Sudahkah UGM Ramah terhadap Difabel?
![]() |
| Source: Kompasiana |
Tuhan
menciptakan manusia dalam berbagai kondisi yang beragam. Keadaan mereka (kaum
disablititas, -red) dengan keterbatasannya bukanlah kehendak mereka sendiri. Pun
demikian, Tuhan tak akan menciptakan sesuatu melainkan dengan tujuan tertentu. Tinggalah kita sebagai ciptaan yang lebih
sempurna harusnya tidak menutup mata.
Mereka yang disebut difabel
World
Health Organisation (WHO) mendefinisikan kata “difabel” merujuk pada istilah
yang meliputi gangguan, keterbatasan aktivitas, dan pembatasan partisipasi. Gangguan,
yaitu permasalahan pada fungsi dan struktur tubuh. Keterbatasan aktivitas
merupakan kesulitan individu dalam melakukan tugas. Sedangkan pembatasan partisipasi
merupakan masalah individu dalam keterlibatannya di lingkup sosial.
Dikutip
dari Bulaksumur Pos, difabel merupakan istilah khusus yang ditujukan pada
orang-orang dengan kemampuan berbeda (people
with different ability). Sebelum istilah difabel populer, masyarakat
menggunakan kata “cacat” untuk menyebut mereka yang berbeda (difabel, -red).
Pada 1999, aktivis penyandang cacat mulai menyadari dampak negatif secara psikologis
dari penggunaan istilah cacat. Sehingga, penyebutan difabel dipilih karena merupakan
simbol kesetaraan antara manusia normal dengan manusia yang memiliki
keterbatasan fisik.
Kata
“difabel” berasal dari Bahasa Inggris differently
abled (diffabled). Kata tersebut muncul pada era tahun 90-an di Amerika
Utara. Kata difabel berbeda dengan disabilitas, difabel merujuk pada
manusianya, sedangkan disabilitas merupakan istilah resmi dalam ratifikasi CPRD
(Convention on the Right of People with Disablity) yang menjadi satu frasa dengan
kata “penyandang”. Sehingga penyebutan bagi difabel adalah penyandang disabilitas.
UGM ramah difabel
Universitas
Gadjah Mada merupakan salah satu kampus di Jogja yang kehadirannya (bisa)
mewakili keramahan Jogja terhadap penyandang disabilitas yang hendak menimba
ilmu. Inklusivitas UGM dirasakan dengan hadirnya fasilitas-fasilitas yang
menunjang kemudahan akses bagi penyandang disabilitas. Diantaranya, pembangunan
fasilitas gedung dengan lift khusus,
toliet terpisah bagi difabel, hingga pembangunan ramp bagi pengguna kursi roda di beberapa fakultas.
Beberapa
program studi di UGM juga dapat diakses oleh difabel meskipun belum semuanya.
Beberapa jurusan yang membutuhkan praktikum lapangan masih menjadi kendala bagi
difabel. Namun, demikian, inklusivitas kampus biru ini ditunjukkan lewat
keseriusannya dalam menerima mahasiswa baru dengan kondisi berbeda. Sangat
disayangkan jika mereka (penyandang disabilitas, -red) tidak diberi
kesempatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.
Sepenggal
kisah datang dari Galuh Sukmara, mahasiswa jurusan Psikologi UGM dilansir dari
laman ugm.ac.id. Beliau adalah seorang penyandang tuna rungu yang orang lain
tak akan menyangka jika lulusan dari UGM. Meski sempat frustasi, Galuh
mengalami “proses” panjang dalam kehidupan perkuliahan. Titik baliknya saat
Galuh mempunyai teman yang bisa bahasa isyarat dan memintanya untuk
menerjemahkan perkuliahn dari dosen. Kala itu, dunia perkulihannya menjadi
permata yang diidam-idamkan. Aneh mungkin, tapi kenyataannya bahwa kerja
kerasnya membuahkan hasil.
Upaya
lembaga pendidikan mewujudkan inklusivitasnya ditunjukkan juga dengan kehadiran
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel yang ada di UGM. Kelompok
mahasiswa yang memiliki ketertarikan terhadap isu-isu disabilitas bergabung
dalam satu wadah untuk menyalurkan ide-ide kreatifnya. Dilansir dari laman
solider.or.id, UKM ini memiliki misi utama mengontrol inklusifitas kampus.
Meski masih ada kekurangan sana sini, langkah besar telah dimulai dari
komunitas kampus ini.
Sejatinya,
upaya demi upaya (mungkin) sudah diperhitungkan oleh petinggi-petinggi kampus.
Tak bisa menutup mata jika penyandang disabilitas juga berhak atas
impian-impiannya yang harus terwujud. Lebih lagi, jika mereka punya prestasi
baik dan semangat berapi-api, tinggalah universitas menjadi batu loncatan
mewujudkan harapan tersebut.
Selintas opini
UGM (sudah) bertekad menerima mahasiswa difabel.
Saat PPSMB Palapa, rektor sering kali memanggil beberapa mahasiswa baru yang “istimewa”
ke atas podium sebagai simbolisasi keberagaman mahasiswa di UGM. Salah satunya
dari mahasiswa penyandang disabilitas. Agaknya, momentum sorotan kamera itu
menjadi televisi raksasa untuk menunjukkan
kepekaan kampus pada difabel.
Pandangan
berbeda datang dari mahasiswa. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh
Bulaksumur Pos pada 2012, lebih dari separuh mahasiswa pernah menjumpai
penyandang disabilitas di lingkup kampus. Hadirnya mereka (penyandang
disabilitas, -red) adalah bukti nyata bahwa kampus menerima mereka. Untuk
itulah, keramahan civitas kampus masih sangat diperlukan. Tak hanya bagi kampus
beserta civitasnya, kesiapan fasilitas fisik pun menjadi faktor penunjang
keramahan terhadap difabel. Sayangnya, meskipun upaya terus dilakukan kampus,
sejumlah 77% responden mahasiswa menilai jika fasilitas kampus belum bisa menunjang
keramahan terhadap difabel.
Data
tersebut memang bisa dikatakan sudah tidak relevan terhadap kondisi kampus saat
ini. Sudah lima tahun lalu survei dilakukan, sementara pembangunan dan
tranformasi kampus telah berkembang jauh lebih pesat. Namun, data itu masih
bisa menjadi refleksi kita sebagai mahasiswa dalam menilai atau memandang
mereka yang berbeda.
Sekilas
nampak, penyandang disabilitas saat ini telah diberi keleluasaan yang lebih
dalam menempuh pendidikan tinggi. Tak cukup soal penerimaan saja, pendanaan
hingga fasilitas pun sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.
Sebagai sesama individu, keramahan terhadap difabel juga harus ditunjukkan
lewat senyum dan sapaan hangat kepada mereka. Mereka akan jauh lebih bahagia
lagi ketika kita bisa menerimanya apa adanya.
Penulis:
Hadafi
Farisa Romadlon
Fakultas
Psikologi UGM
* Tulisan ini merupakan esai untuk mendaftar Workshop Sejuk
Sumber:
http://www.who.int/topics/disabilities/en/
https://www.solider.or.id/2017/05/09/peran-ukm-peduli-difabel-dalam-mewujudkan-kampus-inklusif-0






0 komentar: