Tisu,Mana Tisu?

November 06, 2014 Hadafi 0 Comments



Bukan “Sedia Payung Sebelum Hujan”, tapi sedia tisu sebelum kebablasan. 

Pagi ini gue harus mempersiapkan mental gue berlebih agar mampu menghadapi acara motivasi dari sekolah. Sejujurnya gue gak suka dengan acara beginian, namun karena sifatnya wajib apa boleh buat. Menurut gue motivasi terbesar hanya datang pada diri gue sendiri, bukan lewat orang lain. Bukannya sombong,  gue udah punya seabrek motivator yang sangat memotivasi gue yang gak perlu gue ungkapin satu-satu.

Acara ini dimulai dari sambutan pak kepsek, kemudian dilanjutin oleh motivator terkenal yang gue pasti lupa namanya. Yang gue duga dan sudah gue kira bakalan ada acara nangis-nangis gitu. Mungkin banyak yang mengatakan itu suatu hal yang lebay, namun menurut gue itu masih dalam porsi kewajaran. Karena kalo emang beneran nagis berarti datangnya dari hati, tulus, tapi kalo pura-pura ya cuma cari sensasi aja biar ada yang merhatiin.

Sekitar duapuluh menit terakhir, sang motivator men-set lagu melow. Kita semua memejamkan mata dan menundukkan kepala. Di samping gue ada Ivan, gue pikir dia adalah cowok strong. Tapi ternyata dia juga ikutan nangis-nangis.  Karena duduknya berdempetan sama gue, gue merasakan dia nangis tersedu-sedu. Sebenarnya gue juga ngakak dalam hati, tapi gak lucu kan kalo gue ketawa ditengah-tengah acara. 

Lanjut ke Imron temen gue. Gue pikir dialah winnernya diantara kami. Terdengar tangisan tersedu-sedu disertai erangan agak keras. Saat itu gue mikir, dia akting lebay atau emang beneran nangis. Kalo itu akting, gue saranin deh sama dia buat ikutan casting film, siapa tau direkomendasi jadi aktor protagonisnya yang akting cuma nangis mlulu. Tapi kalo itu sebaliknya, perlu dipertanyakan sih. Maksud gue emang masih ada cowok melankolis? 

Kalo gue sendiri biasa aja. Gue pernah berpikir, apa untungnya sih nangis-nangis gituan? Lebih baik gue senyumin aja kan lebih berpahala. Memang dengan menangis kita akan menyadari realitas yang ada, tapi karena itulah kita kan jadi teringat terus dengan hal tersebut. Jika motivator mengurai masalah kesalahan gue, gue seharusnya bukan menangis, tapi justru gue harus bangkit buat nyelesain masalah itu, ya langkah pertama gue adalah mengakui kesalahan itu dengan senyuman gue.

Namun tetep pada akhir acara itu gue harus tatap  muka sama ibu gue. Sontak gue langsung meneteskan air mata gue. Gue paling gak tahan kalo liat ibu gue. Mbayangin kerjaan dia, wah pokoknya super women banget.

Setelah acara ini, bisa dibayangkan, tisu pada berserakan di lantai, ditambah lagi dengan basah-basah dari air mata siswa. Ada juga lho basah dari iler siswa yang tertidur. Haha. Semoga aja acara ini menjadikan gue lebih termotivasi.

0 komentar: