Tips dan Trik Lolos Tes Psikologi, Ah Basi!
![]() |
| Lembar tes Wartegg |
Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan pihak tertentu atau instansi tertentu. Tulisan ini murni argumen pribadi saya mengenai beredarnya buku-buku tips dan trik jitu lolos tes Psikologi dan semacamnya. Saya Hadafi, mahasiswa semester 5 Fakultas Psikologi UGM berusaha mengulasnya lewat pengetahuan yang saya dapatkan di bangku kuliah.
Sudah lebih dari sepuluh pertanyaan
telah dilontarkan kepadaku. “Bagaimana sih cara lolos tes Psikologi?” “Kerjakan
sesuai kondisi dan kemampuanmu, jangan lupa istirahat yang cukup agar kondisimu
fit saat kamu ikut tes,” jawabku berulang kali kepada mereka. Ya, tak ada
rahasia sukses tes Psikologi selain itu. Meski aku sempat lihat "kunci jawabannya", aku yang belajar
pengadministrasian dan skoring pun tak mau melakukan kecurangan saat pelaksanaan
tes. Gak mau. Penjelasannya nanti ya.
Sebelum bahas lebih lanjut, aku
mulai dari hal yang mendasar. Atribut Psikologi sebagai objek Psikologi dikategorikan
menjadi dua, pertama atribut kemampuan (inteligensi, bakat, prestasi) dan
atribut nonkemampuan (kepribadian, sikap). Nah, penjabaranya demikian. Inteligensi
diukur menggunakan tes IQ (CFIT, WAIS, SPM, Binet, dkk). Bakat diukur
menggunakan tes bakat (DAT, FACT, GATB, dkk). Prestasi diukur dengan tes prestasi (semacam tes di SD, SMP, SMA) atau bisa juga dilihat dari portofolio.
Sementara, kepribadian diukur dengan tes proyektif (DAP, DAM, Wartegg,
Rorsarch) dan nonproyektif (MBTI, 16PF). Sikap diukur menggunakan skala.
Kebanyakan tes yang diberikan
pada orang-orang dalam seleksi kerja yaitu tes IQ dan tes kepribadian. Beberapa
instansi juga menggunakan tes bakat, apalagi bagian administrasi. Tes IQ bisa
dikemas juga menggunakan tes potensi akademik. UGM sudah memiliki tes jenis
tersebut, biasanya digunakan juga dalam seleksi perusahaan yang menghire jasa
UGM (LPKM Fakultas Psikologi). Mari kita ulas dua jenis tes itu saja.
Tes inteligensi
Tes inteligensi berbeda dengan
tes prestasi. Kita tidak perlu belajar tiap soal tes inteligensi karena hal itu
mengukur kemampuan potensial individu. Berbeda dengan tes prestasi, doi mengukur
kemampuan aktual individu. Penjelasan sederhananya, tes inteligensi mengukur
batas optimal yang mungkin dicapai individu baik sekarang atau tahun depan.
Sementara tes prestasi mengukur realisasi keberhasilan belajar mengenai materi
tertentu. Duh ribet ya. Aku kasih contoh, tes inteligensi misalnya tes potensi
akademik, tes prestasi misalnya, ujian Biologi SMA. Tahu bedanya gak? Aku kasih
contoh nyatanya biar lebih paham.
1. Tes
Potensi Akademik
Soal:
1,6,3,6,11,8,….
Jawab: Gak ada
rumusnya, orang yang punya kemampuan mengerjakan yasudah langsung tahu
jawabannya yaitu 16. Kalau kamu misal tahu rumus matematika, gabisa diaplikasikan di soal itu.
Kalau aku tentormu, mungkin aku bisa kasih tahu penjelasannya pada jawaban itu
saja, nah kalau soalnya beda?
2. Ujian
Biologi SMA
Soal: Apakah
jagung termasuk monokotil?
Jawab: Ya. Kamu
bisa cek di buku Biologimu. Pahami atau biasanya dihafalkan. Bisa jawab. Konsepnya jelas.
Nah, ini aku mau tunjukin kalau
tips mengerjakan tes IQ yaitu kerjakan sesuai kemampuanmu dan jangan lupa
istirahat yang cukup agar kamu fit. Kalau kamu pelajarin soal demi soal tes
potensi akademik, yang ada pusing dan justru malah jadi beban. Ini justru mengganggu kondisi mentalmu. Pada dasarnya testee (orang yang dites) akan mencapai hasil optimal jika melakukan tes dalam keadaan yang sehat dan nyaman. Teori hlo ini. Jangan bergadang buat mempelajari buku tips dan trik mengerjakan tes Psikologi.
Tes Kepribadian
Tes kepribadian yang digunakan
instansi atau perusahaan sangat variatif, banyak macamnya. Aku tak bisa tahu spesifik jenis tes
yang digunakan untuk mengungkap kepribadian calon karyawan. Malah, tes
kepribadian ini kadang disingkirkan oleh alat asesmen kepribadian yang lain
yaitu observasi, wawancara, FGD, atau LGD. Kayaknya banyak perusahaan yang
beralih ke situ karena memangkas cost tes Psikologi yang mahal. Kenapa mahal?
Lain kali aku jelaskan pada tulisan lain.
Setahuku tes yang bisa digunakan dalam seleksi yaitu MBTI dan Wartegg. Kita ulas satu persatu. Tes MBTI merupakan
alat ukur kepribadian. Hasilnya berupa kecenderungan kepribadian kamu. Peserta
diminta untuk menjawab pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Setahuku tes MBTI mudah untuk faking good (menunjukkan jawaban yang baik,
padahal tidak sesuai keadaan sebenarnya), tapi aku belum ambil mata kuliahnya,
jadi tidak bisa mengulas lebih detail. Nah, sebenarnya faking good itu malah
menyesatkan hlo. Kenapa? Nanti aku jawab.
Selanjutnya tes Wartegg. Peserta
diminta meneruskan gambar pada kotak. Nah, jujur skoring tes ini sangat ribet.
Ribet banget. Mungkin Psikolog yang sudah sering memakai tes ini tidak sampai
skoring sebegitu komplek. Mungkin hanya dilihat pada aspek tertentu saja yang
diungkap menggunakan tes Wartegg. Mungkin hlo ya. Ketika aku mempelajarinya,
sebenarnya aku jadi paham dan bisa saja berbuat faking good pada tes ini. Misalnya, gambar
garis bergelombang menandakan kecemasan, nah aku menghindari garis gelombang
meski aku lebih suka menggambar garis bergelombang. Kita berpikir orang yang cemas tidak akan dipilih perusahaan/instansi. Tapi, aku tidak menyarankan
kamu melakukan hal itu. Kenapa? Merugikan kita malah.
Setahuku, ada tes Psikologi, lupa
namanya yang bisa mengetahui kebohongan testee (peserta tes). Ada skoring
khusus untuk mengukur lie skor.
Hayoo… bisa ketahuan kalau kamu bohong. Nanti perusahaan atau instansi malah
gak jadi pilih kamu karena skor bohongmu tinggi. Nah, ini kerugian pertama kalau
kamu tidak jawab secara jujur dalam tes.
Selanjutnya, orang awam tak menyadari adanya
istilah person job fit. Yaitu
penempatan seseorang dengan kualifikasi dan karakter yang tepat pada suatu posisi. Nah, ini
aku menjawab masalah faking good tadi. Misal, perusahaan X mencari kasir, lalu
menggunakan tes Psikologi untuk mengukur kemampuan komunikasi interpersonal
calon kayawan mereka. Aitem atau soal dalam tes meliputi, “saya suka berbicara
di depan umum”. “Saya selalu menyapa duluan ketika bertemu teman lama.” “Saya
yang memulai pembicaraan dahulu dengan orang tak dikenal.” Apabila kamu seorang
pendiam yang mencoba menjawab ya pada semua soal itu, dipastikan kamu tak
diterima menjadi kasir. Perusahaan akan menghindari calon karyawan yang
memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik pada posisi kasir. Nah,
ini mungkin analogi yang sederhana untuk menjelaskan person job fit. Perusahaan tak mencari orang yang sempurna, tapi mereka mencari orang yang cocok.
Setiap instansi atau perusahaan
seharusnya sudah memiliki job description (tanggungjawab dan tugas suatu posisi)
untuk suatu posisi dan job specification (kualifikasi seseorang yang menempati
posisi tertentu) untuk calon karyawan yang akan menempati posisi itu. Nah, itu
yang menjadi dasar perusahaan/instansi untuk memilih karyawan mereka. Seseorang
yang pandai belum tentu diterima pada posisi tertentu jika job specification
pada posisi itu tak mensyaratkan kepandaian.
Semoga ini menjawab rasa
penarasan orang-orang terhadap tips dan trik dalam mengerjakan tes Psikologi. Aku ulangi
lagi, tips dan triknya yaitu kerjakan sesuai kemampuan dan keadaan sebernarnya, jangan lupa
istirahat yang cukup agar tetap fit saat mengerjakan tes sehingga hasilnya bisa optimal.






0 komentar: