S.U.R.A.B.A.Y.A

Juli 31, 2017 Hadafi 0 Comments


Kereta Sancaka

Aku terbangun pukul 04.00 pagi. Meskipun hari ini dingin sekali, aku tetap menguatkan diri untuk beranjak dari bantal-bantal nakal. Ya, aku segera pergi ke kamar mandi untuk membersikan diri dan bersiap menuju Stasiun Yogyakarta. Menyentuh pukul 05.00, sarapan telah siap. Aku makan nasi dan telur ceplok sekenanya. Harap-harap cemas, aku yakin kereta Sancaka masih berada di Stasiun Tugu dan baru dibersihkan.

Dugaanku tepat. Pukul 06.00, aku sampai di stasiun. Bapak mengantarku sampai depan pintu keberangkatan. Ya, ini pertama kalinya aku masuk ke stasiun sungguhan. Nerveous memang, tapi sampai dalam juga biasa aja. Aku memperlihatkan boarding pass ke petugas tiket. Dia memberitahu jalur kereta yang harus aku tumpangi. Jalur 5 atau 6, aku lupa.

Kereta sudah menunggu di depan mata. Segera aku mencari gerbong Ekonomi 2 nomor kursi 4D. Aku masih ingat. Ketaruh koper di bagasi atas, lalu duduk menikmati suasana gerbong yang masih sangat sepi. Dinginnya Jogja membuatku ingin pipis. Kuputuskan untuk mencari toilet kecil di atas gerbong. Duh leganya.

Buku The Bad Boy in Suit

Menunggu kereta berangkat agaknya membosankan. Aku memutuskan untuk mengambil buku dengan sampul hitam di koperku. Perlahan aku buka, ya ini buku baru. Satu kalimat, dua kalimat, hingga satu paragraf aku baca. Tak terasa sudah satu lembar, aku tahu isi buku ini. Hmm.... tak terduga.

Semakin siang, satu persatu penumpang mulai berdatangan untuk ke tempat tujuan mereka. Gerbong semakin ramai. Aku berharap ada penumpang yang duduk di sebelah agar bisa berbincang-bincang selama perjalanan.

Kereta berangkat, pemandangan lepas terlihat hijau di antara rel kereta. Aku mulai meneruskan buku bacaan yang ku pegang. Buku ini menakjubkan. Bercerita seorang mahasiswa yang baru kuliah, dan baru pertama kali mengalami jatuh cinta yang sesungguhnya. Dia jatuh cinta pada orang yang dibenci. Ya begitulah. Novel ini tergolong novel dewasa karena beberapa plot yang mengundang erotisme seksual.

Sampai Surabaya

Buku tersebut aku bolak hingga hampir setengah halaman. Sekitar pukul 12.00, aku sampai di Surabaya. Ya, aku sampai di Surabaya. Meski terlambat hampir tiga puluh menit, aku senang. Di depan pintu keluar sudah banyak taksi, ojek, bahkan orang-orang yang menunggu kehadiran kami. Eits, aku gak ada yang nungguin hlo....

Aku berjalan keluar dan segera membuka ponsel untuk order Gojek. Setelah kira-kira 100 meter dari stasiun, Bapak Gojek hadir dan menjemputku sampai di Hotel tempat workshop berlangsung. Selama empat hari, aku akan berkegiatan di hotel tersebut. Ah, mengagumkan bukan?

Sampai di hotel, aku langsung check in. Resepsionist berkata, “Mas di kamar 819 ya, sama Khoirul,” sahutnya. Aku belum kenal siapapun. Karena perut sudah lapar, aku menuju tempat makan hotel, aku melihat teman-teman yang selesai makan (mereka juga ikut workshop). Mulailah, kami berkenalan satu sama lain, mengobrol dengan bahasan ringan hingga makan siang satu meja.
***

Berkunjung ke Tempat Tak Terduga

Hari pertama dan kedua diisi oleh pemateri yang menyampaikan bahasan mengenai jurnalistik keberagaman, HAM, kebebasan beragama dan berkeyakinan, dan cara meliput keberagaman. Asyik sih, tapi menurutku lebih asyik lagi bila sering bertukar pikiran dengan peserta lain. Ya, aku sangat merasakan aroma keberagaman di sini. Bertemu teman-teman dari Sumatra, Jawa, hingga Sulawesi. Potret mini Indonesia, kataku.

Hari ketiga, kami ada field trip mengunjungi salah satu komunitas penghayat kepercayaan Sapta Darma di Surabaya. Bayanganku, aku berkunjung ke komunitas yang masih konservatif dengan idealisme mereka sendiri. Tapi, dugaanku agak salah.

Kami disambut hangat oleh beberapa penganut kepercayaan lokal tersebut. Kami disambut di sanggar tempat ibadah mereka. Agenda trip ini adalah liputan, kami diminta untuk membuat tulisan features dan video singkat dengan bahasan ini.

Mbak Yeni, salah satu penganut kepercayaan lokal menyampaikan kisah-kisah hidupnya selama menjadi kaum yang katanya minoritas. Beliau bercerita kisah-kisah pilu di mana mereka susah untuk eksis di tengah perkembangan masyarakat. Susahnya memenuhi pendidikan agama selama bersekolah. Hingga harus gonta-ganti agama agar bisa memperoleh pendidikan di bangku sekolah. Sejumlah pengikut Sapta Darma yang hadir juga bercerita tentang kosongnya kolom agama di KTP yang membuatnya susah untuk bertransaksi, berobat, dll.

Ini merupakan untold story yang sangat membekas di hati.

Perjalanan Berakhir

Hari terakhir di Surabaya, kami melakukan presentasi hasil liputan di Sapta Darma. Sejumlah tulisan dan video berhasil kami sajikan ke presentasi tersebut. Semua itu merupakan modal awal agar kami sebagai jurnalis agar bisa menyajikan berita yang berimbang kepada pembaca, bukan dalam tema-tema mainstream, melainkan isu-isu sensitif juga.

Selama empat hari, aku mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang luar biasa di workshop Sejuk. Bertemu dengan orang-orang hebat dengan idealisme yang luar biasa. Terimakasih untuk Mas Thowik, Mbak Nita, Rusyda, Endah, Mas Bagas, Choirul, Aisyah, Taufiq, Respati, Anis, Mas Junaedi dan teman lainnya yang tak bisa saya sebut satu-satu. Terimakasih untuk kenangan indah selama empat hari. Cieeealh, aku lebay.

Hari semakin larut, di Gubeng, aku bertemu dengan anak-anak asal Malang yang habis melakukan seleksi bulutangkis. Sekitar 30 menitan, kami mengobrol. Pesanku, semoga kamu lolos seleksi ke Malaysia ya dek. Terimakasih juga untuk ibu asal Ngawi yang telah menemaniku untuk ngobrol selama perjalanan kereta. Semoga bisa ketemu lagi.


Foto:



0 komentar: