Bertamu ke Ruang Rektor

Maret 30, 2017 Hadafi 0 Comments


Siang ini udara sangat panas dan terik. Di ruang ujian, aku berusaha menyelesaikan soal-soal intel yang cukup membuat hati ini gundah gulana. Aku menjawab beberapa soal sekenanya. Ada beberapa materi yang entah kenapa tak bisa aku recall dari LTM kuh. Sedihnya.....

Selepas berkutat dengan pensil dan soal-soal intel, aku bergegas ke Gedung B lantai 3 Fakultas Psikologi UGM, tepatnya di Lab Psikodiagnostika. Sudah terjadwalkan, hari ini ada ujian lisan WAIS (responsi, -red). Aku tiba setelah beberapa anak telah siap di sana. Ya, aku menunggu giliran untuk ujian di salah satu ruang lab.

Hari ini jadwalku lumayan padat, agak bertabrakan juga. Sebetulnya, selepas responsi, aku ada role play tes Binet sampai jam 17.00. Padahal, aku juga ada wawancara dengan bu rektor pukul 16.30 di Gedung Pusat. Aku memutuskan untuk izin meninggalkan role play demi mendapat keterangan dari ibu rektor.

Pukul 16.23 aku turun dari lantai menuju mushola untuk menunaikan sholah ashar. Selanjutnya menghampiri Mbak Flo di selasar untuk segera menuju rektorat. Hari ini style kami cukup rapi. Aku memakai kemeja warna ungu, agak gak serasi dengan Mbak Flo yang memakai kemeja kuning. Langkah kaki kami berhentak lebih cepat mengingat kami sudah telat hampir 13 menit.

Sampai di lantai dua, napas serasa mau berhenti. Udara dalam paru-paru kayak sudah menipis karena kami kelelahan. Memasuki ruang rektor, kami bertanya dengan sekretaris yang duduk di depan, terhalang komputer putih besar. “ Kami dari SKM Bulaksumur mau wawancara sama ibu”, jelasku. “ Tunggu sebentar ya, ibu sedang sholat”, balasnya ramah. “Alhamdulillah”.

Kami cekikikan mengomentari kondisi ruang tamu rektor yang bagus. Meski ada satu catatan yaitu lantainya berdecit keras. Aku sempai habis satu aqua gelas dan permen relaxa yang tersedia di atas meja. Sekitar 40 menit kami menunggu hingga hampir bosan. Untungnya, ruangan sudah sepi, ngobrol agak keras gak masalah kan?

Aku melihat ibu berkerudung putih keluar dari sebuah ruangan di dalam, menemui kami dan berkata “Dari SKM Bulaksumur ya? Namanya siapa?”. Aku tertegun dan bangun dari kursi membalas sapaan ramah beliau. Kemudian kami disilakan masuk ke salah satu ruangan di lantai 2 Gedung Pusat Sayap Utara itu. Wah, ornamen simple nan elegant sangat kental di dalamnya. Bunga anggrek ungu di meja tamu ditambah aneka jenis batuan menjadi suguhan pertama bagi kami. (melongo)

foto : Floriberta

Sembari menunggu Bu Dwikorita siap diwawancara, kami ditawari segelas teh oleh bapak-bapak. “Mau minum apa? Teh ya?”, ujarnya. (Aku sama Mbak Flo saling menatap). “Terserah sih pak”, jawab Mbak Flo. “Wah, baik banget, kalo gitu sering-sering aja ke rektorat”, pikirku dalam hati.

Satu demi satu pertanyaan mulai aku tanyakan kepada beliau. Beliau menjawab dengan panjang lebar sehingga beberapa pertanyaan tak perlu aku ajukan lagi. Sekitar 40 menit, kami berada di dalam ruang rektor tersebut. Sebetulnya aku masih betah untuk menanyakan sesuatu, namun karena waktu menunjukkan pukul 18.30 dan kami pun belum sholat magrib, akhirnya wawancara kami akhiri. Sungguh ini pengalaman yang tak bisa aku lupakan. Sambutan hangat dari pihak rektorat sangat terasa. Aku merasa puas setelah mendapat rekaman 38:27 menit itu. Satu hal yang tak bisa aku lupakan, kurang lebih seperti ini.


“Saya beberapa kali bertemu dengan teman-teman mahasiswa. Beda hloo kalau mahasiswa sering ikut ginian (ikut kegiatan ukm, -red). Cara duduknya, cara jawabnya, groginya, pokoknya itu beda. Dan softskill semacam ini gak bisa dipelajari di dalam ruang perkuliahan”, nasihat ibu kepada kami.



0 komentar: