Tes WAIS Melatih Kesabaran
Haloooo.... sudah lama tak bersua lagi di blog. Terakhir
kali aku nulis kayaknya Mei tahun 2016. Sekarang sudah bulan Maret di tahun
2017. Itu artinya aku telah vakum dari blog hampir satu tahun. Lama beeettt
yak. Akhir-akhir ini aku mulai berpikir soal pengembangan diri atau
self-developing. Ya, aku pengen menguasai berbagai skill yang bisa menunjang
impianku menjadi CEO. Underestimate yak sama aku? Its fine, semua orang boleh
bermimpi kan?
Setelah ku pikir lagi, aku mengurungkan niat daftar Palapa
yang kata orang, kepanitiaan super kece. Aku berpikir, its enough to join
kepanitiaan karena tahun pertamaku sudah cukup full. Hingga aku memutuskan
untuk rebranding my blog. Semoga seterusnya blog ku bisa ke isi yak. Btw aku
sudah punya rencana liburan semester depan. Ku mau belajar desain, marcooom,
and social media strategies. Doakan yak bisa terwujud. Amin.
Minggu ini, aku sedang memperjuangkan UTS ku di semester 4.
Jatuh bangun aku belajar setiap slide yang disampaikan doi di kelas. Ah, lebay.
Doakan juga yak IPK ku bagus di semester ini.
Satu minggu sebelum UTS, Psikologi angkatan 2015 disibukkan
dengan tes WAIS (Weschler Adult Inteligence Scale). Tes WAIS adalah salah
satu jenis tes IQ yang bersifat individual dari Weschler untuk usia 16 tahu ke atas. Yang menjadi
sorotan adalah instrumen tes yang cukup ribet. Sebagai mahasiswa, aku harus
tahu cara penggunaan, cara penyampaian, hingga skoring. Awalnya aku menganggap
itu cukup ribet sekali. Namun, benarkah demikian?
Menurutku, tujuan mata kuliah Asesmen Inteligensi bukanlah
kita bisa menggunakan alat tes. Tapi, lebih melatih kesabaran kita sebagai
lulusan psikologi. Kita dihadapkan pada situasi harus mengerti all about WAIS
dan memahami subjek tes kita. Dua kali tes, untungnya aku mendapat subjek
laki-laki yang notabene kalo jawab to the point dan gak ribet-ribet. Keduanya
juga care dengan aku, jadi bisa dibilang lancar sih.
Cerita lain datang dari temenku. Dia mendapat subjek
perempuan yang cukup cerewet. “Mbak ini gimana? Harus dikerjain ya? Kalo gak
tahu aku gimana? Kok panas banget di sini? Dst”. Gila bukan? Kalian bisa
ngerasain cobaan yang berat sebagai mahasiswa Psikologi bukan? Kata temenku,
“mbak, udah pernah dijejelin sandal belum?”, ujarnya dalam hati.
Yeaayyyy... cukup sekian post pertama setelah rebranding
yak. Semoga kalian suka. Keep spirit!!!!!!!!!





0 komentar: