Punya Mimpi Keluar Negeri? Bikin Paspor Dulu Aja!

Desember 21, 2017 Hadafi 5 Comments

Lobby depan Kantor Imigrasi Kelas 1 Yk

Beberapa bulan yang lalu, ibuku menawarkan diri untuk membelikanku sesuatu. “Fi, arep tuku opo? Klambi? Batik? Po opo?” Ujarnya. “Entuk ra buk nek aku gawe paspor wae?” Pintaku. “Yowes.” Im deal with it. I think that it was better. Someday, I must go flight around the world. Must do it.
Next step, aku tanya temenku yang pernah bikin paspor. Ternyata, sekarang harus login ke laman online imigrasi untuk mengambil nomor antrian. Semacam bikin account gitu pokoknya. Lalu, aku urus itu, memastikan waktu yang tepat buat membuat paspor.
Pagi, Kamis, 14 Desember aku mulai deg-degan. Bersamaan dengan ujian Reksel yang Alhamdulillah lanjay, aku mempersiapkan hari ini dengan rapi. Kupakai kemeja pink yang well banget menurutku untuk ngurus paspor. Aku mendapat jadwal antrian sehabis istirahat siang.
Pertama melangkahkan kaki ke Kantor Imigrasi Kelas 1 Yogyakarta, samping Bandara Adisucipto, aku sempat kaget. Ternyata ramai sekali. Orang-orang berburu nomor antrian terkecil. Apa boleh buat, aku santai-santai saja ngantri. Masih ingat, aku mendapat nomor antrian 171, menunggu sekitar 1,5 jam untuk wawancara dan foto. Masuk loket wawancara dan foto nomor 3. 
Aku berpikir prosedur bikin paspor ribet. Tapi ternyata sangat gampang, cuma ya kudu sabar buat antri. Pertama ambil antrian online. Datang pas hari yang disepakati. Ambil antrian. Nunggu. Dipanggil wawancara dan foto, btw ini formalitas banget (wawancara cuma ditanya mau kemana kok bikin paspor? Udah gitu aja). Habis itu bayar ke kantor pos atau bank. Lima hari kemudian ambil di tempat yang sama. Jadi deh. Simpel kan?
Sempat aku mengamati suasana di Kantor Imigrasi. Seperti biasa, semua sibuk dengan gadget. Ada anak-anak yang berlarian. Mungkin dia lagi dibikinin paspor sama ayahnya. Ada juga nenek-kakek, mungkin mereka ngurus buat naik haji. Ada makanan dan minum gratis. Wifi gratis dengan username Jogjakarta dan password yang kulupa. Ada akuarium gede. Ada juga tempat bermain balita. Petugas imigrasi pun tak lelah meski harus menjawab pertanyaan yang sama ke sekian ratus ribu orang. Tiap hari. “Mbak ini gimana ya antrinya? Mbak bedanya paspor 48 sama 24 apa? Apa yang perlu dibawa mbak? Dst.”
Oiya, biar infonya sedikit bermanfaat, syarat yang dibawa saat mau bikin paspor tuh ada 3. Pertama KTP. Lalu KK. Ketiga Akta Kelahiran. Ketiga berkas itu harus asli, dan kita juga perlu memfotokopi rangkap 1 untuk dikumpulkan. Udah cuma itu aja.
Map Berkas dari Imigrasi

Lanjut ke ceritaku. Nah, saat wawancara aku ditanya perihal keperluanku bikin paspor. Aku sebenarnya bingung mau jawab apa. Honestly, aku bikin paspor kali aja ntar perlu. Selain itu, semoga bisa memacu aku untuk belajar bahasa Inggris. Yaudah, saat ditanya demikian, aku jawab mau ke Ausie mbak, kuliah. Seketika aku tersadar mimpiku di awal semester kuliah. Ya, lanjut ke Monash University untuk S2. Wish that it comes true. Pertanyaan yang sama juga diajuin petugas pos saat aku bayar biaya paspor. Aku jawab dengan jawaban yang sama tapi lebih yakin daripada ketika menjawab pertama kali. Ya, aku jadi yakin.
Terimakasih ibu telah merelakan 355k nya untuk bikin pasporku. Semoga sebelum masa kadaluarsanya di tahun 2022, aku bisa menginjakkan kaki ke Negara lain. Dan aku yakin itu bakal terjadi. Bikin paspor bukan berarti kamu mau ke luar negeri, tapi kamu pasti keluar negeri.
Pasporku jadi



5 komentar:

  1. Kalau 48 seluruh dunia. Kalau 24 cuma Asia. Kata petugasnya gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owalahh.. btw itu paspornya udh ada chipnya blm mas?

      Hapus
    2. Paspor atau goodtime tuh ada choco chipnya. Wkkw. Kurang tahu aku

      Hapus
    3. Haduhh mas.. chips itu lho mas. Keping yg fungsinya kek barcode. Trs nanti klo petugasnya mau ngecek tinggal discan (tempelin) aja, gak perlu dicap. Ada gak mas?

      Hapus