Buku Kuning: Its Up to You, You Do It
![]() |
| Buku Young On Top |
Haloooo.... Lama tak update untuk
blog ini. Maklum, lumayan sibuk dengan berbagai urusan. Ditambah lagi, saat ini
aku harus mengelola @psyme_2017 sendiri. Huhu. Sedih tapi bahagia juga karena
aku bisa explore diriku lebih jauh lagi. Yang jelas, aku ingin apa yang aku
dapatkan bisa bermanfaat bagi orang lain.
Anyway, aku juga mengucapkan
selamat menjalankan ibadah puasa bagi seluruh umat muslim di dunia. Semoga
puasa yang kita lakukan tak hanya mendapat lapar dan haus, melainkan segudang
pahala dari Allah. Amin. Puasa bukannya malah berhemat, tapi banyak bukber yang
antri satu per satu. Hmmm
Dua minggu lalu, aku sedang
menjalani UAS. Ya.... UAS untuk semester 4 ini. And finally, my Semester 4 was
done. I'm happy. But, di semester ini, aku belum ngerancang target atau goal
agar liburanku tetap produktif. Meskipun begitu, aku sudah membuat list target
yang musti terpenuhi pada liburan ini. Tak perlu aku beritahu ya, cukup aku aja
yang tahu. Haha.
Langsung saja ke topik bahasan
yang mau aku angkat kali ini. Sekitar 3 hari, aku menyelesaikan buku bacaanku.
Buku berwarna kuning karya Billy Boen yang berjudul "Young On Top". Meski sudah 1
tahun lebih aku gabung di komunitasnya, baru kali ini aku selesai membaca. Why?
Dulu, aku belum ngerasa butuh buat baca, ditambah aku bukan tipikal yang suka
baca. Aku tipe peniru atau imitation. Hehe.
Ulasan pertama dari cover buku.
Kata pepatah sih “Don't judge the book by its cover”. Menurutku itu salah besar,
apalagi aku yang sudah belajar Perilaku Konsumen. Cover merupakan hal pertama
yang dilihat oleh seorang pembaca buku. Ketika covernya bagus, ia akan tertarik
untuk memandangi, memegang, bahkan tak ragu lagi untuk membaca. Bak busana
seorang bidadari, gaunnya pun harus bagus dan memberikan kesan “wah” bagi
pangerannya. Kembali ke buku yang aku baca, kriteria ini sudah terpenuhi dalam buku "Young On Top". Pemilihan
warna kuning sangat mencolok dan memberikan kesan “nih buku bagus, cepetan
baca”, gitu sih menurutku. Warnanya pun gak norak, cukup tiga warna, termasuk
hitam dan putih, sangat cocok bagi anak muda.
Lanjut ke dalam isinya. Di beberapa lembarnya, terdapat
kutipan-kutipan yang berasal dari perkataan tokoh ternama, terutama pelaku
bisnis yang sukses. Mungkin karena memang Pak Billy memiliki relasi yang banyak
dengan berbagai rekan bisnis, nasihat-nasihat dan petuah mereka disampaikan
juga lewat buku ini. Sangat cocok bagi kamu yang suka membuat status berisi
nasihat atau petuah di sosial media. Bisa jadi sumber kutipan soalnya. Wkwk.
Setelah satu demi satu lembar aku
baca, buku ini tergolong mudah untuk dipahami. Penggunaan kalimat sederhana dan
sangat khas dengan anak muda, lebih dekat dengan remaja. Ditambah lagi font dan ukurannya cukup nyaman
untuk lama-lama dipandangi. Sayang, beberapa kata memang tak disesuaikan dengan
kaidah bahasa Indonesia yang tepat, seperti penggunaan kata sapaan slang yang
tidak tercetak miring.
Untuk isinya sendiri, sudah tak diragukan lagi. Pak Billy
menuliskan hal-hal yang pernah dia alami sendiri. Jadi, tulisan di sini bukan
hoax. Tulisan di buku ini based on Billy’s experience and knowledge. Beberapa
juga dijabarkan dari kisah rekan-rekan Pak Billy dan kisah sukses lain dari
buku bacaannya Pak Billy. Pokoknya, semua tulisannya bukan mengada-ada.
Sayang seribu sayang, ada
beberapa bahasan yang terkesan ngambang. Maksudnya tidak ada fact nyata yang
diceritakan dalam topik itu atau bahasan topik itu sesungguhnya semua orang
juga sudah tahu dan gak perlu diulang. Ini membuat aku berpikir, “Apaan sih?
Kok gini, mendingan diilangin aja.” Contohnya bahasan tentang humor.
Aku tidak tahu apakah Pak Billy
juga belajar ilmu Psikologi atau tidak, tapi beberapa bahasan emang sesuai
dengan ilmu yang aku pelajari. Misalnya mengajak berpikir positif agar hasilnya
juga positif. Kalo di Psikologi istilahnya Pygmalion Effect. Tapi, aku kurang
setuju mengenai bahasan insting yaitu pada powerful instinct. Sejauh yang saya
pelajari, lebih baik membuat keputusan menggunakan intuisi atau malah insight.
Insting lebih menekankan pada naluri dan feeling, lebih tinggi lagi
tingkatannya yaitu instuisi yang menggabungkan aspek insting dan knowledge.
Terkadang malah pengambilan keputusan dengan insight justru lebih tepat karena
itu merupakan pikiran pertama kali yg ada di benak seseorang.
Di akhir, aku berpikir buku ini
hanya sebatas teori-teori yang hanya digunakan terbatas pada tataran knowledge
saja. Jadi cuma sebatas ilmu yang ada di otak. Kabanyakan buku motivasi juga
gitu kan ya? Namun, buku ini menyajikan hal berbeda. Ditutup dengan bahasan
It's Up to You, You Do It, membuatku sebagai pembaca berpikir ulang. Ini adalah cambuk dari penulis untuk menyadarkan pembaca bahwa buku ini tidak
akan berguna jika cuma dibaca, tapi harus mulai diaplikasikan pada kehidupan
sehari-hari. Great books that i had ever read. Thks Pak Billy :)






0 komentar: