Tragedi UN
OPINI
Tragedi
UN
UN
atau Ujian Nasional rutin digelar pada akhir masa sekolah. UN digelar serentak
untuk mengukur seberapa jauh wawasan dan pengetahuan yang diterima siswa selama
mereka bersekolah. Tidak dipungkiri, UN sering disebut sebagai hantu menakutkan
karena butuh mental berani untuk menghadapinya. Tiap tahun, UN menjadi momok
para pelajar yang duduk dibangku sekolah. UN sering kali memakan korban jiwa,
mulai dari stress ringan hingga stress berat. Hal ini kerap diperbincanggkan di
media massa setelah kabar pengumuman kelulusan UN terdengar.
Sejatinya, UN bukanlah hal yang
menakutkan seperti bayangan banyak orang. Melainkan sesuatu yang digunakan
sebagai alat ukur diri kita. Dari nilai hasil UN tersebut, kita dapat
mengetahui seberapa jauh ilmu pengetahuan yang didapat di sekolah. Hanya, dalam
menghadapi soal-soal UN tersebut, dibutuhkan mental selain belajar yang cukup.
Sering kali kita sudah mempersiapkan belajar tapi dalam persiapan mental belum
ada atau masih minim. Nah itu yang menjadi salah satu kesalahan kita. Walaupun
persiapan mental bukan prioritas utama, tapi sangat perlu dilakukan. Caranya
mudah, kita hanya perlu berfikir positif, meninggalkan pikiran negatif soal UN.
Dengan berfikir positif, diri kita akan tersugesti dengan pikiran positif itu.
Pikiran positif tersebut akan terbayang dalam otak kita, sehingga kita menjadi
lebih optimis menghadapi soal UN. Rasa ragu ketika mengerjakan UN akan berkurang
dan menyebabkan pikiran rileks. Orang akan cenderung lebih konsentrasi dengan
pikiran rileks. Sehingga soal-soal UN akan bisa terselesaikan. Sesuatu yang
kecil seperti ini sering disepelekan oleh beberapa orang. Padahal hal kecil ini
mudah dilakukan. Jika tidak dilakukan, bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.
Seperti tahun-tahun sebelumnya,
pengumuman UN menjadi penyumbang utama penyebab stress siswa di Indonesia.
Penyebab stress yang dialami siswa dalam menghadapi UN adalah kurang persiapan,
terutama persiapan mental. Mereka cenderung mengisi otak dengan belajar dan
belajar. Padahal otak manusia juga perlu istirahat. Rasanya, stess dan UN
menjadi kombinasi yang tak tertandingi. Stress akan muncul jika kita menjadikan
UN sebagai beban berat. Semestinya UN dijadikan sesuatu yang menyenangkan dan
menggembirakan, dibawa enjoy. Jika kita cukup dalam belajar, optimis dapat
mengerjakan soal UN, dan berdoakepada Tuhan, pasti kesuksesan dalam menghadapi UN teraih.
Belum
lama ini, siswa SMA/SMK sederajat melaksanakan apa yang namanya UN. UN yang
dilaksanakan tahun ini kurang lancar dibandingkan tahun lalu. Pendistribusian soal UN yang terkesan
lambat mengakibatkan jadwal UN tiap daerah, berbeda. Ketidaksigapan pemerintah
menyelenggarakan UN kali ini dapat menyebabkan kebocoran soal yang luar biasa.
Penyelenggaraan UN tahun ini diwarnai debat pemerintah dengan pihak percetakan.
Semerawut pelaksanaan UN tahun ini malah menambah angka siswa stress akan
pelaksanaan UN, sehingga ada beberapa pihak yang malah setuju jika UN
dihapuskan. Padahal berdasarkan pemikiran, UN penting dilaksanakan agar kita
mengetahui kemajuan pendidikan di negara Indonesia.
Tragedi-tragedi
pahit dalam penyelenggaraan UN selalu terjadi tiap tahunnya. Mulai dari stress
tadi, pendistribusian yang tidak maksimal, hingga kebocoran soal menjadi goresan
tinta dalam penyelenggaraan UN di Indonesia. Dari tahun ke tahun, tragedi
tersebut muncul hingga terdengar ke telinga publik. Kesalahan-kesalahan seperti
ini seharusnya bisa menjadi koreksi dalam penyelenggaraan UN selanjutnya. Bukan
malah saling menyalahkan antar
penyelenggara. UN ini menjadi tanggungjawab semua pihak yang telibat. Tidak
hanya pihak penyelenggara dan percetakan yang bertanggungjawab, melainkan lapisan
masyarakat juga. Masyarakat juga bisa berpartisipasi dengan melaporkan kepada
pihak terkait, jika mendengar kebocoran soal UN. Selain itu, siswa juga tidak
boleh tergiur dengan hal semacam kunci jawaban yang beredar, karena bisa
mengganggu konsentrasi dalam menghadapi UN.
Hadafi
Farisa Romadlon





0 komentar: