Sudahkah UGM Ramah terhadap Difabel?

Juli 07, 2017 Hadafi 0 Comments

Source: Kompasiana

Tuhan menciptakan manusia dalam berbagai kondisi yang beragam. Keadaan mereka (kaum disablititas, -red) dengan keterbatasannya bukanlah kehendak mereka sendiri. Pun demikian, Tuhan tak akan menciptakan sesuatu melainkan dengan tujuan tertentu.  Tinggalah kita sebagai ciptaan yang lebih sempurna harusnya tidak menutup mata.


Mereka yang disebut difabel

World Health Organisation (WHO) mendefinisikan kata “difabel” merujuk pada istilah yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan, yaitu permasalahan pada fungsi dan struktur tubuh. Keterbatasan aktivitas merupakan kesulitan individu dalam melakukan tugas. Sedangkan pembatasan partisipasi merupakan masalah individu dalam keterlibatannya di lingkup sosial.

Dikutip dari Bulaksumur Pos, difabel merupakan istilah khusus yang ditujukan pada orang-orang dengan kemampuan berbeda (people with different ability). Sebelum istilah difabel populer, masyarakat menggunakan kata “cacat” untuk menyebut mereka yang berbeda (difabel, -red). Pada 1999, aktivis penyandang cacat mulai menyadari dampak negatif secara psikologis dari penggunaan istilah cacat. Sehingga, penyebutan difabel dipilih karena merupakan simbol kesetaraan antara manusia normal dengan manusia yang memiliki keterbatasan fisik.

Kata “difabel” berasal dari Bahasa Inggris differently abled (diffabled). Kata tersebut muncul pada era tahun 90-an di Amerika Utara. Kata difabel berbeda dengan disabilitas, difabel merujuk pada manusianya, sedangkan disabilitas merupakan istilah resmi dalam ratifikasi CPRD (Convention on the Right of People with Disablity) yang menjadi satu frasa dengan kata “penyandang”. Sehingga penyebutan bagi difabel adalah penyandang disabilitas.

UGM ramah difabel

Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu kampus di Jogja yang kehadirannya (bisa) mewakili keramahan Jogja terhadap penyandang disabilitas yang hendak menimba ilmu. Inklusivitas UGM dirasakan dengan hadirnya fasilitas-fasilitas yang menunjang kemudahan akses bagi penyandang disabilitas. Diantaranya, pembangunan fasilitas gedung dengan lift khusus, toliet terpisah bagi difabel, hingga pembangunan ramp bagi pengguna kursi roda di beberapa fakultas.

Beberapa program studi di UGM juga dapat diakses oleh difabel meskipun belum semuanya. Beberapa jurusan yang membutuhkan praktikum lapangan masih menjadi kendala bagi difabel. Namun, demikian, inklusivitas kampus biru ini ditunjukkan lewat keseriusannya dalam menerima mahasiswa baru dengan kondisi berbeda. Sangat disayangkan jika mereka (penyandang disabilitas, -red) tidak diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.

Sepenggal kisah datang dari Galuh Sukmara, mahasiswa jurusan Psikologi UGM dilansir dari laman ugm.ac.id. Beliau adalah seorang penyandang tuna rungu yang orang lain tak akan menyangka jika lulusan dari UGM. Meski sempat frustasi, Galuh mengalami “proses” panjang dalam kehidupan perkuliahan. Titik baliknya saat Galuh mempunyai teman yang bisa bahasa isyarat dan memintanya untuk menerjemahkan perkuliahn dari dosen. Kala itu, dunia perkulihannya menjadi permata yang diidam-idamkan. Aneh mungkin, tapi kenyataannya bahwa kerja kerasnya membuahkan hasil.

Upaya lembaga pendidikan mewujudkan inklusivitasnya ditunjukkan juga dengan kehadiran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel yang ada di UGM. Kelompok mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap isu-isu disabilitas bergabung dalam satu wadah untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya. Dilansir dari laman solider.or.id, UKM ini memiliki misi utama mengontrol inklusifitas kampus. Meski masih ada kekurangan sana sini, langkah besar telah dimulai dari komunitas kampus ini.

Sejatinya, upaya demi upaya (mungkin) sudah diperhitungkan oleh petinggi-petinggi kampus. Tak bisa menutup mata jika penyandang disabilitas juga berhak atas impian-impiannya yang harus terwujud. Lebih lagi, jika mereka punya prestasi baik dan semangat berapi-api, tinggalah universitas menjadi batu loncatan mewujudkan harapan tersebut.

Selintas opini

UGM  (sudah) bertekad menerima mahasiswa difabel. Saat PPSMB Palapa, rektor sering kali memanggil beberapa mahasiswa baru yang “istimewa” ke atas podium sebagai simbolisasi keberagaman mahasiswa di UGM. Salah satunya dari mahasiswa penyandang disabilitas. Agaknya, momentum sorotan kamera itu menjadi  televisi raksasa untuk menunjukkan kepekaan kampus pada difabel.

Pandangan berbeda datang dari mahasiswa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bulaksumur Pos pada 2012, lebih dari separuh mahasiswa pernah menjumpai penyandang disabilitas di lingkup kampus. Hadirnya mereka (penyandang disabilitas, -red) adalah bukti nyata bahwa kampus menerima mereka. Untuk itulah, keramahan civitas kampus masih sangat diperlukan. Tak hanya bagi kampus beserta civitasnya, kesiapan fasilitas fisik pun menjadi faktor penunjang keramahan terhadap difabel. Sayangnya, meskipun upaya terus dilakukan kampus, sejumlah 77% responden mahasiswa menilai jika fasilitas kampus belum bisa menunjang keramahan terhadap difabel.

Data tersebut memang bisa dikatakan sudah tidak relevan terhadap kondisi kampus saat ini. Sudah lima tahun lalu survei dilakukan, sementara pembangunan dan tranformasi kampus telah berkembang jauh lebih pesat. Namun, data itu masih bisa menjadi refleksi kita sebagai mahasiswa dalam menilai atau memandang mereka yang berbeda.

Sekilas nampak, penyandang disabilitas saat ini telah diberi keleluasaan yang lebih dalam menempuh pendidikan tinggi. Tak cukup soal penerimaan saja, pendanaan hingga fasilitas pun sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Sebagai sesama individu, keramahan terhadap difabel juga harus ditunjukkan lewat senyum dan sapaan hangat kepada mereka. Mereka akan jauh lebih bahagia lagi ketika kita bisa menerimanya apa adanya.

Penulis:
Hadafi Farisa Romadlon
Fakultas Psikologi UGM
* Tulisan ini merupakan esai untuk mendaftar Workshop Sejuk

Sumber:
http://www.who.int/topics/disabilities/en/

https://www.solider.or.id/2017/05/09/peran-ukm-peduli-difabel-dalam-mewujudkan-kampus-inklusif-0

0 komentar: