S.U.R.A.B.A.Y.A
Aku terbangun pukul 04.00 pagi. Meskipun hari ini dingin
sekali, aku tetap menguatkan diri untuk beranjak dari bantal-bantal nakal. Ya,
aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersikan diri dan bersiap menuju Stasiun Yogyakarta. Menyentuh pukul 05.00, sarapan telah siap. Aku makan nasi dan telur
ceplok sekenanya. Harap-harap cemas, aku yakin kereta Sancaka masih berada di
Stasiun Tugu dan baru dibersihkan.
Dugaanku tepat. Pukul 06.00, aku sampai di stasiun. Bapak
mengantarku sampai depan pintu keberangkatan. Ya, ini pertama kalinya aku masuk
ke stasiun sungguhan. Nerveous memang, tapi sampai dalam juga biasa aja. Aku
memperlihatkan boarding pass ke petugas tiket. Dia memberitahu jalur kereta yang
harus aku tumpangi. Jalur 5 atau 6, aku lupa.
Kereta sudah menunggu di depan mata. Segera aku mencari
gerbong Ekonomi 2 nomor kursi 4D. Aku masih ingat. Ketaruh koper di bagasi
atas, lalu duduk menikmati suasana gerbong yang masih sangat sepi. Dinginnya
Jogja membuatku ingin pipis. Kuputuskan untuk mencari toilet kecil di atas
gerbong. Duh leganya.
Buku The Bad Boy in Suit
Menunggu kereta berangkat agaknya membosankan. Aku
memutuskan untuk mengambil buku dengan sampul hitam di koperku. Perlahan aku
buka, ya ini buku baru. Satu kalimat, dua kalimat, hingga satu paragraf aku
baca. Tak terasa sudah satu lembar, aku tahu isi buku ini. Hmm.... tak terduga.
Semakin siang, satu persatu penumpang mulai berdatangan
untuk ke tempat tujuan mereka. Gerbong semakin ramai. Aku berharap ada
penumpang yang duduk di sebelah agar bisa berbincang-bincang selama perjalanan.
Kereta berangkat, pemandangan lepas terlihat hijau di antara
rel kereta. Aku mulai meneruskan buku bacaan yang ku pegang. Buku ini
menakjubkan. Bercerita seorang mahasiswa yang baru kuliah, dan baru pertama
kali mengalami jatuh cinta yang sesungguhnya. Dia jatuh cinta pada orang yang
dibenci. Ya begitulah. Novel ini tergolong novel dewasa karena beberapa plot
yang mengundang erotisme seksual.
Sampai Surabaya
Buku tersebut aku bolak hingga hampir setengah halaman.
Sekitar pukul 12.00, aku sampai di Surabaya. Ya, aku sampai di Surabaya. Meski
terlambat hampir tiga puluh menit, aku senang. Di depan pintu keluar sudah
banyak taksi, ojek, bahkan orang-orang yang menunggu kehadiran kami. Eits, aku
gak ada yang nungguin hlo....
Aku berjalan keluar dan segera membuka ponsel untuk order
Gojek. Setelah kira-kira 100 meter dari stasiun, Bapak Gojek hadir dan
menjemputku sampai di Hotel tempat workshop berlangsung. Selama empat hari, aku
akan berkegiatan di hotel tersebut. Ah, mengagumkan bukan?
Sampai di hotel, aku langsung check in. Resepsionist
berkata, “Mas di kamar 819 ya, sama Khoirul,” sahutnya. Aku belum kenal
siapapun. Karena perut sudah lapar, aku menuju tempat makan hotel, aku melihat teman-teman yang selesai makan (mereka juga ikut
workshop). Mulailah, kami berkenalan satu sama lain, mengobrol dengan bahasan
ringan hingga makan siang satu meja.
***
Berkunjung ke Tempat
Tak Terduga
Hari pertama dan kedua diisi oleh pemateri yang menyampaikan
bahasan mengenai jurnalistik keberagaman, HAM, kebebasan beragama dan berkeyakinan,
dan cara meliput keberagaman. Asyik sih, tapi menurutku lebih asyik lagi bila
sering bertukar pikiran dengan peserta lain. Ya, aku sangat merasakan aroma
keberagaman di sini. Bertemu teman-teman dari Sumatra, Jawa, hingga Sulawesi.
Potret mini Indonesia, kataku.
Hari ketiga, kami ada
field trip mengunjungi salah satu
komunitas penghayat kepercayaan Sapta Darma di Surabaya. Bayanganku, aku
berkunjung ke komunitas yang masih konservatif dengan idealisme mereka sendiri.
Tapi, dugaanku agak salah.
Kami disambut hangat oleh beberapa penganut kepercayaan
lokal tersebut. Kami disambut di sanggar tempat ibadah mereka. Agenda trip ini
adalah liputan, kami diminta untuk membuat tulisan features dan video singkat
dengan bahasan ini.
Mbak Yeni, salah satu penganut kepercayaan lokal
menyampaikan kisah-kisah hidupnya selama menjadi kaum yang katanya minoritas.
Beliau bercerita kisah-kisah pilu di mana mereka susah untuk eksis di tengah
perkembangan masyarakat. Susahnya memenuhi pendidikan agama selama bersekolah.
Hingga harus gonta-ganti agama agar bisa memperoleh pendidikan di bangku
sekolah. Sejumlah pengikut Sapta Darma yang hadir juga bercerita tentang
kosongnya kolom agama di KTP yang membuatnya susah untuk bertransaksi, berobat,
dll.
Ini merupakan untold
story yang sangat membekas di hati.
Perjalanan Berakhir
Hari terakhir di Surabaya, kami melakukan presentasi hasil
liputan di Sapta Darma. Sejumlah tulisan dan video berhasil kami sajikan ke
presentasi tersebut. Semua itu merupakan modal awal agar kami sebagai jurnalis agar
bisa menyajikan berita yang berimbang kepada pembaca, bukan dalam tema-tema
mainstream, melainkan isu-isu sensitif juga.
Selama empat hari, aku mendapatkan pengetahuan dan
pengalaman yang luar biasa di workshop Sejuk. Bertemu dengan orang-orang hebat
dengan idealisme yang luar biasa. Terimakasih untuk Mas Thowik, Mbak Nita,
Rusyda, Endah, Mas Bagas, Choirul, Aisyah, Taufiq, Respati, Anis, Mas Junaedi
dan teman lainnya yang tak bisa saya sebut satu-satu. Terimakasih untuk
kenangan indah selama empat hari. Cieeealh, aku lebay.
Hari semakin larut, di Gubeng, aku bertemu dengan anak-anak
asal Malang yang habis melakukan seleksi bulutangkis. Sekitar 30 menitan, kami
mengobrol. Pesanku, semoga kamu lolos seleksi ke Malaysia ya dek. Terimakasih
juga untuk ibu asal Ngawi yang telah menemaniku untuk ngobrol selama perjalanan
kereta. Semoga bisa ketemu lagi.
Foto:









0 komentar: