Punya Mimpi Keluar Negeri? Bikin Paspor Dulu Aja!
![]() |
| Lobby depan Kantor Imigrasi Kelas 1 Yk |
Beberapa bulan yang lalu, ibuku
menawarkan diri untuk membelikanku sesuatu. “Fi, arep tuku opo? Klambi? Batik?
Po opo?” Ujarnya. “Entuk ra buk nek aku gawe paspor wae?” Pintaku. “Yowes.” Im
deal with it. I think that it was better. Someday, I must go flight around the
world. Must do it.
Next step, aku tanya temenku yang
pernah bikin paspor. Ternyata, sekarang harus login ke laman online imigrasi
untuk mengambil nomor antrian. Semacam bikin account gitu pokoknya. Lalu, aku
urus itu, memastikan waktu yang tepat buat membuat paspor.
Pagi, Kamis, 14 Desember aku
mulai deg-degan. Bersamaan dengan ujian Reksel yang Alhamdulillah lanjay, aku
mempersiapkan hari ini dengan rapi. Kupakai kemeja pink yang well banget
menurutku untuk ngurus paspor. Aku mendapat jadwal antrian sehabis istirahat
siang.
Pertama melangkahkan kaki ke
Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, samping Bandara Adisucipto, aku sempat
kaget. Ternyata ramai sekali. Orang-orang berburu nomor antrian terkecil. Apa
boleh buat, aku santai-santai saja ngantri. Masih ingat, aku mendapat nomor
antrian 171, menunggu sekitar 1,5 jam untuk wawancara dan foto. Masuk loket wawancara dan foto nomor 3.
Aku berpikir prosedur bikin
paspor ribet. Tapi ternyata sangat gampang, cuma ya kudu sabar buat antri.
Pertama ambil antrian online. Datang pas hari yang disepakati. Ambil antrian.
Nunggu. Dipanggil wawancara dan foto, btw ini formalitas banget (wawancara cuma
ditanya mau kemana kok bikin paspor? Udah gitu aja). Habis itu bayar ke kantor
pos atau bank. Lima hari kemudian ambil di tempat yang sama. Jadi deh.
Simpel kan?
Sempat aku mengamati suasana di
Kantor Imigrasi. Seperti biasa, semua sibuk dengan gadget. Ada anak-anak yang
berlarian. Mungkin dia lagi dibikinin paspor sama ayahnya. Ada juga
nenek-kakek, mungkin mereka ngurus buat naik haji. Ada makanan dan minum gratis. Wifi gratis dengan username Jogjakarta dan password yang kulupa. Ada akuarium gede. Ada juga tempat bermain balita. Petugas imigrasi pun tak lelah meski
harus menjawab pertanyaan yang sama ke sekian ratus ribu orang. Tiap hari. “Mbak ini
gimana ya antrinya? Mbak bedanya paspor 48 sama 24 apa? Apa yang perlu dibawa
mbak? Dst.”
Oiya, biar infonya sedikit
bermanfaat, syarat yang dibawa saat mau bikin paspor tuh ada 3. Pertama KTP.
Lalu KK. Ketiga Akta Kelahiran. Ketiga berkas itu harus asli, dan kita juga
perlu memfotokopi rangkap 1 untuk dikumpulkan. Udah cuma itu aja.
![]() |
| Map Berkas dari Imigrasi |
Lanjut ke ceritaku. Nah, saat wawancara
aku ditanya perihal keperluanku bikin paspor. Aku sebenarnya bingung mau jawab
apa. Honestly, aku bikin paspor kali aja ntar perlu. Selain itu, semoga bisa
memacu aku untuk belajar bahasa Inggris. Yaudah, saat ditanya demikian, aku
jawab mau ke Ausie mbak, kuliah. Seketika aku tersadar mimpiku di awal semester
kuliah. Ya, lanjut ke Monash University untuk S2. Wish that it comes true.
Pertanyaan yang sama juga diajuin petugas pos saat aku bayar biaya paspor. Aku jawab dengan jawaban yang
sama tapi lebih yakin daripada ketika menjawab pertama kali. Ya, aku jadi yakin.
Terimakasih ibu telah merelakan
355k nya untuk bikin pasporku. Semoga sebelum masa kadaluarsanya di tahun
2022, aku bisa menginjakkan kaki ke Negara lain. Dan aku yakin itu bakal
terjadi. Bikin paspor bukan berarti kamu mau ke luar negeri, tapi kamu pasti
keluar negeri.
![]() |
| Pasporku jadi |








Bedanya apa mas yg 48 dan 24?
BalasHapusKalau 48 seluruh dunia. Kalau 24 cuma Asia. Kata petugasnya gitu.
BalasHapusOwalahh.. btw itu paspornya udh ada chipnya blm mas?
HapusPaspor atau goodtime tuh ada choco chipnya. Wkkw. Kurang tahu aku
HapusHaduhh mas.. chips itu lho mas. Keping yg fungsinya kek barcode. Trs nanti klo petugasnya mau ngecek tinggal discan (tempelin) aja, gak perlu dicap. Ada gak mas?
Hapus