Sabun Mana Sabun?
Sudah tak terhitung lagi berapa lampu merah yang menghadang
perjalanan kami dari Bunderan UGM hingga Kulonprogo bagian Barat Daya. Pantat
ini rasanya udah sangat tipis untuk menahan tubuh duduk puluhan kilogram, puluhan
menit di atas motor. Meski jalanan lumayan lengang, memacu kendaraan hingga 70 km/jam tak juga mempersingkat waktu
perjalanan ini.
Kemarin sabtu, 1 April 2017 merupakan kegiatan tanam
mangrove yang diadakan YOT Jogja bekerjasama dengan Mangrove Instiper Club
(MIC). Kami berkumpul sekitar pukul 07.00 di bunderan UGM. Meski aku belum
sarapan, rasanya sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki di hutan mangrove
Wanatirta, Kulonprogo, Yogyakarta.
Aku menunggu lumayan singkat di bunderan hingga tak lama
kemudian satu persatu teman-teman datang menghampiri. Kusempatkan makan dua kue
apem yang dibawa Desy, salah satu temenku. Keburu siang, aku pun beberapa kali
menelpon temen yang lain agar mereka segera otw. Orang indonesia emang telat
gitu ya?
Perjalanan antara Jogja hingga Kulonprogo kurang lebih 1 jam
30 menit. Kami pun sekali mampir ke pinggir jalan untuk sejenak melepas lelah.
Perjuangan menuju ke lokasinya aja udah berat? Huft.
Sampai tkp kurang lebih pukul 09.10, kami disambut hamparan
luas area rawa dengan tubuhan mangrove yang rimbun. Di sana, kami sudah di
tunggu enam orang pria dari MIC. Mereka sudah sampai lebih dulu pada pukul
01.00 pagi tadi dan mendirikan camp, katanya. Kami beristirahat sejenak sebelum
agenda utama dimulai.
Hamparan rawa yang membentang luas sangat elok dipadu
cerahnya hari. Rimbunnya pohon-pohon mangrove membuat hati semakin tenang dan
damai. Jembatan bambu di atas air menjadi jalan utama membelah keindahan hutan
mangrove. Ditambah lagi, gemericik ombak pantai terdengar hingga tempat kami
berdiri saat itu. Mengagumkan sekali. Subhanallah.
Sebelum nyemplung, kami bersepulu mendapat arahan penanaman
dari temen-temen MIC. Mereka memberikan sedikit pengetahun mengenai mangrove
kepada kami. Jadi, ada beberapa jenis mangrove, ada mangrove Rizho (lupa),
mangrove Api-api, dan mangrove Bakau. Kami juga diberikan pengarahan cara
penanaman mangrove yang benar. Jenis mangrove Rizho (lupa) yang akan kami tanam
saat ini.
Sekitar 50 batang mangrove ukuran 60-80 cm kami ambil dari
tempat pembibitan. Awalnya aku sangat ragu untuk masuk ke genangan air
berlumpur. Namun aku memebranikan diri untuk melakukannya. Aku mulai memasukkan
kaki kanan ke air. Blusup, kakiku terjebak pada lumpur yang agak dalam sehingga
sulit untuk berpindah. Kemudian aku memutuskan untuk naik dan melepas sendal
gunungku yang aku pikir sebelumnya akan usefull. Ternyata, bertelanjang kaki
lebih nyaman untuk bergerak di atas genangan air dan lumpur.
Selanjutnya kami bergerak menuju tempat penanaman. Hmmm,
kaget sih. Lokasinya seperti genangan air untuk memandikan sapi. Maklum lah,
kami telat datang dan air laut menjadi pasang, jadi ketinggiannya sekitar 1
meter sama lumpur yang becek dan licin itu. Byurrrr.... Kami bersepuluh mlongo
aja. Satu orang dari temen MIC mulai nyemplung dan mempersiapkan ajir
(lanjaran) untuk menanam mangrove. Pertama kali aku mencoba dan i want to try
it. Blups.... kedua kakiku masuk ke genangan air itu. Rasanya sedikit jijik di
awal nyemplung. Tapi, semakin lama jadi terbiasa. Oiyaa.... karena susahnya
bergerak dalam lumpur, kami juga bertelanjang kaki, meskipun berisiko terkena
tiram yang tajam.
Satu persatu mangrove kami tanam di tengah genangan air yang
tingginya kurang lebih 1 meter itu. Sesekali hidung kami menghirup bau lumpur
yang menyengat. But, itu keseruannya. Hahaha. Meskipun sangat kotor, becek,
bau, dan licin yang bisa menyebabkan kami tenggelam dalam lumpur, kami tetap
berusaha menanam mangrove itu. Semoga tumbuh dewasa ya nak. Btw, tak satupun
dari kami bawa alat mandi, hanya ganti baju aja. Kami lupa. (gobl*k kan emang). Sempat cari warung
yang jual sabun mandi tapi tak ada, semuanya hanya warung makan. Pfttt.....
Awalnya aku berpikir menanam mangrove merupakan hal yang
mudah. Setelah pengalam pertamaku ini, aku perlu berpikir ulang soal hal itu.
Risikonya sangat besar, entah kaki yang koyak karena tiram atau luka karena gigitan
hewan air lainnya. So, kalian perlu membuktikannya sendiri agar percaya, don’t
assume. Namun, alhamdulillah kegiatan kami berjalan lancar.








0 komentar: