Tes WAIS Melatih Kesabaran

Maret 24, 2017 Hadafi 0 Comments


Haloooo.... sudah lama tak bersua lagi di blog. Terakhir kali aku nulis kayaknya Mei tahun 2016. Sekarang sudah bulan Maret di tahun 2017. Itu artinya aku telah vakum dari blog hampir satu tahun. Lama beeettt yak. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir soal pengembangan diri atau self-developing. Ya, aku pengen menguasai berbagai skill yang bisa menunjang impianku menjadi CEO. Underestimate yak sama aku? Its fine, semua orang boleh bermimpi kan?

Setelah ku pikir lagi, aku mengurungkan niat daftar Palapa yang kata orang, kepanitiaan super kece. Aku berpikir, its enough to join kepanitiaan karena tahun pertamaku sudah cukup full. Hingga aku memutuskan untuk rebranding my blog. Semoga seterusnya blog ku bisa ke isi yak. Btw aku sudah punya rencana liburan semester depan. Ku mau belajar desain, marcooom, and social media strategies. Doakan yak bisa terwujud. Amin.

Minggu ini, aku sedang memperjuangkan UTS ku di semester 4. Jatuh bangun aku belajar setiap slide yang disampaikan doi di kelas. Ah, lebay. Doakan juga yak IPK ku bagus di semester ini.
Satu minggu sebelum UTS, Psikologi angkatan 2015 disibukkan dengan tes WAIS (Weschler Adult Inteligence Scale). Tes WAIS adalah salah satu jenis tes IQ yang bersifat individual dari Weschler untuk usia 16 tahu ke atas. Yang menjadi sorotan adalah instrumen tes yang cukup ribet. Sebagai mahasiswa, aku harus tahu cara penggunaan, cara penyampaian, hingga skoring. Awalnya aku menganggap itu cukup ribet sekali. Namun, benarkah demikian?

Menurutku, tujuan mata kuliah Asesmen Inteligensi bukanlah kita bisa menggunakan alat tes. Tapi, lebih melatih kesabaran kita sebagai lulusan psikologi. Kita dihadapkan pada situasi harus mengerti all about WAIS dan memahami subjek tes kita. Dua kali tes, untungnya aku mendapat subjek laki-laki yang notabene kalo jawab to the point dan gak ribet-ribet. Keduanya juga care dengan aku, jadi bisa dibilang lancar sih.

Cerita lain datang dari temenku. Dia mendapat subjek perempuan yang cukup cerewet. “Mbak ini gimana? Harus dikerjain ya? Kalo gak tahu aku gimana? Kok panas banget di sini? Dst”. Gila bukan? Kalian bisa ngerasain cobaan yang berat sebagai mahasiswa Psikologi bukan? Kata temenku, “mbak, udah pernah dijejelin sandal belum?”, ujarnya dalam hati.


Yeaayyyy... cukup sekian post pertama setelah rebranding yak. Semoga kalian suka. Keep spirit!!!!!!!!!

0 komentar: