Tisu,Mana Tisu?
Bukan “Sedia
Payung Sebelum Hujan”, tapi sedia tisu sebelum kebablasan.
Pagi ini gue
harus mempersiapkan mental gue berlebih agar mampu menghadapi acara motivasi
dari sekolah. Sejujurnya gue gak suka dengan acara beginian, namun karena
sifatnya wajib apa boleh buat. Menurut gue motivasi terbesar hanya datang pada
diri gue sendiri, bukan lewat orang lain. Bukannya sombong, gue udah punya seabrek motivator yang sangat
memotivasi gue yang gak perlu gue ungkapin satu-satu.
Acara ini
dimulai dari sambutan pak kepsek, kemudian dilanjutin oleh motivator terkenal
yang gue pasti lupa namanya. Yang gue duga dan sudah gue kira bakalan ada acara
nangis-nangis gitu. Mungkin banyak yang mengatakan itu suatu hal yang lebay, namun
menurut gue itu masih dalam porsi kewajaran. Karena kalo emang beneran nagis
berarti datangnya dari hati, tulus, tapi kalo pura-pura ya cuma cari sensasi
aja biar ada yang merhatiin.
Sekitar
duapuluh menit terakhir, sang motivator men-set lagu melow. Kita semua
memejamkan mata dan menundukkan kepala. Di samping gue ada Ivan, gue pikir dia
adalah cowok strong. Tapi ternyata dia juga ikutan nangis-nangis. Karena duduknya berdempetan sama gue, gue
merasakan dia nangis tersedu-sedu. Sebenarnya gue juga ngakak dalam hati, tapi
gak lucu kan kalo gue ketawa ditengah-tengah acara.
Lanjut ke
Imron temen gue. Gue pikir dialah winnernya diantara kami. Terdengar tangisan
tersedu-sedu disertai erangan agak keras. Saat itu gue mikir, dia akting lebay
atau emang beneran nangis. Kalo itu akting, gue saranin deh sama dia buat
ikutan casting film, siapa tau direkomendasi jadi aktor protagonisnya yang
akting cuma nangis mlulu. Tapi kalo itu sebaliknya, perlu dipertanyakan sih.
Maksud gue emang masih ada cowok melankolis?
Kalo gue sendiri
biasa aja. Gue pernah berpikir, apa untungnya sih nangis-nangis gituan? Lebih
baik gue senyumin aja kan lebih berpahala. Memang dengan menangis kita akan
menyadari realitas yang ada, tapi karena itulah kita kan jadi teringat terus
dengan hal tersebut. Jika motivator mengurai masalah kesalahan gue, gue
seharusnya bukan menangis, tapi justru gue harus bangkit buat nyelesain masalah
itu, ya langkah pertama gue adalah mengakui kesalahan itu dengan senyuman gue.
Namun tetep pada
akhir acara itu gue harus tatap muka
sama ibu gue. Sontak gue langsung meneteskan air mata gue. Gue paling gak tahan
kalo liat ibu gue. Mbayangin kerjaan dia, wah pokoknya super women banget.
Setelah acara
ini, bisa dibayangkan, tisu pada berserakan di lantai, ditambah lagi dengan
basah-basah dari air mata siswa. Ada juga lho basah dari iler siswa yang
tertidur. Haha. Semoga aja acara ini menjadikan gue lebih termotivasi.





0 komentar: