. Awalnya
aku anggap ini sebagai candaan, kemudian aku tidak bisa melupakannya, hingga
akhirnya aku mengaggap itu sebuah motivasi yang baik. Dari situ aku bisa
belajar, betapa tidak enaknya menjadi korban dari sebuah perkataan. So, untuk teman-teman, aku berpesan agar
selalu hati-hati dalam berkata.
Atmosfer
belajarku kian hari kian meningkat. Semoga ini menjadi angin segar agar aku secepatnya
dapat berlayar ke pulau sebrang. Beberapa hari ini aku berpikir masalah
perguruan tinggi yang nantinya akan aku jadikan pijakan. Aku semakin galau untuk
menentukan arah perjalanan hidup ini. Aku berharap ada lilin-lilin kecil yang
mau membantuku menerangi jalanku nanti. Ah, betapa puitisnya.





0 komentar: