Buku Kuning: Its Up to You, You Do It

Juni 14, 2017 Hadafi 0 Comments


Buku Young On Top
Haloooo.... Lama tak update untuk blog ini. Maklum, lumayan sibuk dengan berbagai urusan. Ditambah lagi, saat ini aku harus mengelola @psyme_2017 sendiri. Huhu. Sedih tapi bahagia juga karena aku bisa explore diriku lebih jauh lagi. Yang jelas, aku ingin apa yang aku dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain.

Anyway, aku juga mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim di dunia. Semoga puasa yang kita lakukan tak hanya mendapat lapar dan haus, melainkan segudang pahala dari Allah. Amin. Puasa bukannya malah berhemat, tapi banyak bukber yang antri satu per satu. Hmmm

Dua minggu lalu, aku sedang menjalani UAS. Ya.... UAS untuk semester 4 ini. And finally, my Semester 4 was done. I'm happy. But, di semester ini, aku belum ngerancang target atau goal agar liburanku tetap produktif. Meskipun begitu, aku sudah membuat list target yang musti terpenuhi pada liburan ini. Tak perlu aku beritahu ya, cukup aku aja yang tahu. Haha.

Langsung saja ke topik bahasan yang mau aku angkat kali ini. Sekitar 3 hari, aku menyelesaikan buku bacaanku. Buku berwarna kuning karya Billy Boen yang berjudul "Young On Top". Meski sudah 1 tahun lebih aku gabung di komunitasnya, baru kali ini aku selesai membaca. Why? Dulu, aku belum ngerasa butuh buat baca, ditambah aku bukan tipikal yang suka baca. Aku tipe peniru atau imitation. Hehe.

Ulasan pertama dari cover buku. Kata pepatah sih “Don't judge the book by its cover”. Menurutku itu salah besar, apalagi aku yang sudah belajar Perilaku Konsumen. Cover merupakan hal pertama yang dilihat oleh seorang pembaca buku. Ketika covernya bagus, ia akan tertarik untuk memandangi, memegang, bahkan tak ragu lagi untuk membaca. Bak busana seorang bidadari, gaunnya pun harus bagus dan memberikan kesan “wah” bagi pangerannya. Kembali ke buku yang aku baca, kriteria ini sudah terpenuhi dalam buku "Young On Top". Pemilihan warna kuning sangat mencolok dan memberikan kesan “nih buku bagus, cepetan baca”, gitu sih menurutku. Warnanya pun gak norak, cukup tiga warna, termasuk hitam dan putih, sangat cocok bagi anak muda.

Lanjut ke dalam isinya. Di beberapa lembarnya, terdapat kutipan-kutipan yang berasal dari perkataan tokoh ternama, terutama pelaku bisnis yang sukses. Mungkin karena memang Pak Billy memiliki relasi yang banyak dengan berbagai rekan bisnis, nasihat-nasihat dan petuah mereka disampaikan juga lewat buku ini. Sangat cocok bagi kamu yang suka membuat status berisi nasihat atau petuah di sosial media. Bisa jadi sumber kutipan soalnya. Wkwk.

Setelah satu demi satu lembar aku baca, buku ini tergolong mudah untuk dipahami. Penggunaan kalimat sederhana dan sangat khas dengan anak muda, lebih dekat dengan remaja. Ditambah lagi font dan ukurannya cukup nyaman untuk lama-lama dipandangi. Sayang, beberapa kata memang tak disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia yang tepat, seperti penggunaan kata sapaan slang yang tidak tercetak miring.

Untuk isinya sendiri, sudah tak diragukan lagi. Pak Billy menuliskan hal-hal yang pernah dia alami sendiri. Jadi, tulisan di sini bukan hoax. Tulisan di buku ini based on Billy’s experience and knowledge. Beberapa juga dijabarkan dari kisah rekan-rekan Pak Billy dan kisah sukses lain dari buku bacaannya Pak Billy. Pokoknya, semua tulisannya bukan mengada-ada.

Sayang seribu sayang, ada beberapa bahasan yang terkesan ngambang. Maksudnya tidak ada fact nyata yang diceritakan dalam topik itu atau bahasan topik itu sesungguhnya semua orang juga sudah tahu dan gak perlu diulang. Ini membuat aku berpikir, “Apaan sih? Kok gini, mendingan diilangin aja.” Contohnya bahasan tentang humor.

Aku tidak tahu apakah Pak Billy juga belajar ilmu Psikologi atau tidak, tapi beberapa bahasan emang sesuai dengan ilmu yang aku pelajari. Misalnya mengajak berpikir positif agar hasilnya juga positif. Kalo di Psikologi istilahnya Pygmalion Effect. Tapi, aku kurang setuju mengenai bahasan insting yaitu pada powerful instinct. Sejauh yang saya pelajari, lebih baik membuat keputusan menggunakan intuisi atau malah insight. Insting lebih menekankan pada naluri dan feeling, lebih tinggi lagi tingkatannya yaitu instuisi yang menggabungkan aspek insting dan knowledge. Terkadang malah pengambilan keputusan dengan insight justru lebih tepat karena itu merupakan pikiran pertama kali yg ada di benak seseorang.


Di akhir, aku berpikir buku ini hanya sebatas teori-teori yang hanya digunakan terbatas pada tataran knowledge saja. Jadi cuma sebatas ilmu yang ada di otak. Kabanyakan buku motivasi juga gitu kan ya? Namun, buku ini menyajikan hal berbeda. Ditutup dengan bahasan It's Up to You, You Do It, membuatku sebagai pembaca berpikir ulang. Ini adalah cambuk dari penulis untuk menyadarkan pembaca bahwa buku ini tidak akan berguna jika cuma dibaca, tapi harus mulai diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Great books that i had ever read. Thks Pak Billy :)

0 komentar: