Bertamu ke Ruang Rektor
Siang ini
udara sangat panas dan terik. Di ruang ujian, aku berusaha menyelesaikan
soal-soal intel yang cukup membuat hati ini gundah gulana. Aku menjawab
beberapa soal sekenanya. Ada beberapa materi yang entah kenapa tak bisa aku
recall dari LTM kuh. Sedihnya.....
Selepas
berkutat dengan pensil dan soal-soal intel, aku bergegas ke Gedung B lantai 3
Fakultas Psikologi UGM, tepatnya di Lab Psikodiagnostika. Sudah terjadwalkan,
hari ini ada ujian lisan WAIS (responsi, -red).
Aku tiba setelah beberapa anak telah siap di sana. Ya, aku menunggu giliran
untuk ujian di salah satu ruang lab.
Hari ini
jadwalku lumayan padat, agak bertabrakan juga. Sebetulnya, selepas responsi,
aku ada role play tes Binet sampai jam 17.00. Padahal, aku juga ada wawancara dengan
bu rektor pukul 16.30 di Gedung Pusat. Aku memutuskan untuk izin meninggalkan
role play demi mendapat keterangan dari ibu rektor.
Pukul
16.23 aku turun dari lantai menuju mushola untuk menunaikan sholah ashar.
Selanjutnya menghampiri Mbak Flo di selasar untuk segera menuju rektorat. Hari
ini style kami cukup rapi. Aku memakai kemeja warna ungu, agak gak serasi
dengan Mbak Flo yang memakai kemeja kuning. Langkah kaki kami berhentak lebih
cepat mengingat kami sudah telat hampir 13 menit.
Sampai di
lantai dua, napas serasa mau berhenti. Udara dalam paru-paru kayak sudah
menipis karena kami kelelahan. Memasuki ruang rektor, kami bertanya dengan
sekretaris yang duduk di depan, terhalang komputer putih besar. “ Kami dari SKM
Bulaksumur mau wawancara sama ibu”, jelasku. “ Tunggu sebentar ya, ibu sedang
sholat”, balasnya ramah. “Alhamdulillah”.
Kami
cekikikan mengomentari kondisi ruang tamu rektor yang bagus. Meski ada satu
catatan yaitu lantainya berdecit keras. Aku sempai habis satu aqua gelas dan
permen relaxa yang tersedia di atas meja. Sekitar 40 menit kami menunggu
hingga hampir bosan. Untungnya, ruangan sudah sepi, ngobrol agak keras gak
masalah kan?
Aku
melihat ibu berkerudung putih keluar dari sebuah ruangan di dalam, menemui kami
dan berkata “Dari SKM Bulaksumur ya? Namanya siapa?”. Aku tertegun dan bangun
dari kursi membalas sapaan ramah beliau. Kemudian kami disilakan masuk ke salah
satu ruangan di lantai 2 Gedung Pusat Sayap Utara itu. Wah, ornamen simple nan
elegant sangat kental di dalamnya. Bunga anggrek ungu di meja tamu ditambah
aneka jenis batuan menjadi suguhan pertama bagi kami. (melongo)
foto : Floriberta
Satu demi
satu pertanyaan mulai aku tanyakan kepada beliau. Beliau menjawab dengan
panjang lebar sehingga beberapa pertanyaan tak perlu aku ajukan lagi. Sekitar
40 menit, kami berada di dalam ruang rektor tersebut. Sebetulnya aku masih betah
untuk menanyakan sesuatu, namun karena waktu menunjukkan pukul 18.30 dan kami
pun belum sholat magrib, akhirnya wawancara kami akhiri. Sungguh ini pengalaman
yang tak bisa aku lupakan. Sambutan hangat dari pihak rektorat sangat terasa.
Aku merasa puas setelah mendapat rekaman 38:27 menit itu. Satu hal yang tak
bisa aku lupakan, kurang lebih seperti ini.
“Saya beberapa
kali bertemu dengan teman-teman mahasiswa. Beda hloo kalau mahasiswa sering
ikut ginian (ikut kegiatan ukm, -red).
Cara duduknya, cara jawabnya, groginya, pokoknya itu beda. Dan softskill
semacam ini gak bisa dipelajari di dalam ruang perkuliahan”, nasihat ibu kepada
kami.







0 komentar: