Proses Cari Kerja Pertamaku di Pako Group

Februari 27, 2019 Hadafi 1 Comments

Sudut Lobby Pako Group
"Aku menyesal menolak pilihan aman di depan mata. Aku terlalu idealis. Andai waktu bisa diputar. Ah sudahlah, semua berlalu begitu saja. Aku memang bodoh,” batinku menggerutu sebelum tidur.
***
Sudah tiga kali aku mengemasi barang bawaan menuju Jakarta. Pertama di awal Januari, kedua di pertengahan bulan, dan terakhir di Februari ini. Aku harap itu terakhir aku ke Jakarta untuk mencari kerja. Memang sebagai seorang lulusan baru yang tanpa pengalaman professional sangat susah mencari pekerjaan. Dan aku baru saja menyadari hal itu.
***
Tasku sudah siap. Jam pada arloji menunjukkan pukul 14.00. Bergegaslah aku menuju Stasiun Lempuyangan untuk menghadiri interview esok hari di Sunter, Jakarta. Dua atau tiga hari yang lalu, aku mendapat email dari Pako Group, sebuah company yang memproduksi vleg, perusahaan besar milik Triputra dan Astra ini menjadi perusahaan pertama yang terpikat oleh profilku di portal Jobstreet.
Tengah malam aku sampai di Stasiun Pasar Senen untuk pertama kalinya. Tak tahu harus kemana dan untuk apa. Aku hanya ingat jadwal interviewku besok, pukul 8.00 tepat di Head Office Pako Group. Aku berusaha memejamkan mataku di bangku-bangku besi stasiun. Dingin memang, namun kutetap berusaha keras sembari mendekap erat tas hitamku, berharap bisa tidur barang kali satu atau dua jam. Dugaanku salah, aku tak bisa sedikitpun tidur di kursi-kursi keras ini. Sesekali aku menyalakan ponsel untuk melihat notifikasi pesan. Tak ada yang kulakukan selain menunggu waktu hingga matahari terbit pagi hari. Semoga esokku cerah.
Setelah sholat subuh dan gosok gigi di toilet stasiun aku siap. Entah isyarat apa dari Tuhan, pagi itu Jakarta diguyur hujan deras, benar-benar deras. Hari ini, Kamis, 10 Januari 2019 menjadi hari penuh perjuangan bagiku. Di depan monument samping Pasar Senen aku berkutat dengan ponsel berharap ada Bapak Gojek yang mengambil orderku. Kuputuskan untuk tidak memesan Gocar karena harganya terlampau mahal, setengah harga tiket keretaku ke Jakarta. Seorang pria yang usianya kemungkinan seumuran denganku datang menawarkan helm dan mantel plastik sekali pakai. Apa boleh buat, meski masih gerimis kami harus bergegas.
“Pak kamar mandi di mana ya?,” ujarku kepada satpam Pako Group. Celanaku basah kuyup, seperti cucian yang baru saja dijemur tapi harus ku pakai. Aku tidak habis pikir lagi bagaimana penampilanku saat itu. Aku tidak peduli, aku cuma terus berdoa dalam hati, “Ya Allah lancarkanlah urusanku hari ini.”
Aku menunggu di pos satpam, bertemu Yoga, talent lain yang berharap bisa bergabung ke perusahaan ini. Kami mengobrol, kami sadar kami datang dari kota yang sama, tujuan pun kebetulan sama, tapi nasib kami belum tentu. Satu lagi talent lain datang, mengobrol dan curhat bagaimana susahnya dapat pekerjaan.
***
Seperti psikotes biasanya, ada tes potensi akademik, grafis, kepribadian, dan pauli. Sebetulnya aku tidak terlalu suka dengan tes macam ini. Hasil tesnya paling diagung-agungkan untuk memutuskan kelayakan seorang talent, menurutku. Sejujurnya aku tidak terlalu suka dengan perusahaan yang menerapkan rekrutmen dengan psikotes seabreg dan wawancara sederet. Kini, zaman sudah berubah (pikirku). Memangnya tidak ada perusahaan yang menggunakan penilaian social media behavior kandidat untuk menilai kemampuan literasi, berpikir kritis, relasi, atau rekomendasi dari koneksi mereka? Atau kah HR company belum tahu teknik interview BEI untuk menilai problem solving dan pengalaman kandidat di masa lalu? Bukan menyindir, ini hanya penilaianku sekilas saja. Setiap perusahaan punya aturan dan cara mereka sendiri.
Proses rekrutmen di Pako Group telah selesai kujalani. “Seminggu lagi kamu akan dihubungi jika user tertarik dengan profilmu,” terang HR sesuai mewawancaraiku. Seperti tak tahu saja aku, itu kata-kata untuk menolak kandidat lebih halus. Talent yang bagus dan cocok di perusahaan, mana mungkin pergi begitu saja. Aku sadar, Pako Group bukan lah perusahaan yang cocok saat itu. Entah ke depan seperti apa, aku serahkan semua pada Tuhan. Aku telah melupakan prosesnya dan mengambil pelajaran berharga di tiap kejadian itu. Ini tak mudah memang. Aku kecewa tidak menerima penawaran kerja di tempat magangku. Ah sudahlah.

1 komentar: