Tragedi UN

April 23, 2013 Hadafi 0 Comments


OPINI
Tragedi UN
UN atau Ujian Nasional rutin digelar pada akhir masa sekolah. UN digelar serentak untuk mengukur seberapa jauh wawasan dan pengetahuan yang diterima siswa selama mereka bersekolah. Tidak dipungkiri, UN sering disebut sebagai hantu menakutkan karena butuh mental berani untuk menghadapinya. Tiap tahun, UN menjadi momok para pelajar yang duduk dibangku sekolah. UN sering kali memakan korban jiwa, mulai dari stress ringan hingga stress berat. Hal ini kerap diperbincanggkan di media massa setelah kabar pengumuman kelulusan UN terdengar.
            Sejatinya, UN bukanlah hal yang menakutkan seperti bayangan banyak orang. Melainkan sesuatu yang digunakan sebagai alat ukur diri kita. Dari nilai hasil UN tersebut, kita dapat mengetahui seberapa jauh ilmu pengetahuan yang didapat di sekolah. Hanya, dalam menghadapi soal-soal UN tersebut, dibutuhkan mental selain belajar yang cukup. Sering kali kita sudah mempersiapkan belajar tapi dalam persiapan mental belum ada atau masih minim. Nah itu yang menjadi salah satu kesalahan kita. Walaupun persiapan mental bukan prioritas utama, tapi sangat perlu dilakukan. Caranya mudah, kita hanya perlu berfikir positif, meninggalkan pikiran negatif soal UN. Dengan berfikir positif, diri kita akan tersugesti dengan pikiran positif itu. Pikiran positif tersebut akan terbayang dalam otak kita, sehingga kita menjadi lebih optimis menghadapi soal UN. Rasa ragu ketika mengerjakan UN akan berkurang dan menyebabkan pikiran rileks. Orang akan cenderung lebih konsentrasi dengan pikiran rileks. Sehingga soal-soal UN akan bisa terselesaikan. Sesuatu yang kecil seperti ini sering disepelekan oleh beberapa orang. Padahal hal kecil ini mudah dilakukan. Jika tidak dilakukan, bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.
            Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengumuman UN menjadi penyumbang utama penyebab stress siswa di Indonesia. Penyebab stress yang dialami siswa dalam menghadapi UN adalah kurang persiapan, terutama persiapan mental. Mereka cenderung mengisi otak dengan belajar dan belajar. Padahal otak manusia juga perlu istirahat. Rasanya, stess dan UN menjadi kombinasi yang tak tertandingi. Stress akan muncul jika kita menjadikan UN sebagai beban berat. Semestinya UN dijadikan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan, dibawa enjoy. Jika kita cukup dalam belajar, optimis dapat mengerjakan soal UN, dan berdoakepada Tuhan,  pasti kesuksesan dalam menghadapi UN teraih.
Belum lama ini, siswa SMA/SMK sederajat melaksanakan apa yang namanya UN. UN yang dilaksanakan tahun ini kurang lancar dibandingkan tahun  lalu. Pendistribusian soal UN yang terkesan lambat mengakibatkan jadwal UN tiap daerah, berbeda. Ketidaksigapan pemerintah menyelenggarakan UN kali ini dapat menyebabkan kebocoran soal yang luar biasa. Penyelenggaraan UN tahun ini diwarnai debat pemerintah dengan pihak percetakan. Semerawut pelaksanaan UN tahun ini malah menambah angka siswa stress akan pelaksanaan UN, sehingga ada beberapa pihak yang malah setuju jika UN dihapuskan. Padahal berdasarkan pemikiran, UN penting dilaksanakan agar kita mengetahui kemajuan pendidikan di negara Indonesia.
Tragedi-tragedi pahit dalam penyelenggaraan UN selalu terjadi tiap tahunnya. Mulai dari stress tadi, pendistribusian yang tidak maksimal, hingga kebocoran soal menjadi goresan tinta dalam penyelenggaraan UN di Indonesia. Dari tahun ke tahun, tragedi tersebut muncul hingga terdengar ke telinga publik. Kesalahan-kesalahan seperti ini seharusnya bisa menjadi koreksi dalam penyelenggaraan UN selanjutnya. Bukan  malah saling menyalahkan antar penyelenggara. UN ini menjadi tanggungjawab semua pihak yang telibat. Tidak hanya pihak penyelenggara dan percetakan yang bertanggungjawab, melainkan lapisan masyarakat juga. Masyarakat juga bisa berpartisipasi dengan melaporkan kepada pihak terkait, jika mendengar kebocoran soal UN. Selain itu, siswa juga tidak boleh tergiur dengan hal semacam kunci jawaban yang beredar, karena bisa mengganggu konsentrasi dalam menghadapi UN.


Hadafi Farisa Romadlon

0 komentar: