Apa yang Terjadi pada Menit Berikutnya?

November 17, 2014 Hadafi 0 Comments



Aku tidak bangga jika dapat mengalahkan satu orang musuh dengan seribu butir peluru. Aku akan jauh lebih bangga jika berhasil mengalahkan seribu orang musuh hanya dengan satu butir peluru.

Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa Hadafi nge-post terlalu sering? Bukan, hari ini aku sangat senang. Aku bersyukur kepada Alllah sekaligus berterimakasih kepada orang-orang yang selalu mendukungku, men-support usahaku, dan mendoakanku. Berkat kalian, aku bisa sedikit bernapas lega melihat hasil try out pertama. Semoga kalian selalu seperti itu.

Setiap kali aku mendapati surat yang berisi nilai, aku selalu berdebar untuk membukanya. Tak ada yang istimewa kok dengan surat itu. Bahasanya saja juga standar. Aku mungkin pernah bermimpi untuk menggeser posisi Anggit, salah satu siswa berpretasi di SMAku tapi kepandaiannya sebelasduabelas sama aku, amin, namun untuk detik ini belum ada usaha keras untuk mewujudkan mimpi itu. Rasanya masih sulit untuk mewujudkannya. Dan baru pertama kalinya juga, aku berhasil menggeser posisi Anggit dengan hasil try out ini. Aku serasa bermimpi mendapati nilaiku ini. Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi. Wow, rasanya itu tak bisa diceritakan dalam kata-kata, hanya bisa dipahami lewat hati. Hadeh.

Tak dipungkiri ini hanya try out biasa yang aku sendiri tidak membanggakannya. Ini hanya awal bagi langkahku selanjutnya. Pada menit pertama aku bisa tersenyum, tapi pada menit berikutnya aku tak mungkin bisa tersenyum lagi. Masih banyak materi-materi UN yang belum aku kuasai.  Aku tidak akan pernah terlena dengan hasil ini dan aku akan bisa lebih dari pencapaianku sekarang ini. It’s the beginning, not the end (bener gak ya tulisannya).

“Bagaimana sulitnya mempertahankan prestasi daripada mencapainya?” Itu menjadi masalahku saat ini. Aku harus mempertahankan ini mati-matian. Harus. “Ini artinya aku harus lebih giat belajar? Oh, God?”.

Dari hal yang aku alami ini, aku ingin men-share kepada kalian. Bahwasannya setiap orang itu boleh bermimpi, sekali pun mimpi  itu gila dan hanya mendapatkan tawa dari orang lain. Aku sendiri tidak peduli dengan orang-orang yang mentertawakan mimpi-mimpiku, karena aku percaya pasti mimpiku akan terwujud. Aku juga tidak akan pernah takut mimpi itu tak terwujud karena aku akan terus bangkit untuk mewujudkan mimpi itu. Aku telah membuktikan hal itu melalui apa yang aku dapat hari ini. So, untuk orang-orang yang berani bermimpi, teruslah giat untuk mewujudkan mimpi itu.

0 komentar: