Esok Tak Terduga
Gruukk, aku
terbangun dari mimpi, memimpikan dia, ah lupakan. Minggu ini masih pagi, subuh
belum berkumandang. Air hangat yang biasa masih di dalam termos sudah habis
untuk mengguyur tubuhku. Huh, di luar titik air terus menetes. Kuhiraukan.
Bergegaslah aku ke Tugu Jogja.
Haa, jalan
mangkubumi sudah ditutup. Nekad aku membuka blokade. Di parkiran KR, mb Desti
sudah menyapa. “ Dek Hadafi kamu sudah datang?”, sahutnya. Kupikir itu pertanyaan
tanpa jawaban karena aku memang sudah datang (piss).
Di sekre
sesak anak padakacarma (ya iyalah, orang itu sekre padakacarma). Suasana
garing, ngantuk, lapar, pokoknya aduk-adukan.
Baru masuk sekre,
mb Dinju sudah komentar. “Fi, kamu dari SMA 1 Wonosari? Kamu itu anggota tonti?
Oh”, teriaknya. Aku bilang apa? Aku tak punya baju pengejar deadline atau baju
hitam, jadi aku pakai seadanya.
Mas Agung,
seperti biasa, paling sibuk. “Esuk-esuk wes ngalor-ngidul”. “Ayo-ayo semua
segera siap, kita sudah ditunggu”. Kita (padakacarma) “brifing” dulu di depan
panggung untuk menerima tugas masing-masing.
Sebelum ke
tugas kita “keta-kete” dulu.
(SKIP)
Semakin panas
banyak orang berdatangan. Anak padakacarma juga ada yang telat (biasa). Aku
melihat senyum mas Praend dan gelagak mas (lupa aku namanya, pokoknya yang hobi
fotografi) membawa kamera (sepertinya lagi hunting foto, maaf mas aku tidak
menyapa, aku takut nek salah orang, hehe).
“Ayo-ayo
angkati meja, pasang taplake, angkati tumpenge?”, perintahnya begitu.
(SKIP)
“Eh kita
seperti dalam iklan evercoss “Just Enjoy the Tipe (nek gak salah)” ”, kataku
pada Okky ketika anak Padmanaba (nek gak salah) nyanyi lagunya Lenka.
(SKIP)
Ketemu mas
Agung. “Kita bisa makan sekarang?”. “Ya, sambil bantuin bagi sudi ke masyarakat
kalian boleh “nyemili” tumpenge”.
Aku, Dafi
(nek gak salah namanya), dan Okky mulai “mengobrak-abrik” tumpeng yang
kelihatannya enak.
(SKIP)
Aku bingung
ketika menjaga tumpeng, ketika sudinya sudah habis. Banyak ibu-ibu “nakal”. “Bu,
maaf tampah dan enthongnya tidak boleh diambil, yang boleh diambil hanya isinya”,
kataku.
Malahan Jamal
ribut, menjaga tumpeng sambil wawancara. “ Mbak (yang mewawancarai) tau baru
kerja malah wawancara, kurang pas”. (piss mal, tenang, salam nggo Rifka tak
sampaikan kok (mungkin)).
Aku tertawa
(dalam hati) ketika ibu-ibu di depan mas Anas “ngemek-mek” satu persatu tumpeng
(cerita di akhir yang ku pindah).
(SKIP)
Mas itu (Aku
lupa, pokoknya yang suka memerintah, bukan padakacarma) bilang jika setelah
lima menit segera tinggalkan tumpeng.
Kami bingung,
termasuk mb Kenia juga bingung mau nurutin hati atau perintah mas Itu.
Pas angkat
gawang bola, nyaris. “Nek angkat-angkat ndelok situasi, untung ra kenek sirahku
(mungkin maksudnya begini, maaf pak, kami tidak sengaja)”.
Lelah (
bergegas ke sekre), ternyata di sekre ada Tyas dan Arif yang “ngutil” dua
tumpeng. Mereka terlihat lesu (mesti enek masalah).
Makan snack
dan “geguyon” di sekre. Tak terduga, Arif punya cerita lain (cerita ini
privasi, kalian gak boleh tau). Hal itu juga membuat mb Niken kepo.
Sebelum
pulang ada cerita dari mas Agung (cerita ini membuat aku trenyuh).
“ Mas aku boleh meminta satu tumpeng
utuh? Anakku sekarang sedang ulang tahun”, kata ibu dengan “melas” dan mata
berkaca-kaca. “ Maaf bu, tidak boleh, ini untuk dimakan banyak orang, ibu boleh
mengambil asal tidak semuanya”, jawab panitia dengan tegas.
Ceritaku
berakhir, aku tidak ikut berselfie. Tyas menyapaku ketika aku mulai menyalakan
mesin motor.





0 komentar: