Proses Cari Kerja Pertamaku di Pako Group
![]() |
| Sudut Lobby Pako Group |
"Aku menyesal menolak pilihan aman di depan mata. Aku terlalu
idealis. Andai waktu bisa diputar. Ah sudahlah, semua berlalu begitu saja. Aku
memang bodoh,” batinku menggerutu sebelum tidur.
***
Sudah tiga kali aku mengemasi barang bawaan menuju Jakarta.
Pertama di awal Januari, kedua di pertengahan bulan, dan terakhir di Februari ini.
Aku harap itu terakhir aku ke Jakarta untuk mencari kerja. Memang sebagai
seorang lulusan baru yang tanpa pengalaman professional sangat susah mencari
pekerjaan. Dan aku baru saja menyadari hal itu.
***
Tasku sudah siap. Jam pada arloji menunjukkan pukul 14.00.
Bergegaslah aku menuju Stasiun Lempuyangan untuk menghadiri interview esok hari
di Sunter, Jakarta. Dua atau tiga hari yang lalu, aku mendapat email dari Pako
Group, sebuah company yang memproduksi vleg, perusahaan besar milik Triputra
dan Astra ini menjadi perusahaan pertama yang terpikat oleh profilku di portal
Jobstreet.
Tengah malam aku sampai di Stasiun Pasar Senen untuk pertama
kalinya. Tak tahu harus kemana dan untuk apa. Aku hanya ingat jadwal
interviewku besok, pukul 8.00 tepat di Head Office Pako Group. Aku berusaha
memejamkan mataku di bangku-bangku besi stasiun. Dingin memang, namun kutetap
berusaha keras sembari mendekap erat tas hitamku, berharap bisa tidur barang
kali satu atau dua jam. Dugaanku salah, aku tak bisa sedikitpun tidur di
kursi-kursi keras ini. Sesekali aku menyalakan ponsel untuk melihat notifikasi
pesan. Tak ada yang kulakukan selain menunggu waktu hingga matahari terbit pagi
hari. Semoga esokku cerah.
Setelah sholat subuh dan gosok gigi di toilet stasiun aku
siap. Entah isyarat apa dari Tuhan, pagi itu Jakarta diguyur hujan deras,
benar-benar deras. Hari ini, Kamis, 10 Januari 2019 menjadi hari penuh perjuangan
bagiku. Di depan monument samping Pasar Senen aku berkutat dengan ponsel
berharap ada Bapak Gojek yang mengambil orderku. Kuputuskan untuk tidak memesan
Gocar karena harganya terlampau mahal, setengah harga tiket keretaku ke
Jakarta. Seorang pria yang usianya kemungkinan seumuran denganku datang
menawarkan helm dan mantel plastik sekali pakai. Apa boleh buat, meski masih
gerimis kami harus bergegas.
“Pak kamar mandi di mana ya?,” ujarku kepada satpam Pako
Group. Celanaku basah kuyup, seperti cucian yang baru saja dijemur tapi harus
ku pakai. Aku tidak habis pikir lagi bagaimana penampilanku saat itu. Aku tidak
peduli, aku cuma terus berdoa dalam hati, “Ya Allah lancarkanlah urusanku hari
ini.”
Aku menunggu di pos satpam,
bertemu Yoga, talent lain yang berharap bisa bergabung ke perusahaan ini. Kami
mengobrol, kami sadar kami datang dari kota yang sama, tujuan pun kebetulan
sama, tapi nasib kami belum tentu. Satu lagi talent lain datang, mengobrol dan
curhat bagaimana susahnya dapat pekerjaan.
***
Seperti psikotes biasanya, ada
tes potensi akademik, grafis, kepribadian, dan pauli. Sebetulnya aku tidak
terlalu suka dengan tes macam ini. Hasil tesnya paling diagung-agungkan untuk
memutuskan kelayakan seorang talent, menurutku. Sejujurnya aku tidak terlalu
suka dengan perusahaan yang menerapkan rekrutmen dengan psikotes seabreg dan
wawancara sederet. Kini, zaman sudah berubah (pikirku). Memangnya tidak ada
perusahaan yang menggunakan penilaian social media behavior kandidat untuk
menilai kemampuan literasi, berpikir kritis, relasi, atau rekomendasi dari
koneksi mereka? Atau kah HR company belum tahu teknik interview BEI untuk
menilai problem solving dan pengalaman kandidat di masa lalu? Bukan menyindir,
ini hanya penilaianku sekilas saja. Setiap perusahaan punya aturan dan cara
mereka sendiri.
Proses rekrutmen di Pako Group
telah selesai kujalani. “Seminggu lagi kamu akan dihubungi jika user tertarik
dengan profilmu,” terang HR sesuai mewawancaraiku. Seperti tak tahu saja aku,
itu kata-kata untuk menolak kandidat lebih halus. Talent yang bagus dan cocok
di perusahaan, mana mungkin pergi begitu saja. Aku sadar, Pako Group bukan lah perusahaan yang
cocok saat itu. Entah ke depan seperti apa, aku serahkan semua pada Tuhan. Aku
telah melupakan prosesnya dan mengambil pelajaran berharga di tiap kejadian
itu. Ini tak mudah memang. Aku kecewa tidak menerima penawaran kerja di tempat
magangku. Ah sudahlah.






Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus