Esok Tak Terduga

April 13, 2014 Hadafi 0 Comments


Gruukk, aku terbangun dari mimpi, memimpikan dia, ah lupakan. Minggu ini masih pagi, subuh belum berkumandang. Air hangat yang biasa masih di dalam termos sudah habis untuk mengguyur tubuhku. Huh, di luar titik air terus menetes. Kuhiraukan. Bergegaslah aku ke Tugu Jogja. 

Haa, jalan mangkubumi sudah ditutup. Nekad aku membuka blokade. Di parkiran KR, mb Desti sudah menyapa. “ Dek Hadafi kamu sudah datang?”, sahutnya. Kupikir itu pertanyaan tanpa jawaban karena aku memang sudah datang (piss).

Di sekre sesak anak padakacarma (ya iyalah, orang itu sekre padakacarma). Suasana garing, ngantuk, lapar, pokoknya aduk-adukan.

Baru masuk sekre, mb Dinju sudah komentar. “Fi, kamu dari SMA 1 Wonosari? Kamu itu anggota tonti? Oh”, teriaknya. Aku bilang apa? Aku tak punya baju pengejar deadline atau baju hitam, jadi aku pakai seadanya.

Mas Agung, seperti biasa, paling sibuk. “Esuk-esuk wes ngalor-ngidul”. “Ayo-ayo semua segera siap, kita sudah ditunggu”. Kita (padakacarma) “brifing” dulu di depan panggung untuk menerima tugas masing-masing. 

Sebelum ke tugas kita “keta-kete” dulu. 

(SKIP)

Semakin panas banyak orang berdatangan. Anak padakacarma juga ada yang telat (biasa). Aku melihat senyum mas Praend dan gelagak mas (lupa aku namanya, pokoknya yang hobi fotografi) membawa kamera (sepertinya lagi hunting foto, maaf mas aku tidak menyapa, aku takut nek salah orang, hehe).

“Ayo-ayo angkati meja, pasang taplake, angkati tumpenge?”, perintahnya begitu.

(SKIP)

“Eh kita seperti dalam iklan evercoss “Just Enjoy the Tipe (nek gak salah)” ”, kataku pada Okky ketika anak Padmanaba (nek gak salah) nyanyi lagunya Lenka.

(SKIP)

Ketemu mas Agung. “Kita bisa makan sekarang?”. “Ya, sambil bantuin bagi sudi ke masyarakat kalian boleh “nyemili” tumpenge”.

Aku, Dafi (nek gak salah namanya), dan Okky mulai “mengobrak-abrik” tumpeng yang kelihatannya enak.

(SKIP)

Aku bingung ketika menjaga tumpeng, ketika sudinya sudah habis. Banyak ibu-ibu “nakal”. “Bu, maaf tampah dan enthongnya tidak boleh diambil, yang boleh diambil hanya isinya”, kataku.

Malahan Jamal ribut, menjaga tumpeng sambil wawancara. “ Mbak (yang mewawancarai) tau baru kerja malah wawancara, kurang pas”. (piss mal, tenang, salam nggo Rifka tak sampaikan kok (mungkin)).

Aku tertawa (dalam hati) ketika ibu-ibu di depan mas Anas “ngemek-mek” satu persatu tumpeng (cerita di akhir yang ku pindah).

(SKIP)

Mas itu (Aku lupa, pokoknya yang suka memerintah, bukan padakacarma) bilang jika setelah lima menit segera tinggalkan tumpeng.

Kami bingung, termasuk mb Kenia juga bingung mau nurutin hati atau perintah mas Itu.
Pas angkat gawang bola, nyaris. “Nek angkat-angkat ndelok situasi, untung ra kenek sirahku (mungkin maksudnya begini, maaf pak, kami tidak sengaja)”.

Lelah ( bergegas ke sekre), ternyata di sekre ada Tyas dan Arif yang “ngutil” dua tumpeng. Mereka terlihat lesu (mesti enek masalah).

Makan snack dan “geguyon” di sekre. Tak terduga, Arif punya cerita lain (cerita ini privasi, kalian gak boleh tau). Hal itu juga membuat mb Niken kepo.

Sebelum pulang ada cerita dari mas Agung (cerita ini membuat aku trenyuh). 

“ Mas aku boleh meminta satu tumpeng utuh? Anakku sekarang sedang ulang tahun”, kata ibu dengan “melas” dan mata berkaca-kaca. “ Maaf bu, tidak boleh, ini untuk dimakan banyak orang, ibu boleh mengambil asal tidak semuanya”, jawab panitia dengan tegas.

Ceritaku berakhir, aku tidak ikut berselfie. Tyas menyapaku ketika aku mulai menyalakan mesin motor.

0 komentar: