Life of Me Part 3: Masa Awal Sekolah Dasar

Januari 17, 2018 Hadafi 0 Comments

Source: http://sorongselatankab.go.id/index.php/news/read/2015/10/15/165/puskesmas-saifi-terima-mobil-pusling.html

Puasa: jam 9 sudah berbuka

                          Aku tidak ingat kapan tepatnya aku diajari ibu untuk berpuasa. Yang jelas sekitar awal – awal aku masuk SD. Dulu, bulan ramadan tidak ada kegiatan belajar mengajar. Jadi bulan puasa tuh sekolah off. Enak kan? Honestly enggak. Enggak enak. Gaada kegiatan, puasa lagi. Mana tahan?

                          Sahur adalah bangun malam untuk makan sebelum berpuasa. Saat itu aku dibangunkan ibuku untuk sahur. Aku bangun lalu cuci muka. Ibuku mengambil makan untukku. Seperti kebanyakan orang puasa, sahur tuh males banget. Kalau gak benar2 niat, susah bangun. Untuk ibu setia membangunkanku. Alhamdulillah.

                          Puasa pertamaku trejadi saat sekolah libur. Ini semacam ketentuan dari dinas gitu kalau bulan puasa libur. Dari pagi aku mencoba untuk tidak melihat makanan. Sampai aku jalan2 keluar rumah dan tidak sengaja aku mengambil bunga berwarna ungu. Aku menghisap madu didalamnya. Aku lupa saat itu sedang puasa. Aku bilang ke ibu bagaimana puasaku. “ Puasamu tidak batal karena kamu tidak sengaja. Jika kamu sengaja menghisap madunya, baru, puasanya dianggap batal,” ujar ibu menenangkanku. Syukur deh.

                          Tidak hanya lupa puasa, saat jam menunjukkan pukul 09.00 aku sudah merasa lapar. Aku bilang ke ibu jika aku sudah lapar. Ibu menjelaskanku dan menasehati untuk makan karena aku baru belajar berpuasa. Tapi aku masih ngotot untuk tidak makan. Pada akhirnya aku juga tidak bisa menyelesaikan puasa setengah hariku itu. Terpaksa jam 09.00 aku sudah makan. Haha.

Mobil putih mengerikan

                          Aku sedikit lupa tentang apa yang aku alami di tahun  pertama belajar di sekolah dasar. Yang sampai hari ini tak terlupakan adalah rasanya memiliki guru yang bernama Bu Darifah. Senang sekali, beliau mengajar dengan penuh kasih sayang sehingga tak jarang mendapat nilai 10 pada matematika. Itu terjadi saat kelas 1 SD kalau gak salah. Dulu, aku lumayan pinter sih. Bahkan pernah nilai rapor matematika 10. Kelas 1 gitu.

                          Beranjak ke tingkatan selanjutnya, aku sempat beberapa bulan bertemu guru killer. Namanya Bu X. Beliau sangat killer sampai –sampai pernah ada yang dilempar kapur karena bercana sendiri. Tapi aku tak sempat merasakan itu. Mungkin killer untuk beberapa anak saja, except me. Tapi sekarang kayaknya udah tidak seseram dulu. Akupun ketika bertemu beliau biasa2 aja. Hehe.

                          Melihat mobil putih di depan gerbang sekolah selalu menjadi momok bagi murid SD. Pastilah mereka dari Puskesmas yang secara rutin melakukan cacar pada kami. Jadi, beberapa kali aku mengalami suntik di tahun-tahun awal SD. Ada vaksin gitu, terus suntik cacar, dll. Ada juga pembagian susu gratis atau makanan. Kalau gak salah, setiap 2x seminggu ada pembagian susu kotak untuk peningkatan gizi. Ada juga pembagian PMTAS (lupa kepanjangannya, tapi itu program bagi makanan untuk peningkatan gizi).

Paling seru ketika ada mobil putih yang aku ceritakan sebelumnya datang. Anak-anak sembunyi, berteriak, diam gemetar, dll. Tapi, aku cukup berani, walaupun terkadang masih merasa ragu. Kami pasti beranggapan disuntik terasa menyakitkan. Tak heran jika ada beberapa temanku yang menangis ketika disuntik. Padahal aslinya juga tidak sakit. Eh, sakit sih.

0 komentar: