Tips dan Trik Lolos Tes Psikologi, Ah Basi!

Januari 02, 2018 Hadafi 0 Comments

Lembar tes Wartegg

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan pihak tertentu atau instansi tertentu. Tulisan ini murni argumen pribadi saya mengenai beredarnya buku-buku tips dan trik jitu lolos tes Psikologi dan semacamnya. Saya Hadafi, mahasiswa semester 5 Fakultas Psikologi UGM berusaha mengulasnya lewat pengetahuan yang saya dapatkan di bangku kuliah.

Sudah lebih dari sepuluh pertanyaan telah dilontarkan kepadaku. “Bagaimana sih cara lolos tes Psikologi?” “Kerjakan sesuai kondisi dan kemampuanmu, jangan lupa istirahat yang cukup agar kondisimu fit saat kamu ikut tes,” jawabku berulang kali kepada mereka. Ya, tak ada rahasia sukses tes Psikologi selain itu. Meski aku sempat lihat "kunci jawabannya", aku yang belajar pengadministrasian dan skoring pun tak mau melakukan kecurangan saat pelaksanaan tes. Gak mau. Penjelasannya nanti ya.

Sebelum bahas lebih lanjut, aku mulai dari hal yang mendasar. Atribut Psikologi sebagai objek Psikologi dikategorikan menjadi dua, pertama atribut kemampuan (inteligensi, bakat, prestasi) dan atribut nonkemampuan (kepribadian, sikap). Nah, penjabaranya demikian. Inteligensi diukur menggunakan tes IQ (CFIT, WAIS, SPM, Binet, dkk). Bakat diukur menggunakan tes bakat (DAT, FACT, GATB, dkk). Prestasi diukur dengan tes prestasi (semacam tes di SD, SMP, SMA) atau bisa juga dilihat dari portofolio. Sementara, kepribadian diukur dengan tes proyektif (DAP, DAM, Wartegg, Rorsarch) dan nonproyektif (MBTI, 16PF). Sikap diukur menggunakan skala.

Kebanyakan tes yang diberikan pada orang-orang dalam seleksi kerja yaitu tes IQ dan tes kepribadian. Beberapa instansi juga menggunakan tes bakat, apalagi bagian administrasi. Tes IQ bisa dikemas juga menggunakan tes potensi akademik. UGM sudah memiliki tes jenis tersebut, biasanya digunakan juga dalam seleksi perusahaan yang menghire jasa UGM (LPKM Fakultas Psikologi). Mari kita ulas dua jenis tes itu saja.

Tes inteligensi

Tes inteligensi berbeda dengan tes prestasi. Kita tidak perlu belajar tiap soal tes inteligensi karena hal itu mengukur kemampuan potensial individu. Berbeda dengan tes prestasi, doi mengukur kemampuan aktual individu. Penjelasan sederhananya, tes inteligensi mengukur batas optimal yang mungkin dicapai individu baik sekarang atau tahun depan. Sementara tes prestasi mengukur realisasi keberhasilan belajar mengenai materi tertentu. Duh ribet ya. Aku kasih contoh, tes inteligensi misalnya tes potensi akademik, tes prestasi misalnya, ujian Biologi SMA. Tahu bedanya gak? Aku kasih contoh nyatanya biar lebih paham.

1.      Tes Potensi Akademik

Soal: 1,6,3,6,11,8,….

Jawab: Gak ada rumusnya, orang yang punya kemampuan mengerjakan yasudah langsung tahu jawabannya yaitu 16. Kalau kamu misal tahu rumus  matematika, gabisa diaplikasikan di soal itu. Kalau aku tentormu, mungkin aku bisa kasih tahu penjelasannya pada jawaban itu saja, nah kalau soalnya beda?


2.      Ujian Biologi SMA

Soal: Apakah jagung termasuk monokotil?

Jawab: Ya. Kamu bisa cek di buku Biologimu. Pahami atau biasanya dihafalkan. Bisa jawab. Konsepnya jelas.

Nah, ini aku mau tunjukin kalau tips mengerjakan tes IQ yaitu kerjakan sesuai kemampuanmu dan jangan lupa istirahat yang cukup agar kamu fit. Kalau kamu pelajarin soal demi soal tes potensi akademik, yang ada pusing dan justru malah jadi beban. Ini justru mengganggu kondisi mentalmu. Pada dasarnya testee (orang yang dites) akan mencapai hasil optimal jika melakukan tes dalam keadaan yang sehat dan nyaman. Teori hlo ini. Jangan bergadang buat mempelajari buku tips dan trik mengerjakan tes Psikologi.

Tes Kepribadian

Tes kepribadian yang digunakan instansi atau perusahaan sangat variatif, banyak macamnya. Aku tak bisa tahu spesifik jenis tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian calon karyawan. Malah, tes kepribadian ini kadang disingkirkan oleh alat asesmen kepribadian yang lain yaitu observasi, wawancara, FGD, atau LGD. Kayaknya banyak perusahaan yang beralih ke situ karena memangkas cost tes Psikologi yang mahal. Kenapa mahal? Lain kali aku jelaskan pada tulisan lain.

Setahuku tes yang bisa digunakan dalam seleksi yaitu MBTI dan Wartegg. Kita ulas satu persatu. Tes MBTI merupakan alat ukur kepribadian. Hasilnya berupa kecenderungan kepribadian kamu. Peserta diminta untuk menjawab pernyataan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya. Setahuku tes MBTI mudah untuk faking good (menunjukkan jawaban yang baik, padahal tidak sesuai keadaan sebenarnya), tapi aku belum ambil mata kuliahnya, jadi tidak bisa mengulas lebih detail. Nah, sebenarnya faking good itu malah menyesatkan hlo. Kenapa? Nanti aku jawab.

Selanjutnya tes Wartegg. Peserta diminta meneruskan gambar pada kotak. Nah, jujur skoring tes ini sangat ribet. Ribet banget. Mungkin Psikolog yang sudah sering memakai tes ini tidak sampai skoring sebegitu komplek. Mungkin hanya dilihat pada aspek tertentu saja yang diungkap menggunakan tes Wartegg. Mungkin hlo ya. Ketika aku mempelajarinya, sebenarnya aku jadi paham dan bisa saja berbuat faking good pada tes ini. Misalnya, gambar garis bergelombang menandakan kecemasan, nah aku menghindari garis gelombang meski aku lebih suka menggambar garis bergelombang. Kita berpikir orang yang cemas tidak akan dipilih perusahaan/instansi. Tapi, aku tidak menyarankan kamu melakukan hal itu. Kenapa? Merugikan kita malah.

Setahuku, ada tes Psikologi, lupa namanya yang bisa mengetahui kebohongan testee (peserta tes). Ada skoring khusus untuk mengukur lie skor. Hayoo… bisa ketahuan kalau kamu bohong. Nanti perusahaan atau instansi malah gak jadi pilih kamu karena skor bohongmu tinggi. Nah, ini kerugian pertama kalau kamu tidak jawab secara jujur dalam tes.

Selanjutnya, orang awam tak menyadari adanya istilah person job fit. Yaitu penempatan seseorang dengan kualifikasi dan karakter yang tepat pada suatu posisi. Nah, ini aku menjawab masalah faking good tadi. Misal, perusahaan X mencari kasir, lalu menggunakan tes Psikologi untuk mengukur kemampuan komunikasi interpersonal calon kayawan mereka. Aitem atau soal dalam tes meliputi, “saya suka berbicara di depan umum”. “Saya selalu menyapa duluan ketika bertemu teman lama.” “Saya yang memulai pembicaraan dahulu dengan orang tak dikenal.” Apabila kamu seorang pendiam yang mencoba menjawab ya pada semua soal itu, dipastikan kamu tak diterima menjadi kasir. Perusahaan akan menghindari calon karyawan yang memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik pada posisi kasir. Nah, ini mungkin analogi yang sederhana untuk menjelaskan person job fit. Perusahaan tak mencari orang yang sempurna, tapi mereka mencari orang yang cocok. 

Setiap instansi atau perusahaan seharusnya sudah memiliki job description (tanggungjawab dan tugas suatu posisi) untuk suatu posisi dan job specification (kualifikasi seseorang yang menempati posisi tertentu) untuk calon karyawan yang akan menempati posisi itu. Nah, itu yang menjadi dasar perusahaan/instansi untuk memilih karyawan mereka. Seseorang yang pandai belum tentu diterima pada posisi tertentu jika job specification pada posisi itu tak mensyaratkan kepandaian.

Semoga ini menjawab rasa penarasan orang-orang terhadap tips dan trik dalam mengerjakan tes Psikologi. Aku ulangi lagi, tips dan triknya yaitu kerjakan sesuai kemampuan dan keadaan sebernarnya, jangan lupa istirahat yang cukup agar tetap fit saat mengerjakan tes sehingga hasilnya bisa optimal.




0 komentar: