Destinasi Tersembunyi (yang Katanya) Bekas Rumah Macan

Januari 20, 2018 Hadafi 5 Comments

Pintu masuk Gogor Park

Aku lupa kapan harinya, kayaknya tiga hari yang lalu, selasa. Aku dan beberapa teman FMKP mencoba track Gogor Park untuk kebutuhan kegiatan upgrading, semacam outbond gitu. Aku, Rustam, Aziz, Faatika, Inka, Devin, Latifah, dan Yuni jalan-jalan di objek wisata baru Patuk tersebut. Tapi Latifah dan Yuni tak ikut explore lebih jauh. Di sini seru sih, tapi  menurutku Gogor Park masih perlu pengembangan ke arah safety-nya biar pengunjung selamat ketika ingin explore lebih jauh. Berikut ulasannya.

Gogor Park terletak di Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Sekitar satu kilometer arah timur dari Kantor Kecamatan Patuk. Wisata ini menyuguhkan pemandangan hutan, sungai, dan air terjun tersembunyi. Ketika masuk, pengunjung akan disambut dengan papan nama Gogor Park dengan logo kaki macan berwarna oranye. Katanya sih, dulu, daerah ini merupakan rumah macan alami, hutan gitu. Jadi, tahun 80an, ditemukan goa sebagai tempat tinggal macan di sini. Tapi sekarang, tak pernah ada lagi macan yang terlihat., gak tahu sih udah punah atau memang sembunyi. Bekas goa mereka sih masih ada. Ngeri gak gengs?

Tempat wisata ini tergolong baru di Patuk, aku saja baru dengar. Karena itu, tempatnya tak selalu ramai. Saat kami datang, loket tiket tutup, tak ada pengelola yang jaga atau menunggui. Yasudah, lucky me. Parkir pun tak ada yang mengarahkan. Kami meninggalkan motor di depan, dekat warung. 

Pertama datang, pengunjung akan disambut dengan pemandangan hutan dari ketinggian yang tidak terlalu tinggi. Pengunjung bisa melihat lebatnya hutan dan awan biru menyapa, kalau lucky sih. Ada semacam pendopo  juga yang bisa digunakan istirahat. Sebenarnya, ada juga taman bunga matahari, tapi sayangnya pas kami ke sana, bunga tersebut belum ditanam. Mungkin karena bukan musim yang tepat. Ada juga spot foto berupa meja-kursi dengan background hutan di belakangnya. Kece abis deh pokoknya, terlebih ketika cuaca cerah mendukung ditambah fotografer profesional. 

Spot foto di Gogor Park

Jackpot wisata Gogor Park menurutku adalah air terjun. Untuk sampai ke air terjun, dibutuhkan perjuangan ekstra melewati jalanan curam, hutan yang super duper lebat, dan sungai yang dingin. Aku menganjurkan kamu untuk explore tempat ini rame-rame. Gila aja kalo sendiri atau berdua sama pacar. Tempatnya sunyi sepi seperti di tengah hutan, bukan seperti, tapi beneran di tengah hutan. Hati-hati ya.
Susur sungai di Gogor Park

Kuulangi lagi, jalan menuju air terjun sangat curam. Kalian harus hati-hati melewatinya, jangan sampai jatuh dan nungjep. Hanya ada jalanan setapak bekas orang jalan, bukan jalanan semen apalagi karpet merah. Arahnya pun hamper vertikal karena letak air terjun jauh di bawah sana. Disekeliling perjalanan ke air terjun, pengunjung akan disambut suasana sunyi. Ada suara-suara khas di hutan juga, entah burung, jangkrik, atau suara mantan minta balikan. Tak lupa, ada gemericik air sungai mulai terdengar ketika mau sampai bawah. Selanjutnya, kami menyusuri aliran sungai karena tidak ada jalan setapak di pinggirnya. Benar-benar susur sungai. Pengunjung perlu berjalan di tengah sungai kuranglebih 1 km untuk sampai air terjun. Untungnya, sungainya kecil, jadi aman. Tapi gak tahu kalau ada binatang buas atau ular gitu. Haha. Untungnya, kami tak menjumpai satu diantaranya, cuma sarang laba2 yang banyak banget.

Beruntunglah kalian yang mampir di air terjun ini. Biasa lah, ciptaan Tuhan mampu menghipnotis mata kami. Indah sekali. Gemericik air yang jatuh memecah kesunyian tempat ini. Aku sempat mencoba menyentuh dinginnya air yang jatuh, berfoto-foto juga.  Rasanya, tak ingin pulang sebelum baju ini kering, aku tak bawa baju ganti. Haha.
Air terjun di Gogor Park


Setelah puas menikmati air terjun, kami pun kembali ke pendopo atas. Jauh sekali, perjalanan yang hampir sama seperti tadi. Bedanya, ini sungguh menanjak. Tapi lumayanlah, untuk free entry, tempat ini sangat cocok bagi orang yang suka nonton My Trip My Adventure. Tapi aku gak tahu kalau pas loket buka kudu bayar berapa. Cek sendiri yak kalau mau tahu detail lebihnya.

5 komentar:

Life of Me Part 3: Masa Awal Sekolah Dasar

Januari 17, 2018 Hadafi 0 Comments

Source: http://sorongselatankab.go.id/index.php/news/read/2015/10/15/165/puskesmas-saifi-terima-mobil-pusling.html

Puasa: jam 9 sudah berbuka

                          Aku tidak ingat kapan tepatnya aku diajari ibu untuk berpuasa. Yang jelas sekitar awal – awal aku masuk SD. Dulu, bulan ramadan tidak ada kegiatan belajar mengajar. Jadi bulan puasa tuh sekolah off. Enak kan? Honestly enggak. Enggak enak. Gaada kegiatan, puasa lagi. Mana tahan?

                          Sahur adalah bangun malam untuk makan sebelum berpuasa. Saat itu aku dibangunkan ibuku untuk sahur. Aku bangun lalu cuci muka. Ibuku mengambil makan untukku. Seperti kebanyakan orang puasa, sahur tuh males banget. Kalau gak benar2 niat, susah bangun. Untuk ibu setia membangunkanku. Alhamdulillah.

                          Puasa pertamaku trejadi saat sekolah libur. Ini semacam ketentuan dari dinas gitu kalau bulan puasa libur. Dari pagi aku mencoba untuk tidak melihat makanan. Sampai aku jalan2 keluar rumah dan tidak sengaja aku mengambil bunga berwarna ungu. Aku menghisap madu didalamnya. Aku lupa saat itu sedang puasa. Aku bilang ke ibu bagaimana puasaku. “ Puasamu tidak batal karena kamu tidak sengaja. Jika kamu sengaja menghisap madunya, baru, puasanya dianggap batal,” ujar ibu menenangkanku. Syukur deh.

                          Tidak hanya lupa puasa, saat jam menunjukkan pukul 09.00 aku sudah merasa lapar. Aku bilang ke ibu jika aku sudah lapar. Ibu menjelaskanku dan menasehati untuk makan karena aku baru belajar berpuasa. Tapi aku masih ngotot untuk tidak makan. Pada akhirnya aku juga tidak bisa menyelesaikan puasa setengah hariku itu. Terpaksa jam 09.00 aku sudah makan. Haha.

Mobil putih mengerikan

                          Aku sedikit lupa tentang apa yang aku alami di tahun  pertama belajar di sekolah dasar. Yang sampai hari ini tak terlupakan adalah rasanya memiliki guru yang bernama Bu Darifah. Senang sekali, beliau mengajar dengan penuh kasih sayang sehingga tak jarang mendapat nilai 10 pada matematika. Itu terjadi saat kelas 1 SD kalau gak salah. Dulu, aku lumayan pinter sih. Bahkan pernah nilai rapor matematika 10. Kelas 1 gitu.

                          Beranjak ke tingkatan selanjutnya, aku sempat beberapa bulan bertemu guru killer. Namanya Bu X. Beliau sangat killer sampai –sampai pernah ada yang dilempar kapur karena bercana sendiri. Tapi aku tak sempat merasakan itu. Mungkin killer untuk beberapa anak saja, except me. Tapi sekarang kayaknya udah tidak seseram dulu. Akupun ketika bertemu beliau biasa2 aja. Hehe.

                          Melihat mobil putih di depan gerbang sekolah selalu menjadi momok bagi murid SD. Pastilah mereka dari Puskesmas yang secara rutin melakukan cacar pada kami. Jadi, beberapa kali aku mengalami suntik di tahun-tahun awal SD. Ada vaksin gitu, terus suntik cacar, dll. Ada juga pembagian susu gratis atau makanan. Kalau gak salah, setiap 2x seminggu ada pembagian susu kotak untuk peningkatan gizi. Ada juga pembagian PMTAS (lupa kepanjangannya, tapi itu program bagi makanan untuk peningkatan gizi).

Paling seru ketika ada mobil putih yang aku ceritakan sebelumnya datang. Anak-anak sembunyi, berteriak, diam gemetar, dll. Tapi, aku cukup berani, walaupun terkadang masih merasa ragu. Kami pasti beranggapan disuntik terasa menyakitkan. Tak heran jika ada beberapa temanku yang menangis ketika disuntik. Padahal aslinya juga tidak sakit. Eh, sakit sih.

0 komentar:

Life of Me Part 2: Mengenal Emosi

Januari 13, 2018 Hadafi 0 Comments

Ilustrasi

                          Aku memiliki sahabat kecil bernama Andi. Umurnya memang satu tahun lebih tua dariku. Sejak aku pindah dari Kalasan ke Patuk, GK aku mengenalnya. Kami menjalani masa – masa bermain yang tak kuingat persis bagaimana. Yang jelas kami selalu berangkat bersama ketika mau sekolah. Tak hanya Andi, kayaknya aku juga sering bermain bersama Zafran.
                          Tak jarang dalam persahabatan memang sering terjadi konflik. Memang itu kami akui. Namun hal sepele sekalipun bisa menjadi luapan emosi saat itu. Pernah, suatu pagi di TK, guru memberi tugas untuk menggambar. Aku dan Andi memilih menggambar satu alat transportasi (lupa apa gambarnya), pemicu permasalahan adalah dia mencontek apa yang aku gambar sehingga gambar kami sama. Aku marah merasa tak mau dicontek. Kami pun berkelahi. Hingga saat itu kami enggan bertatap muka sementara, kayaknya sih gitu. Kami berdua juga menangis sih. Biasa lah anak kecil gitu.
                          Awal karir ibuku sebagai guru dimulai ketika mendaftar guru honorer di TK tempat aku bersekolah. Belum lama bekerja, ibu menghadapi masalah dengan TK tersebut. Aku memang masih anak umur 5 tahun, tapi kejadian itu selalu aku ingat. Mulanya hanya sebuah rapat biasa, tapi entah mengapa ibuku   menangis. Aku memang tak tahu apa permasalahannya, namun di situ aku menangis karena ibuku menangis. Kami, murid TK itu berada di ruang terpisah dengan rapat yang dilakukan ibu bersama guru lain. Namun aku masih ingat tetes air mata ibu yang mengalir. Keesokan harinya ibuku tidak pergi mengajar, aku juga demikian tak ingin untuk bersekolah. Namun ibuku tetap menasehati agar aku pergi bersekolah. That was the great moment. Setelah aku remaja, aku tahu kenapa ibuku menangis saat itu. Ada salah satu guru di sana yang tidak suka dengan kehadiran ibuku. Itulah kenapa paginya, ibuku berhenti mengajar di TK tersebut. (Penjelasan Psikologi, orang dewasa mungkin mengira anak kecil/balita lah masih tidak tahu masalah orang dewasa. Namun, kepekaan mereka terhadap informasi dari lingkungan sangat tinggi. Ini lah yang dinamakan masa golden age. Emosi yang dirasakan ibuku, suasana saat hari itu, masih teringat jelas dalam memoriku. Semakin jelas karena menyangkut pengalaman significant other/ orang terdekat.)
                          Masa TK adalah masa bermain yang melatih kemamupuan awal kehidupan di masyarakat. Salah satu permainan untuk menguji mentalku adalah titian. Aku memang takut sekali sama ketinggian. Ketika itu beberapa kali di taman kanak- kanak kami, murid disuruh untuk berjalan menaiki papan titian. Aku selalu takut dan merasa ingin menangis ketika mau mencoba untuk menaiki papan titian, ditambah harus membawa gelas berisi air dikedua tanganku. Namun aku pernah berhasil melewati tantangan tersebut walaupun tak selalu berani.

0 komentar:

Life of Me Part 1

Januari 09, 2018 Hadafi 1 Comments

Zafran, Hadafi, Mbak Ayu, Andi

Overview singkat
Namaku Hadafi Farisa Romadlon. Orang – orang disekitar biasanya memanggilku dengan nama Hadafi atau Dafi. Aku lahir pada hari Minggu, 01 Desember 1996 di Sleman. Kedua orang tuaku adalah Romadlon Haryadi dan Sarmiyati. Bapak  bekerja sebagai pegawai wiraswasta atau pedagang. Ibu sebagai guru di salah satu taman kanak-kanak di Gunungkidul.  Aku tinggal bersama mereka ditambah adik, Hafid Cahya Romadlon, seorang laki- laki yang saat ini duduk di bangku SMP.
Aku kecil dan besar di Patuk, tepatnya tinggal di Panjatan, RT 08 RW 02, Pengkok, Patuk, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah sederhana yang kami tinggali dengan suasana desa yang asri.
Aku memiliki golongan darah B, mempunyai sedikit minat pada fashion, dan suka mendengarkan musik. Aku cukup aktif di media sosial untuk meng-update informasi, tapi sekarang mulai redup. Entah, mungkin karena aku mau lebih menghormati privasiku. Oiya, aku juga punya hobi di bidang jurnalistik juga hlo.
Selama hidup ini, aku pernah bersekolah di TK Masyitoh Kebokuning, SD N Pengkok, SMP 2 Playen, dan SMA N 1 Wonosari. Saat ini aku masih berusaha untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UGM. Sekian gambaran singkat kehidupan yang aku alami.
Hadafi Farisa


Ingatan masa kecil
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, aku lahir pada 01 Desember 1996. Menurut penuturan ibu, kelahiran anak pertamanya ini terbilang unik. Normalnya, bagian tubuh pertama yang keluar dari rahim dalah kepala, namun bagian bokongku lah yang pertama kali keluar dari rahim ibu. Entah mengapa itu terjadi, yang jelas alhamdulillah selamat. Sampai sekarang, aku tak bisa membayangkan bagaimana bisa bokong yang kelaur duluan.
Tidak hanya mengenai proses kelahiran, pada proses perkembanganku tidak melalui proses merangkak melainkan ngesot, hal aneh bagi orang awam memang. Kata ibuku, celana sampai kotor karena ngesot kesana kemari. Beliau tidak segan mengatakan kecepetan ngesotku melebihi kereta. Tapi itu normal kok, kata dosenku emang semisal dia gak merangkak, dia ngesot. Sans.
Aku gak ingat masa kecilku seperti apa. Ini wajar juga. Kalo istilah psikologinya infantil amnesia, yaitu ketidakmampuan seseorang untuk mengingat kejadian masa kecil. Mungkin kalau aku ingat keluar rahim bokong dulu, ngeri kali ya? Nah lo. Dari penuturan Emak tersayang, aku sering dikira cewek saat digendong ibu di angkot. Kenapa? Kulitku putih kuning gitu, pokoknya mulus. Karena itulah aku dikira orang-orang diangkot cewek.
Momentum yang masih teringat sampai sekarang yaitu ketika aku digendong ibu tepat di belakang rumah nenek, Gatak, Selomartani. Suasanya sejuk dan angin sepoi- sepoi masih terasa sampai saat ini. Ditambah lagu “Gambang Suling” yang dinyanyikan ibu dengan merdu mempertegas kasih sayang beliau yang diberikan kepadaku. Aku selalu merindukan masa bayiku ini.
Tahun pertama aku lahir, aku dibesarkan di Kalasan, rumah nenek. Setelahnya aku baru pindah ke Patuk, Gunungkidul. Di sini, aku memiliki teman masa kecil. Mereka adalah Andi dan Zafran. Satu lagi, namanya Mbak Ayu, dulu sering main bersama kami. Tapi, aku sendiri lupa main apa.
Waktu kecil, aku sering diajak simbah dari bapakku. Paling suka diajak main ke rumah tetangga, lalu makan nasi anget plus kecap. Duh enaknya. Dulu hanya orang tertentu yang punya magic com, nah kebetulan dia punya. Enak banget pokoknya makan nasi sama kecap gitu.

1 komentar:

Tips dan Trik Lolos Tes Psikologi, Ah Basi!

Januari 02, 2018 Hadafi 0 Comments

Lembar tes Wartegg

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan pihak tertentu atau instansi tertentu. Tulisan ini murni argumen pribadi saya mengenai beredarnya buku-buku tips dan trik jitu lolos tes Psikologi dan semacamnya. Saya Hadafi, mahasiswa semester 5 Fakultas Psikologi UGM berusaha mengulasnya lewat pengetahuan yang saya dapatkan di bangku kuliah.

Sudah lebih dari sepuluh pertanyaan telah dilontarkan kepadaku. “Bagaimana sih cara lolos tes Psikologi?” “Kerjakan sesuai kondisi dan kemampuanmu, jangan lupa istirahat yang cukup agar kondisimu fit saat kamu ikut tes,” jawabku berulang kali kepada mereka. Ya, tak ada rahasia sukses tes Psikologi selain itu. Meski aku sempat lihat "kunci jawabannya", aku yang belajar pengadministrasian dan skoring pun tak mau melakukan kecurangan saat pelaksanaan tes. Gak mau. Penjelasannya nanti ya.

Sebelum bahas lebih lanjut, aku mulai dari hal yang mendasar. Atribut Psikologi sebagai objek Psikologi dikategorikan menjadi dua, pertama atribut kemampuan (inteligensi, bakat, prestasi) dan atribut nonkemampuan (kepribadian, sikap). Nah, penjabaranya demikian. Inteligensi diukur menggunakan tes IQ (CFIT, WAIS, SPM, Binet, dkk). Bakat diukur menggunakan tes bakat (DAT, FACT, GATB, dkk). Prestasi diukur dengan tes prestasi (semacam tes di SD, SMP, SMA) atau bisa juga dilihat dari portofolio. Sementara, kepribadian diukur dengan tes proyektif (DAP, DAM, Wartegg, Rorsarch) dan nonproyektif (MBTI, 16PF). Sikap diukur menggunakan skala.

Kebanyakan tes yang diberikan pada orang-orang dalam seleksi kerja yaitu tes IQ dan tes kepribadian. Beberapa instansi juga menggunakan tes bakat, apalagi bagian administrasi. Tes IQ bisa dikemas juga menggunakan tes potensi akademik. UGM sudah memiliki tes jenis tersebut, biasanya digunakan juga dalam seleksi perusahaan yang menghire jasa UGM (LPKM Fakultas Psikologi). Mari kita ulas dua jenis tes itu saja.

Tes inteligensi

Tes inteligensi berbeda dengan tes prestasi. Kita tidak perlu belajar tiap soal tes inteligensi karena hal itu mengukur kemampuan potensial individu. Berbeda dengan tes prestasi, doi mengukur kemampuan aktual individu. Penjelasan sederhananya, tes inteligensi mengukur batas optimal yang mungkin dicapai individu baik sekarang atau tahun depan. Sementara tes prestasi mengukur realisasi keberhasilan belajar mengenai materi tertentu. Duh ribet ya. Aku kasih contoh, tes inteligensi misalnya tes potensi akademik, tes prestasi misalnya, ujian Biologi SMA. Tahu bedanya gak? Aku kasih contoh nyatanya biar lebih paham.

1.      Tes Potensi Akademik

Soal: 1,6,3,6,11,8,….

Jawab: Gak ada rumusnya, orang yang punya kemampuan mengerjakan yasudah langsung tahu jawabannya yaitu 16. Kalau kamu misal tahu rumus  matematika, gabisa diaplikasikan di soal itu. Kalau aku tentormu, mungkin aku bisa kasih tahu penjelasannya pada jawaban itu saja, nah kalau soalnya beda?


2.      Ujian Biologi SMA

Soal: Apakah jagung termasuk monokotil?

Jawab: Ya. Kamu bisa cek di buku Biologimu. Pahami atau biasanya dihafalkan. Bisa jawab. Konsepnya jelas.

Nah, ini aku mau tunjukin kalau tips mengerjakan tes IQ yaitu kerjakan sesuai kemampuanmu dan jangan lupa istirahat yang cukup agar kamu fit. Kalau kamu pelajarin soal demi soal tes potensi akademik, yang ada pusing dan justru malah jadi beban. Ini justru mengganggu kondisi mentalmu. Pada dasarnya testee (orang yang dites) akan mencapai hasil optimal jika melakukan tes dalam keadaan yang sehat dan nyaman. Teori hlo ini. Jangan bergadang buat mempelajari buku tips dan trik mengerjakan tes Psikologi.

Tes Kepribadian

Tes kepribadian yang digunakan instansi atau perusahaan sangat variatif, banyak macamnya. Aku tak bisa tahu spesifik jenis tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian calon karyawan. Malah, tes kepribadian ini kadang disingkirkan oleh alat asesmen kepribadian yang lain yaitu observasi, wawancara, FGD, atau LGD. Kayaknya banyak perusahaan yang beralih ke situ karena memangkas cost tes Psikologi yang mahal. Kenapa mahal? Lain kali aku jelaskan pada tulisan lain.

Setahuku tes yang bisa digunakan dalam seleksi yaitu MBTI dan Wartegg. Kita ulas satu persatu. Tes MBTI merupakan alat ukur kepribadian. Hasilnya berupa kecenderungan kepribadian kamu. Peserta diminta untuk menjawab pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Setahuku tes MBTI mudah untuk faking good (menunjukkan jawaban yang baik, padahal tidak sesuai keadaan sebenarnya), tapi aku belum ambil mata kuliahnya, jadi tidak bisa mengulas lebih detail. Nah, sebenarnya faking good itu malah menyesatkan hlo. Kenapa? Nanti aku jawab.

Selanjutnya tes Wartegg. Peserta diminta meneruskan gambar pada kotak. Nah, jujur skoring tes ini sangat ribet. Ribet banget. Mungkin Psikolog yang sudah sering memakai tes ini tidak sampai skoring sebegitu komplek. Mungkin hanya dilihat pada aspek tertentu saja yang diungkap menggunakan tes Wartegg. Mungkin hlo ya. Ketika aku mempelajarinya, sebenarnya aku jadi paham dan bisa saja berbuat faking good pada tes ini. Misalnya, gambar garis bergelombang menandakan kecemasan, nah aku menghindari garis gelombang meski aku lebih suka menggambar garis bergelombang. Kita berpikir orang yang cemas tidak akan dipilih perusahaan/instansi. Tapi, aku tidak menyarankan kamu melakukan hal itu. Kenapa? Merugikan kita malah.

Setahuku, ada tes Psikologi, lupa namanya yang bisa mengetahui kebohongan testee (peserta tes). Ada skoring khusus untuk mengukur lie skor. Hayoo… bisa ketahuan kalau kamu bohong. Nanti perusahaan atau instansi malah gak jadi pilih kamu karena skor bohongmu tinggi. Nah, ini kerugian pertama kalau kamu tidak jawab secara jujur dalam tes.

Selanjutnya, orang awam tak menyadari adanya istilah person job fit. Yaitu penempatan seseorang dengan kualifikasi dan karakter yang tepat pada suatu posisi. Nah, ini aku menjawab masalah faking good tadi. Misal, perusahaan X mencari kasir, lalu menggunakan tes Psikologi untuk mengukur kemampuan komunikasi interpersonal calon kayawan mereka. Aitem atau soal dalam tes meliputi, “saya suka berbicara di depan umum”. “Saya selalu menyapa duluan ketika bertemu teman lama.” “Saya yang memulai pembicaraan dahulu dengan orang tak dikenal.” Apabila kamu seorang pendiam yang mencoba menjawab ya pada semua soal itu, dipastikan kamu tak diterima menjadi kasir. Perusahaan akan menghindari calon karyawan yang memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik pada posisi kasir. Nah, ini mungkin analogi yang sederhana untuk menjelaskan person job fit. Perusahaan tak mencari orang yang sempurna, tapi mereka mencari orang yang cocok. 

Setiap instansi atau perusahaan seharusnya sudah memiliki job description (tanggungjawab dan tugas suatu posisi) untuk suatu posisi dan job specification (kualifikasi seseorang yang menempati posisi tertentu) untuk calon karyawan yang akan menempati posisi itu. Nah, itu yang menjadi dasar perusahaan/instansi untuk memilih karyawan mereka. Seseorang yang pandai belum tentu diterima pada posisi tertentu jika job specification pada posisi itu tak mensyaratkan kepandaian.

Semoga ini menjawab rasa penarasan orang-orang terhadap tips dan trik dalam mengerjakan tes Psikologi. Aku ulangi lagi, tips dan triknya yaitu kerjakan sesuai kemampuan dan keadaan sebernarnya, jangan lupa istirahat yang cukup agar tetap fit saat mengerjakan tes sehingga hasilnya bisa optimal.




0 komentar:

Menutup Tahun 2017: Bersenang-Senang dengan Anak Muda Seberang

Januari 01, 2018 Hadafi 0 Comments

Makan bersama setelah outbond
Akhir tahun 2017 aku dan kawan Forum Mahasiswa Kecamatan Patuk (FMKP) disibukkan dengan agenda kolaborasi. Beberapa waktu sebelumnya, kami dikontak Aby untuk menjadi panitia outbond Pemuda Karang Taruna Plosokerep a.k.a Panca Karya. Plosokerep merupakan salah satu dusun di Desa Bunder, Patuk. Kami meng-iyakan tawaran tersebut lantaran mumpung selo libur dan ingin menambah teman baru. Lumayan lah ada kegiatan di libur natal dan tahun baru.

Pelaksanaan kegiatan outbond rencananya pada 31 Desember 2017. Hari sebelum2nya, kami mempersiapkan segala keperluan, panitia, rute, hingga peralatan yang harus tersedia. Aku baru pertama kali berkeliling Plosekerep, ternyata lumayan luas ya. Kurang lebih 3x aku main ke balai dusun mereka. Balai dusun baru rupanya. Lucu, kata Mas Kentung dkk kalau ganti kades, balai dusunnya pindah. Pindah ke lokasi dekat rumah dukuh. Sudah berapa kali pindah ya?

Kurang lebih ada 10 panitia dari FMKP yang ikut serta. Kami dibagi ke beberapa plotingan tugas. Ada yang berjaga di Pos 1, Pos 2, hingga Pos 4. Sementara aku dan Latifah berjaga pada pos keberangkatan. Peserta outbond lumayan ramai. Ada sekitar 50 anak dan pemuda yang ikut serta. Wah, kompak sekali, batinku.

Ini pertama kalinya aku menjadi panitia outbond. Pertama kali juga untuk FMKP. Rasanya seru, tak sabar melihat mereka yang basah2an. Haha. Jahat emang. Kami merancang outbond ini dengan penuh kebasahan, kekotoran, hingga kehitaman. Air, lumpur, dan arang, perpaduan sempurna untuk tema outbond kali ini. Haha. Tertawa jahat.

Di pos keberangkatan, peserta diharuskan berkelompok dan membuat yel-yel. Sebelumnya ada pemanasan yang dipimpin oleh mbak Rasti (kalau gak salah namanya), biar gak keseleo. Selanjutnya peserta diberangkatkan tiap kloter. Tak lupa, mereka mendapat tanda cinta dari kami, coretan arang di wajah mereka. Tanda cinta itu akan bertambah jika mereka kalah di setiap pos. 

Peserta harus melewati 4 pos. Di pos pertama, mereka ditantang untuk beryel-yel. Lalu, diminta melewati jaring laba2 tanpa menyentuhnya. Di pos kedua, peserta diminta membuat menara dari sesuatu yang didapat di perjalanan antara pos 1 dan 2. Ada yang mendapat kayu panjang, sehingga bisa membangun menara tinggi, tim tersebut yang menang. Di pos ketiga, peserta bermain air+lumpur. Mereka harus memindahkan air secara kelompok menggunakan bak dengan kaki mereka. Semua peserta basah dan berlumpur. Maklum lumayan becek. Sementara, di pos keempat, peserta diminta mengeluarkan bola di dalam peralon yang berlubang. Caranya, mereka harus menutup lubang dan memasukkan air menggunakan gayung hingga bola keluar. Seru lah pokoknya.

Keseruan pos 4

Keseruan pos 1

Keseruan Pos 2

Semua orang sudah kotor dan basah kuyup. Cacing-cacing di perut mulai menggeliat, menandakan lapar. Yang ditunggu-tunggu pun datang. Perempuan2 mengambil satu persatu nasi dan lauk, menyiapkan daun pisang sebagai alas makan. Kami makan bersama dengan daun pisang. Ramai pokoknya. Meski makanan sederhana, ini jauh lebih nikmat karena kita bisa saling bercengkrama, mengenal satu sama lain. Terakhir sesi foto bersama. Tapi belum ku dapat untuk dokumentasinya, masih di kamera mereka. 
Penutupan tahun 2017 ini menjadi pengalaman berharga bagi kami, khususnya bagiku. Selamat tahun baru 2018. Malam tahun baru aku bakar2 di rumah hlooooo.




0 komentar: