Sabun Mana Sabun?

April 02, 2017 Hadafi 0 Comments


Sudah tak terhitung lagi berapa lampu merah yang menghadang perjalanan kami dari Bunderan UGM hingga Kulonprogo bagian Barat Daya. Pantat ini rasanya udah sangat tipis untuk menahan tubuh duduk puluhan kilogram, puluhan menit di atas motor. Meski jalanan lumayan lengang, memacu kendaraan  hingga 70 km/jam tak juga mempersingkat waktu perjalanan ini.

Kemarin sabtu, 1 April 2017 merupakan kegiatan tanam mangrove yang diadakan YOT Jogja bekerjasama dengan Mangrove Instiper Club (MIC). Kami berkumpul sekitar pukul 07.00 di bunderan UGM. Meski aku belum sarapan, rasanya sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki di hutan mangrove Wanatirta, Kulonprogo, Yogyakarta.

Aku menunggu lumayan singkat di bunderan hingga tak lama kemudian satu persatu teman-teman datang menghampiri. Kusempatkan makan dua kue apem yang dibawa Desy, salah satu temenku. Keburu siang, aku pun beberapa kali menelpon temen yang lain agar mereka segera otw. Orang indonesia emang telat gitu ya?

Perjalanan antara Jogja hingga Kulonprogo kurang lebih 1 jam 30 menit. Kami pun sekali mampir ke pinggir jalan untuk sejenak melepas lelah. Perjuangan menuju ke lokasinya aja udah berat? Huft.
Sampai tkp kurang lebih pukul 09.10, kami disambut hamparan luas area rawa dengan tubuhan mangrove yang rimbun. Di sana, kami sudah di tunggu enam orang pria dari MIC. Mereka sudah sampai lebih dulu pada pukul 01.00 pagi tadi dan mendirikan camp, katanya. Kami beristirahat sejenak sebelum agenda utama dimulai.

Hamparan rawa yang membentang luas sangat elok dipadu cerahnya hari. Rimbunnya pohon-pohon mangrove membuat hati semakin tenang dan damai. Jembatan bambu di atas air menjadi jalan utama membelah keindahan hutan mangrove. Ditambah lagi, gemericik ombak pantai terdengar hingga tempat kami berdiri saat itu. Mengagumkan sekali. Subhanallah.

Sebelum nyemplung, kami bersepulu mendapat arahan penanaman dari temen-temen MIC. Mereka memberikan sedikit pengetahun mengenai mangrove kepada kami. Jadi, ada beberapa jenis mangrove, ada mangrove Rizho (lupa), mangrove Api-api, dan mangrove Bakau. Kami juga diberikan pengarahan cara penanaman mangrove yang benar. Jenis mangrove Rizho (lupa) yang akan kami tanam saat ini.

Sekitar 50 batang mangrove ukuran 60-80 cm kami ambil dari tempat pembibitan. Awalnya aku sangat ragu untuk masuk ke genangan air berlumpur. Namun aku memebranikan diri untuk melakukannya. Aku mulai memasukkan kaki kanan ke air. Blusup, kakiku terjebak pada lumpur yang agak dalam sehingga sulit untuk berpindah. Kemudian aku memutuskan untuk naik dan melepas sendal gunungku yang aku pikir sebelumnya akan usefull. Ternyata, bertelanjang kaki lebih nyaman untuk bergerak di atas genangan air dan lumpur.

Selanjutnya kami bergerak menuju tempat penanaman. Hmmm, kaget sih. Lokasinya seperti genangan air untuk memandikan sapi. Maklum lah, kami telat datang dan air laut menjadi pasang, jadi ketinggiannya sekitar 1 meter sama lumpur yang becek dan licin itu. Byurrrr.... Kami bersepuluh mlongo aja. Satu orang dari temen MIC mulai nyemplung dan mempersiapkan ajir (lanjaran) untuk menanam mangrove. Pertama kali aku mencoba dan i want to try it. Blups.... kedua kakiku masuk ke genangan air itu. Rasanya sedikit jijik di awal nyemplung. Tapi, semakin lama jadi terbiasa. Oiyaa.... karena susahnya bergerak dalam lumpur, kami juga bertelanjang kaki, meskipun berisiko terkena tiram yang tajam.

Satu persatu mangrove kami tanam di tengah genangan air yang tingginya kurang lebih 1 meter itu. Sesekali hidung kami menghirup bau lumpur yang menyengat. But, itu keseruannya. Hahaha. Meskipun sangat kotor, becek, bau, dan licin yang bisa menyebabkan kami tenggelam dalam lumpur, kami tetap berusaha menanam mangrove itu. Semoga tumbuh dewasa ya nak. Btw, tak satupun dari kami bawa alat mandi, hanya ganti baju aja. Kami lupa. (gobl*k kan emang). Sempat cari warung yang jual sabun mandi tapi tak ada, semuanya hanya warung makan. Pfttt.....



Awalnya aku berpikir menanam mangrove merupakan hal yang mudah. Setelah pengalam pertamaku ini, aku perlu berpikir ulang soal hal itu. Risikonya sangat besar, entah kaki yang koyak karena tiram atau luka karena gigitan hewan air lainnya. So, kalian perlu membuktikannya sendiri agar percaya, don’t assume. Namun, alhamdulillah kegiatan kami berjalan lancar.



0 komentar: