Review Kopilimo, Sebuah Kafe di Kecamatan Patuk

Desember 29, 2017 Hadafi 1 Comments





Singkong goreng dan Kopi Limo di Kopilimo


Kebanyakan millenial terlalu over exposed dengan gawai. Bahkan, istilah gawai mungkin malah tidak dikenalnya. Mereka lebih popular menggunakan kata gadget dalam kamus perbincangan sehari-hari. Bak rukun utama, gawai menemani lebih dari setengah aktivitas harian. Sambungannya, instagram, siapa sih yang tidak mengenalnya?

Sekarang, mencari spot foto untuk posting di Instagram menjadi kepentingan mendesak. Terkadang lebih penting daripada pemenuhan kebutuhan fisiologis menurut Maslow, makan. Jeprat-jepret beberapa kali hingga mendapat sudut yang pas, baru makan. Untuk itulah tempat makan atau kafe perlu me-make-over desain mereka menyesuaikan permintaan pasar. Tapi tergantung segmentasi juga sih.

Kali ini, aku mau ngereview salah satu kafe yang ada di Patuk. Tulisan ini murni pendapatku sendiri, jika kamu ingin memastikannya bisa datang langsung ke tempatnya. Namanya Kopilimo, setahuku diambil dari nama salah satu jenis kopi, Kopi Limo. Kopilimo terletak di Sumber Tetes, Patuk, Patuk, Gunungkidul, DIY. Kamu bisa ambil kiri (kalau dari Jogja) di Perempatan Polsek Patuk, lurus ikuti jalan sejauh 2 km-an.
Salah satu sudut di Kopilimo
Pertama kali menginjakkan kaki di kafe ini, suasana desa tak asing lagi. Tempatnya lumayan sepi. Memang, jalan penghubung Patuk-Ngoro-oro tak seramai siang hari, maklum sepanjang jalan itu minim pencahayaan. Apa hubungannya? Kalau ke Kopilimo lewat situ. Di Kopilimo, pengunjung bisa mendengar suara jangkrik atau hewan malam semacamnya. Kondisi sini dingin, pengunjung kusarankan memakai jaket atau sweater. Btw, di sini tak hanya menawarkan tempat nongkrong, melaikan homestay juga. Jadi bisa menginap juga,

Menyusuri tiap sudut Kopilimo, kita disuguhi berderet hunian. Desainnya sih semacam perumahan gitu, itu homestaynya. Ada juga beberapa lampu warna-warni di sudut-sudut, menambah romantis suasananya. Untuk kumpul, ada omah bambu yang terkesan sangat artistik dan nyaman. Pengunjung juga dimanjakan dengan internet gratis, kebutuhan primer manusia masa kini. Tapi jangan lupa tanyakan password dan username ke penjaganya ya.
Cuplikan dinding omah bambu
Aku berkesempatan memakai omah bambu, sekalian untuk rapat FMKP. Sayangnya, ketika kami sampai, sudut itu agak kotor. Temanku sempat mengambil sapu untuk membersihkannya. Sebenarnya, konsep omah bambu bagus dengan ornamen bambu yang apik. Sumpah apik. Ditambah lagi posisinya yang di atas membuat angin semakin sepoi menerpa tubuh. To be honest, aku kurang suka dengan lantai yang terkesan rapuh (kalo diinjak bunyi). Mungkin memang kuat sebenarnya, tapi untuk orang yang takut ketinggian, pasti lantai omah bambu membuat tak nyaman. Selebihnya asyik sih dengan sudut ini, luas, dan ada LCDnya. Gak tahu kalau proyektor. Cocok untuk meeting.
Rapat FMKP di Kopilimo
Untuk urusan makanan dan minuman, Kopilimo menyajikan menu khas desa. Bagi mereka yang kangen dengan singkong goreng, tempe mendoan, atau pisang goreng wajib mencoba berkunjung di kafe ini. Pengunjung bisa mencoba Kopi Limo sebagai minuman andalan kafe ini, harganya 7k. Namun, aku tak mencicipi Kopi Limo karena memang tidak suka kopi. Maaf ya. Aku hanya mencicipi singkong goreng seharga 10k. Enak sih, bumbu pas, tapi kurang krispi menurutku, lebih enak singkong di tempat lain. Hehe. Selebihnya silakan coba sendiri. Urusan menu, pokoknya bervariasi, mulai dari aneka jus, indomie, nasi goreng, dll. Sayangnya, aku harus menunggu sedikit lama dari memesan hingga pesanan diantarkan. Beberapa menu pun juga tidak selalu ready. Ingat, harganya belum termasuk PPN ya. 
Menu di Kopilimo
Di tengah rapat, seorang pria dengan tinggi kurang dari tinggiku, sepertinya, datang menghampiri. Dia memakai kaos hitam dan celana coklat. Katanya sih pemilik kafe, Mas Tegar namanya. Kalau gak salah ya. Dia menyapa kami. Sempat juga menceritakan overview Kopilimo. Dia juga menyampaikan harapan pembangunan Kopilimo, semoga Patuk bisa dikenal di kancah lebih luas. “Semoga masyarakat bisa kenal keunikan Patuk,” jelasnya.

Kesimpulannya, Kopilimo cocok bagi kamu yang rindu akan suasana sepi dan nyaman di desa. Cocok juga untuk kumpul atau rapat karena kondisinya tak banyak distraksi. Bagi yang ingin wisata kuliner, agaknya harus berpikir ulang, kecuali, kamu pecinta kopi yang memang pengen mencicipi kenikmatan Kopi Limo saja, itu cocok juga. Sekian ulasanku, semoga bermanfaat.

1 komentar: